Jejak 2 Pesantren Terkenal di Blitar, Salah Satu Punya Sejarah Perlawanan Melawan Penjajahan Belanda

Ringkasan Berita:

  • Kabupaten Blitar memiliki dua pondok pesantren terkenal yang memainkan peran penting dalam sejarah Islam.
  • Pesantren Nurul Huda yang didirikan sekitar pertengahan abad ke-18 menjadi pusat awal penyebaran agama Islam di Blitar dan memiliki jejak sejarah yang kuat terkait Perang Jawa.
  • Berikut adalah informasi lengkap mengenai Pondok Pesantren

https://mediahariini.com| BLITAR –Berikut adalah jejak Pondok Pesantren yang terkenal di Blitar.

Kabupaten Blitar memiliki jejak sejarah panjang terkait perjuangan agama Islam serta perlawanan terhadap penjajah Belanda.

Terdapat dua pondok pesantren tua di kawasan ini yang hingga saat ini masih terkenal dan memainkan peran penting dalam penyebaran agama Islam.

Dua lembaga pendidikan agama tersebut adalah Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum serta Pondok Pesantren Nurul Huda.

Berikut adalah profil lengkap 2 pondok pesantren tua di Kabupaten Blitar:

1. Pesantren Nurul Huda

Pondok Pesantren Nurul Huda yang berada di Desa Kuningan, Kecamatan Kanigoro, Kabupaten Blitar, dianggap sebagai awal mula penyebaran agama Islam di wilayah Blitar.

Pesantren ini menyimpan banyak jejak sejarah yang masih terjaga hingga saat ini. Bangunan masjid tua, makam para ulama, kolam, serta rumah-rumah kuno masih berdiri tegak dan mempertahankan ciri khas arsitekturnya.

Pondok Pesantren Nurul Huda diduga berdiri di pertengahan abad ke-19 dan didirikan oleh Syekh Abu Hasan, seorang tokoh agama yang memiliki hubungan kekerabatan dengan Pangeran Diponegoro.

Menurut Hasan Bisri, generasi keempat Syekh Abu Hasan, pesantren ini pernah menjadi tempat berlindung bagi 158 tentara Pangeran Diponegoro yang kabur saat Perang Jawa sedang berlangsung.

Di lingkungan pesantren terdapat sebuah kolam yang dahulu digunakan oleh para ulama untuk membersihkan diri sebelum melakukan ibadah di masjid.

Kolam ini memiliki makna sejarah yang sangat penting karena dianggap pernah digunakan oleh Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Hubungan antara Syekh Abu Hasan dan KH Hasyim Asy’ari juga tercatat sebagai hubungan antara guru dan murid.

Menariknya, kolam dan masjid Nurul Huda dihubungkan oleh 99 jalur batu, yang menggambarkan Asmaul Husna. Lokasinya tidak jauh dari sungai dan berjarak sekitar 50 meter dari masjid, memperkuat kesan suci dan spiritual di kawasan pesantren tersebut.

Sampai saat ini, Pondok Pesantren Nurul Huda tetap menjadi tempat kunjungan keagamaan.

Beberapa pengunjung datang dari berbagai wilayah guna menikmati ketenangan sekaligus memahami nilai sejarah yang terdapat di dalamnya.

Dua pesantren tua di Blitar ini menjadi saksi bagaimana Islam, pendidikan, serta perjuangan melawan penjajahan berjalan bersamaan.

Sampai saat ini, nilai-nilai yang diturunkan oleh para ulama masih tetap hidup dan penting dalam membentuk generasi yang memiliki ilmu, akhlak, serta semangat kebangsaan.

2. Pesantren Nabawi Maftahul Ulum

Keberadaan pondok pesantren di Nusantara sejak dahulu tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga menjadi pusat perlawanan budaya dan spiritual terhadap penjajah.

Dari lingkungan pesantren muncul para ulama, tokoh nasional, dan pejuang yang menjaga ajaran Islam Ahlussunnah wal Jamaah serta mempertahankan jati diri bangsa.

Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum merupakan salah satu contoh lembaga yang melanjutkan misi tersebut.

Meskipun secara administratif didirikan pada 31 Januari 2018 atau bertepatan dengan 14 Jumadil Awal 1439 Hijriah, pesantren ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari perjuangan dakwah yang telah dimulai sejak generasi sebelumnya.

Pesantren ini didirikan oleh Ustadz Abul Fatih Zakaria bersama istrinya, Ustadzah Azizatul Lailiah, sebagai upaya untuk melanjutkan tanggung jawab dakwah yang pernah diumumkan oleh kakek buyutnya, Syekh KH Imam Bukhori.

Dalam jangka waktu yang cukup singkat, Pesantren Nabawi Maftahul Ulum mampu meraih kepercayaan yang luas dari masyarakat.

Jumlah peserta didik terus meningkat dan kini mencapai sekitar 600 orang.

Pondok pesantren ini sering menerima kunjungan dari tokoh-tokoh dalam maupun luar negeri, menunjukkan bahwa eksistensinya semakin diakui.

Sebagai institusi pendidikan berbasis Islam, Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum menyelenggarakan berbagai tingkat pendidikan, mulai dari SMP dan SMA, madrasah diniyah, hingga madrasah tahfiz Al-Qur’an.

Meskipun masih memiliki keterbatasan sarana, pondok pesantren ini tetap berhasil menghasilkan prestasi, baik di bidang keagamaan maupun non-akademik.

Program andalan pesantren ini menekankan penguasaan ilmu alat seperti nahwu dan sharaf dengan menggunakan metode Al-Muyasar agar santri dapat membaca kitab kuning secara cepat dan sederhana.

Selain itu, program tahfiz Al-Qur’an menjadi fondasi utama dalam menciptakan generasi Qurani yang berakhlak dan berpengetahuan. Pondok pesantren ini juga memberikan pelatihan pencak silat kepada santri sebagai upaya memperkuat mental, keberanian, serta menjaga warisan budaya bangsa.

Di kehidupan sehari-hari, santri terbiasa melaksanakan tradisi Ahlussunnah wal Jamaah seperti maulid, ziarah kubur, dan kunjungan ke makam wali.

Prinsip-prinsip ini menjadi dasar yang sangat penting agar para santri mampu menghadapi tantangan global tanpa kehilangan identitas keislaman dan kebangsaan. Melalui berbagai kegiatan dakwah sosial, Pondok Pesantren Nabawi Maftahul Ulum terus berupaya menyebarkan Islam yang moderat, ramah, dan sesuai dengan kondisi masyarakat.

 

Peroleh informasi tambahan di Googlenews, klik: Tribun Mataraman

(https://mediahariini.com)

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *