– Berikut ini jadwal film bioskop baru atau perdana tayang di TV spesial liburan Tahun Baru 2026 di SCTV, Trans7, Trans TV, ANTV, RCTI hingga Indosiar.
Ada beberapa film bioskop baru akan tayang di TV mulai Ancika hingga F9:The Fast Saga.
Ini merupakan pilihan sempurna bagi Anda yang ingin menghabiskan waktu berkualitas bersama keluarga di rumah.
SCTV
- Selasa, 30 Desember 2025
23.00 WIB : Kapal Goyang Kapten
- Kamis, 1 Januari 2026
01.00 WIB : Serigala Terakhir
12.30 WIB : Azzamine
14.30 WIB : Modal Nekad
- Minggu, 4 Januari 2026
23.00 WIB : Pertaruhan
Trans 7
- Selasa, 30 Desember 2025
11.15 WIB: Dear Nathan
13.00 WIB: Milly & Mamet
22.45 WIB: Aku Tahu Kapan Kamu Mati 2
- Rabu, 31 Desember 2025
11.15 WIB: Argantara
13.30 WIB: Dear Nathan: Hello Salma
19.30 WIB: Ipar Adalah Maut
22.00 WIB: Badarawuhi di Desa Penari
- Kamis, 1 Januari 2026
09.30 WIB: Laut Tengah
11.30 WIB: Ancika
13.30 WIB: Layangan Putus
15.30 WIB: Sekawan Limo
18.00 WIB: Exhuma
22.45 WIB: Do You See What I See
- Jumat, 2 Januari 2026
22.00 WIB: Ronggeng Kematian
- Minggu, 4 Januari 2026
22.45 WIB: Pengabdi Setan 2: Communion
Trans TV
- Selasa, 30 Desember 2025
20.00 WIB: F9:The Fast Saga
- Rabu, 31 Desember 2025
20.00 WIB: Fast X
ANTV
- Rabu, 31 Desember 2025
21.30 WIB: Pathaan
- Kamis, 1 Januari 2025
21.30WIB: Jawan
RCTI
- Rabu, 31 Desember 2025
22.00 WIB: Munkar
Indosiar
- Jumat 2 Januari 2026
23.00 WIB: A Legend
Liburan Akhir Tahun Tanpa FOMO, Begini Cara Menyiasatinya Menurut Pakar
Momen liburan akhir tahun menjadi waktu yang paling dinanti oleh banyak orang.
Liburan hadir sebagai angin segar untuk menyegarkan pikiran.
Namun, di balik euforia tersebut, gempuran diskon akhir tahun dan tren media sosial kerap memicu perilaku konsumtif atau Fear of Missing Out (FOMO).
Jebakan Diskon dan Ilusi Berhemat
Menanggapi fenomena tersebut, Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Universitas Airlangga (UNAIR), Prof Dr Rudi Purwono SE MSE memberikan pandangan dan tips agar tetap sehat secara finansial, meski sedang menikmati liburan.
Rudi menyoroti bahwa perilaku boros saat liburan seringkali dipengaruhi oleh faktor psikologis, bukan semata karena rendahnya literasi keuangan.
Menurutnya, diskon sering menciptakan “ilusi berhemat”, yang justru mendorong pembelian barang secara spontan tanpa manfaat yang jelas.
Terlebih di era digital, tekanan sosial untuk memamerkan kebahagiaan liburan di media sosial membuat keputusan konsumsi menjadi tidak rasional.
“Pengeluaran lebih didorong oleh keinginan sesaat dibandingkan pertimbangan rasional terutama berkaitan dengan kebutuhan,” jelasnya, Rabu (24/12/2025).
Agar tidak mengalami krisis keuangan pasca-liburan, ia menyarankan untuk melakukan penganggaran (budgeting) yang disiplin.
Ia merekomendasikan sebuah rumus sederhana dalam mengelola uang saku.
“Salah satu pendekatan sederhana adalah mengalokasikan maksimal 20-30 persen uang saku bulanan untuk kebutuhan hiburan dan leisure selama liburan,” ungkapnya.
Sementara sisanya, harus tetap diprioritaskan untuk kebutuhan rutin dan tabungan. Batasan ini berfungsi sebagai “pagar psikologis,” agar tidak terbuai oleh potongan harga yang fantastis.
Hindari berutang demi gengsi
Dengan maraknya penggunaan fitur Buy Now Pay Later (paylater) di kalangan masyarakat, ia menegaskan bahwa paylater sejatinya adalah utang jangka pendek yang berisiko membebani masa depan dengan bunga atau denda tinggi.
Ia berpesan agar tidak menggunakan fasilitas utang hanya demi gengsi atau mengikuti tren liburan.
“Penting bagi masyarakat untuk menerapkan mindset jika belum memiliki pendapatan tetap, maka prinsipnya sederhana: jangan membiayai gaya hidup dengan utang,” tegasnya.
Ia mengingatkan bahwa esensi liburan adalah untuk mengisi ulang energi (recharge), bukan sekadar bepergian jauh atau ke tempat mahal.
Meskipun anggaran terbatas, tapi tetap bisa menikmati liburan berkualitas dengan melakukan hobi, berkumpul dengan keluarga, atau kegiatan yang meningkatkan kapasitas diri.
Ia juga menuturkan, pentingnya kesiapan finansial untuk menghadapi semester baru.
Jangan sampai kondisi “kantong kering” pasca-liburan justru mengganggu fokus belajar.
“Pada akhirnya, kebebasan finansial bukan soal seberapa besar uang yang dimiliki, melainkan seberapa bijak kita menggunakannya,” pungkasnya.
()







