.CO.ID,BANDA ACEH— Relawan aparatur sipil negara (ASN) atau non ASN di lingkungan Pemerintah Aceh yang berangkat membersihkan fasilitas publik di Kabupaten Aceh Tamiang tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Aceh (APBA) kata pejabat setempat.
“Setiap personel ASN/P3K/Non-ASN yang menjadi relawan bencana banjir dan longsor ke Aceh Tamiang tidak menggunakan biaya perjalanan dinas APBA,” kata Juru bicara Pos Komando (Posko) Penanganan Banjir dan Longsor Aceh, Murthalamuddin di Banda Aceh, Sabtu (3/1/2025).
Ia menjelaskan kehadiran ribuan ASN/P3K/Non-ASN di lingkungan Pemerintah Aceh ke daerah terdampak bencana ke Aceh Tamiang khususnya merupakan bagian dari aksi kemanusiaan di daerah terdampak bencana.“Kehadiran mereka di sana untuk membersihkan fasilitas publik seperti tempat ibadah dan akan berangkat lagi untuk membersihkan sekolah-sekolah,”kata dia.
Untuk memastikan para ASN tidak menggunakan anggaran perjalanan dinas, Sekda Aceh juga telah memberikan arahan kepada setiap pejabat struktural, pejabat fungsional, dan setiap personil ASN/P3K/Non-ASN yang menjadi relawan bencana banjir dan longsor tidak menggunakan biaya perjalanan dinas APBA instansi.
“Imbauan ini jelas menyatakan bahwa mereka yang hari ini digerakkan membersihkan sarana publik merupakan bagian dari kegiatan bakti sosial,”kata dia.
Pemerintah Aceh kembali mengirimkan sebanyak 4.000 relawan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan pemerintah setempat untuk bakti sosial tahap kedua ke sekolah-sekolah terdampak bencana banjir bandang dan tanah longsor di Aceh.
Pada 29-30 Desember 2025, pemerintah Aceh juga telah mengirimkan relawan ASN tahapan pertama sebanyak 3.000 orang untuk melakukan bakti sosial membantu membersihkan fasilitas umum yang terdampak banjir di Aceh.
Kantor Staf Presiden (KSP) menyalurkan pompa apung untuk membersihkan rumah dan fasilitas umum warga terdampak banjir di Kabupaten Pidie dan Pidie Jaya, Aceh, Sabtu (3/1/2025).
Sebagaimana keterangan yang diterima, Ahad (4/1/2025), penyaluran tersebut dilakukan bersamaan dengan kegiatan pembersihan permukiman warga bersama aparat TNI dan Polri. Tenaga Ahli Utama Kedeputian III KSP, Iwan Eka mengatakan kehadiran pihaknya di Aceh bertujuan memastikan bantuan benar-benar memberikan manfaat langsung bagi warga terdampak.
“Bantuan dari keluarga besar KSP sebelumnya tiba di Bandara Sultan Iskandar Muda, Aceh Besar, dan hari ini kami pastikan langsung bergerak ke lokasi-lokasi terdampak di Pidie dan Pidie Jaya,” ujarnya.
Iwan Eka menjelaskan KSP mengirimkan 10 unit pompa apung, dengan 7 unit telah tiba dan langsung digunakan, sementara sisanya masih dalam proses pengiriman.
Menurutnya, genangan air, lumpur yang menumpuk, serta keterbatasan kebutuhan dasar, terutama bagi bayi dan anak-anak, merupakan persoalan paling mendesak yang dihadapi warga pascabencana.
“Pompa apung ini kami pilih karena portabel, adaptif, dan efektif menjangkau kawasan permukiman padat yang tidak dapat diakses alat berat. Ini bukan simbol bantuan, tetapi alat kerja yang langsung digunakan untuk membantu warga agar rumah mereka lebih cepat kering dan bisa kembali ditempati,” ucapnya.
Alat tersebut digunakan untuk menyedot genangan air, membilas lumpur, serta mempercepat pengeringan rumah dan fasilitas umum.
Di Gampong Lamkawe, Kembang Tanjong, Kabupaten Pidie, pompa apung digunakan untuk membersihkan lapangan dan fasilitas olahraga yang tertutup lumpur. Area publik ini diprioritaskan agar dapat kembali digunakan warga sebagai ruang aktivitas bersama.
Sementara di Gampong Tiba Mesjid, Mutiara Timur, Kabupaten Pidie, pembersihan difokuskan pada rumah-rumah warga dengan menyedot genangan dan membilas lumpur yang mengendap di kawasan permukiman.
Kegiatan serupa juga dilakukan di Gampong Dayah Usen, Kecamatan Meurah Dua, Kabupaten Pidie Jaya, yang selama ini menjadi salah satu wilayah paling lambat pulih pascabanjir.







