Herbal 1927, Vihara 1650, dan Es Legendaris: Jelajah Warna-warni China Town Jakarta

Perjalanan ke China Town Pancoran: Pengalaman yang Penuh Warna dan Cerita

Hari Kamis, 11 Desember 2025, matahari sedang ramah-ramahnya ketika saya, istri, dan anak kedua memulai perjalanan menuju Jakarta. Kami bertiga sudah kompak sejak pagi: niatnya jalan-jalan, hasilnya tergantung keadaan lapangan. Tapi biasanya kalau sudah bertiga begini, selalu saja ada cerita lucu yang pulang-pulang membuat kami senyum-senyum sendiri.

Tujuan kali ini: China Town Pancoran, Glodok. Tempat yang sejak dulu terkenal sebagai kawasan budaya Tionghoa, pusat kuliner, sekaligus museum berjalan yang isinya sejarah, aroma harum, dan nostalgia.

Petualangan Dimulai dari LRT Bogor – Jakarta Kota

LRT pagi itu penuh suasana semangat warga yang mau ke Jakarta: ada yang kerja, ada yang sekolah, dan ada kami bertiga, rombongan wisatawan lokal yang bawa rasa penasaran lebih besar dari bekal sarapan. Istri saya duduk di dekat jendela sambil berkata,

“Kalau sudah sampai Stasiun Kota, pasti rame banget ya.”

Anak kedua langsung menimpali, “Rame nggak apa-apa, yang penting makanannya enak!”

Saya hanya tertawa. Sudah bisa ditebak arah pembicaraan: perjalanan kami biasanya dimulai dengan sejarah, tapi berakhir di kuliner.

Turun di Stasiun Kota: Suasana Lama yang Nggak Pernah Bosenin

Begitu pintu kereta terbuka, suara Stasiun Jakarta Kota langsung menyapa kami: suara sepatu berlarian, pengumuman yang nadanya selalu terdengar seperti mantan yang formal sekali, dan suara pedagang kecil menawarkan minuman dingin. Seolah-olah stasiun ini punya nadi sendiri, denyut hidupnya terasa bahkan sebelum kita melangkah keluar.

Saat keluar menuju pintu utama, kami melihat bangunan Batavia lama dengan cat putih yang lapuk tapi gagah. Anak saya berkomentar,

“Pa, ini kaya setting film zaman VOC ya.”

Saya jawab, “Betul… tapi yang ini lebih macet.”

Istri saya menggendong tas kecilnya dan berkata,

“Ayo, jalan kaki ke Pancoran. Biar kerasa vibes China Town-nya.”

Setuju. Karena perjalanan kaki dari stasiun ke kawasan Pancoran itu justru yang paling seru.

Jalan Kaki Menuju China Town: Perjalanan Pendek Penuh Cerita

Langkah demi langkah, kami menyusuri trotoar yang kini jauh lebih rapi. Di satu sisi terlihat gedung-gedung tua, sementara sisi lainnya dipenuhi toko elektronik, kios obat herbal, tukang soto, dan pedagang aksesoris yang suaranya tak pernah kehabisan tenaga.

Ada toko es legendaris yang katanya sudah ada sejak zaman kakek-kakek kita masih pakai pomade. Aromanya manis, segar, membuat kami reflek menoleh. Lalu ada tukang cukur dengan kursi besi tua warna merah, tampilan jadul yang kalau difoto bisa langsung masuk kalender nostalgia tahun baru.

Yang membuat perjalanan makin berkesan adalah papan nama-papan nama toko yang memajang tahun pendirian: “Sejak 1927”, “Dari 1934”, “Berdiri Sejak 1948”. Saya sempat bergurau ke istri,

“Nih toko aja sudah ada sebelum negara kita merdeka… sementara saya masih berjuang merdeka dari kolesterol.”

Istri saya cuma menyengir sambil lanjut foto.

Memasuki Kawasan China Town Pancoran: Warna Merah Menyambut

Begitu sampai di gerbang China Town, suasana langsung berubah jadi penuh warna. Lampion merah tergantung di atas kepala, bendera-bendera kecil melambai, dan para pedagang makanan memenuhi sisi kiri-kanan jalan. Aromanya campur-campur: rempah, mie, herbal, ayam panggang, teh bunga, dan entah apa lagi, tapi semuanya membuat perut auto lapar.

Anak kedua berkomentar,

“Ini sih… surga camilan.”

Kami bertiga mulai menyusuri lorong-lorongnya.

Momen Berkesan: Vihara Tua yang Berdiri Sejak 1650

Salah satu tujuan pertama kami adalah Vihara tua yang dibangun tahun 1650. Begitu melangkah masuk, suasana berubah dari ramai menjadi damai. Cahaya redup, aroma dupa memenuhi ruangan, dan ornamen-ornamen kuno tampak terawat dengan baik.

Saya berdiri cukup lama memperhatikan dinding kayu tua yang tampaknya sudah melihat sejarah lebih panjang dari umur gabungan kami bertiga. Seorang kakek penjaga vihara tersenyum ramah dan berkata,

“Tempat ini sudah melewati banyak zaman, tapi orang yang datang ke sini selalu sama niatnya- mencari ketenangan.”

Kami saling pandang, dan rasanya kalimat itu sederhana tapi kena di hati.

Istri saya tampak khusyuk mengambil foto detail arsitekturnya, sementara anak saya berbisik,

“Pa, tempat ini adem ya…”

Adem hati, adem pikiran.

Gereja Tua Cagar Budaya: Harmoni di Tengah Riuhnya Kota

Tak jauh dari vihara, sebuah gereja tua yang termasuk cagar budaya berdiri elegan. Arsitektur kolonialnya kokoh, dengan jendela besar dan warna yang menenangkan. Di tengah kawasan yang penuh lampion dan aroma masakan, keberadaan gereja ini seperti simbol harmoni yang sudah berlangsung ratusan tahun.

Kami sempat duduk sebentar di depannya. Ada rasa syukur yang muncul begitu saja: tiga tempat ibadah beda-beda berdiri berdampingan dan hidup berdampingan dengan damai.

Interaksi dengan Orang Lokal: Hangat, Jujur, dan Kadang Lucu

Toko obat kuno menjadi salah satu pemberhentian kami. Bapak penjaga tokonya bercerita:

“Ini toko turun-temurun, Mas. Dulu obatnya pahit semua.”

Saya spontan menjawab,

“Berarti ini tokonya cocok buat yang kuat menghadapi kenyataan hidup.”

Beliau tertawa sampai-sampai pelanggan lain ikut senyum.

Di kios makanan, anak kedua kami diberi rekomendasi es kacang merah yang “paling enak sedunia menurut pelanggan tetap sejak 1950.” Kami beli, dan memang… sedapnya otentik sekali.

Aktivitas Seru yang Wajib Dicoba

  • Keliling gang kecil yang penuh mural dan tulisan-tulisan lucu
  • Cicipi es legendaris- wajib demi sejarah dan demi tenggorokan
  • Masuk toko obat kuno dan lihat barang-barang yang tak berubah sejak zaman Belanda
  • Foto hunting lampion
  • Coba jajanan jadul yang resepnya turun-temurun
  • Kunjungi tempat ibadah tua yang menyimpan cerita berabad-abad

Rekomendasi Makan

  • Bakpao freshly steamed
  • Es kacang merah
  • Kue keranjang dan camilan manis lainnya
  • Bubur ayam gaya Tionghoa
  • Dim sum pinggir jalan yang ternyata enak banget

Tips Hemat

  • Naik LRT dari Bogor: cepat & irit
  • Jalan kaki dari Stasiun Kota: sehat dan gratis
  • Bawa air sendiri
  • Cek harga dulu sebelum pesan makanan
  • Tanyakan rekomendasi warga sekitar- mereka tahu yang paling enak dan murah

Perasaan Setelah Pulang

Pulang dari China Town, kaki kami lumayan pegal tapi hati terasa lapang. Ada rasa bahagia karena bisa menikmati hari penuh cerita, ditemani suara lampion yang bergoyang, aroma makanan, dan sejarah yang masih berdiri dengan bangga.

Istri saya bilang,

“Seru banget hari ini.”

Anak kedua mengangguk cepat sambil bilang, “Besok kita kemana lagi, Pa?”

Saya hanya tersenyum, itu pertanyaan yang bagus. Karena jalan-jalan kecil seperti ini ternyata yang membuat hidup terasa menyenangkan.


Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *