Harga minyak turun, konsumer siap bangkit, ini saham pilihan

Pandangan Neutral Maybank Sekuritas Indonesia terhadap Sektor Konsumer

Maybank Sekuritas Indonesia tetap mempertahankan pandangan netral terhadap sektor konsumer di Indonesia. Meskipun ada perbaikan prospek akibat meredanya harga minyak dan potensi penguatan rupiah yang didorong oleh perkembangan kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran.

Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Willy Goutama, menyatakan bahwa penurunan harga minyak dunia berpotensi menurunkan tekanan inflasi berbasis biaya (cost-push inflation) yang berasal dari energi dan nilai tukar. Hal ini akan memberikan dampak positif bagi pendapatan dan valuasi sektor konsumer.

“Re-opening Strait of Hormuz dan normalisasi perdagangan energi global berpotensi menurunkan harga minyak mendekati US$ 60–US$ 80 per barel, yang secara makro akan menurunkan risiko geopolitik dan mendukung rupiah,” tulis Willy dalam risetnya pada 23 Juni 2026.

Meski demikian, Maybank tetap mempertahankan sikap netral pada sektor secara keseluruhan. Dalam riset tersebut, Willy menegaskan preferensi pada saham-saham dengan eksekusi bisnis yang kuat, inovasi aktif, dan efisiensi biaya yang baik.

“Pada titik ini, kami mempertahankan rating Netral untuk sektor konsumer Indonesia dengan top buy ACES, KLBF, INDF,” ujarnya. Sementara itu, saham yang masuk dalam rekomendasi top sell adalah UNVR, LPPF, dan GGRM.

Dampak Penurunan Harga Minyak dan Stabilitas Nilai Tukar

Willy menjelaskan bahwa penurunan harga minyak dan stabilitas nilai tukar berpotensi meningkatkan daya beli masyarakat, terutama kelompok kelas menengah yang sensitif terhadap perubahan harga bahan bakar jenis RON92.

Penurunan tekanan biaya transportasi dinilai dapat meningkatkan basket size belanja konsumen, baik untuk kebutuhan pokok maupun non-pokok.

“Penurunan harga RON92 akan meningkatkan sentimen konsumen dan membuka ruang belanja yang lebih besar untuk produk staples maupun diskresioner,” tulisnya.

Risiko Utama yang Masih Mengancam

Meski prospek sektor konsumer membaik, Maybank menilai risiko utama tetap berasal dari kenaikan harga minyak sawit mentah (CPO) serta pelemahan nilai tukar rupiah, yang dapat kembali menekan biaya produksi dan margin perusahaan.

Valuasi Menarik dan Peluang Re-Rating

Willy juga menyoroti bahwa sektor konsumer Indonesia saat ini diperdagangkan pada valuasi relatif rendah, dengan rasio PER sekitar 8–11 kali, serta masih rendahnya kepemilikan asing di beberapa emiten.

“Kombinasi pertumbuhan laba yang solid, ekspektasi yang sudah konservatif, serta valuasi yang rendah membuka peluang re-rating pada tahun 2026,” ujarnya.

Ia menambahkan, saham-saham pilihan utama Maybank diperkirakan mampu mencatat pertumbuhan laba yang lebih kuat dibandingkan ekspektasi pasar, seiring membaiknya margin dan stabilitas biaya.

Kesimpulan

Secara keseluruhan, Maybank Sekuritas melihat sektor konsumer Indonesia tetap menarik secara selektif, dengan preferensi pada emiten yang memiliki keunggulan eksekusi bisnis, inovasi, dan efisiensi biaya.

“Valuasi yang tertekan akibat ketidakpastian geopolitik justru menciptakan peluang akumulasi pada saham-saham berkualitas,” tutup Willy.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *