Ekspor Cocopeat Lingga Capai 48 Ton, IKM Kelapa Resang Serap 32 Tenaga Kerja Lokal

LINGGA PIKIRAN RAKYAT– Upaya pembangunan industri kelapa di Kabupaten Lingga mulai menunjukkan hasil. Pusat IKM Kelapa yang terletak di Resang kini telah mampu melakukan ekspor cocopeat ke luar negeri dengan jumlah pengiriman mencapai puluhan ton sepanjang akhir 2025.

Plt Kepala Disperindagkop UKM Lingga, Febrizal Taupik, menyatakan bahwa pengiriman pertama cocopeat dilakukan pada 27 November 2025 sebanyak 24 ton, diikuti oleh pengiriman kedua dengan jumlah yang sama pada 15 Desember 2025.

“Cocopeat, kami pertama kali menerima 24 ton pada 27 November dan pada 15 Desember kami mengirim kembali cocopeat sebanyak 24 ton,” kata Febrizal Taupik saat diwawancarai di ruang kerjanya, Rabu (17/12/2025).

Menurutnya, meskipun angka ekspor tersebut belum termasuk besar, tindakan ini menjadi awal yang penting bagi kelangsungan Sentra IKM Kelapa di Resang.

“Alhamdulillah meskipun tidak besar untuk ekspor ini, tetapi ini berjalan, tentu harapan kami ke depan IKM Sentra Kelapa yang berada di Resang terus berjalan,” katanya.

Febrizal menjelaskan, seluruh tahapan pengembangan Sentra IKM Kelapa telah melalui berbagai analisis mendalam. Pemerintah daerah bahkan telah menyelenggarakan pertemuan diskusi bersama kementerian yang relevan serta sejumlah universitas yang bertindak sebagai para ahli.

“Segala penelitian yang telah kita lakukan dan kita telah mengadakan forum diskusi di kementerian serta universitas-universitas yang menjadi ahli terkait Sentra IKM Kelapa,” katanya.

Saat ini, Sentra IKM Kelapa di Resang telah memproduksi dua lini utama, yaitu cocopeat dan coco fiber. Namun, masih ada pekerjaan besar yang sedang dikerjakan oleh pemerintah daerah, khususnya dalam mengembangkan produk turunan lainnya.

“Semoga di masa depan Sentra IKM ini terus berjalan, saat ini Sentra IKM kita memiliki dua unit, yaitu cocopeat dan coco fiber, ada tugas utama yang harus kami lakukan yaitu bagaimana mengaktifkan VCO-nya, minyak kelapa tersebut dan satu lagi bricket,” katanya.

Mengenai bricket, Febrizal mengatakan bahwa produk ini memiliki potensi besar sebagai sumber energi alternatif. Bahkan, bricket dari kelapa berpeluang digunakan sebagai pembangkit listrik skala kecil di daerah tertentu.

“Saya juga sudah berbicara dengan para ahli, bricket ini akan menghasilkan listrik yang suatu saat nanti dapat digunakan oleh tenaga listrik untuk kawasan Resang kecil kita bisa memanfaatkan dari bricket tersebut,” katanya.

Tidak hanya menitikberatkan pada produk utama, Sentra IKM Kelapa juga mengembangkan berbagai kerajinan yang terbuat dari sabut kelapa yang sebelumnya dianggap sebagai sampah. Kini, sabut kelapa diolah menjadi berbagai barang yang memiliki nilai ekonomi.

“Dari hasil turunan dari inti kelapa ini, kita juga memproduksi kerajinan dari serat kelapa yang sebelumnya dianggap sebagai limbah, dan kini telah kita buat menjadi sapu, tas, serta pot bunga dari turunan serat kelapa yang kita hasilkan dari cocopeat dan cocofiber,” katanya.

Selanjutnya, Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan Usaha Mikro (Disperindagkop UKM) Lingga sedang menyusun perhitungan aset Sentra IKM Kelapa agar ke depan mampu memberikan kontribusi nyata terhadap Pendapatan Asli Daerah (PAD).Kabupaten Lingga.

“Kami juga sedang melakukan perhitungan terhadap aset dari IKM Sentra Kelapa agar dapat menghasilkan PAD bagi Kabupaten Lingga melalui Sentra Kelapa ini,” kata Febrizal.

Keberadaan Sentra IKM Kelapa di Resang dianggap memberikan dampak yang baik bagi masyarakat sekitar. Sampai saat ini, tercatat sebanyak 32 tenaga kerja setempat telah dipekerjakan dalam kegiatan produksi.

“Dan alhamdulillah, penyerapan tenaga kerja hingga saat ini masih sebanyak 32 orang yang kita terima dari masyarakat di wilayah Resang,” tutupnya.