, BANGKA– Fitri Ramdhani Hararap, seorang sosiolog dari Universitas Bangka Belitung, menyatakan bahwa durian lokal Bangka Belitung bukan hanya sebagai komoditas musiman, tetapi juga bagian dari struktur ekonomi masyarakat yang telah berkembang sejak lama.
“Jika kita amati, banyak pedagang durian di Bangka Belitung sebenarnya juga pemilik kebun atau setidaknya memiliki keterkaitan langsung dengan petani. Artinya, rantai ekonominya cukup pendek dan manfaatnya lebih besar dirasakan oleh masyarakat setempat,” ujar Fitri saat diwawancarai, Jumat (19/12/2025).
Pola tersebut menggambarkan bahwa kegiatan ekonomi durian masih sangat berkaitan dengan struktur sosial masyarakat, khususnya keluarga dan lingkaran pertemanan di pedesaan.
“Berbeda dengan sistem pertanian komoditas besar yang sangat bergantung pada perantara atau modal besar. Di sini, durian berkembang dari kebun milik masyarakat,” katanya.
Fitri mengungkapkan, dari sisi data, peran durian sebagai penggerak perekonomian daerah semakin terlihat.
Data pertanian Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menunjukkan, pada tahun 2024 produksi durian mencapai 7.061,90 ton, naik dibandingkan dengan tahun 2023 yang berada pada angka 5.807,85 ton.
Peningkatan produksi ini selaras dengan meningkatnya luas area panen, yang menunjukkan bahwa durian tidak lagi hanya menjadi buah musiman, tetapi telah menjadi salah satu komoditas utama daerah.
Angka ini menunjukkan bahwa durian memberikan kontribusi nyata terhadap perekonomian masyarakat setempat. Bagi para petani, musim durian sering kali menjadi kesempatan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang besar, mulai dari biaya pendidikan hingga kebutuhan rumah tangga lainnya.
“Yang menarik, sebagian besar kebun durian di Bangka Belitung terdiri dari tanaman tua yang diwariskan dari generasi ke generasi. Banyak pohon durian ditanam puluhan tahun silam tanpa adanya tujuan komersial seperti saat ini,” ujar Fitri.
Fitri menyatakan, dari perspektif sosiologis, hal ini menarik. Keputusan ekologis dan budaya masa lalu ternyata memiliki dampak ekonomi yang signifikan saat ini. Kebun durian itu seperti
tabungan sosial. Ia dipelihara, dijaga, dan baru terasa manfaatnya ketika tiba saatnya musim
panen datang.
Selain menjadi sumber penghasilan, durian lokal juga memiliki makna identitas dan rasa percaya diri masyarakat setempat. Minat masyarakat Bangka Belitung terhadap durian lokal tidak hanya disebabkan oleh rasanya, tetapi juga karena ikatan emosional terhadap hasil alam dari daerah sendiri.
Saat durian Bangka Belitung mulai dikenal secara luas, diminati oleh masyarakat dari luar daerah, bahkan dikirim ke berbagai kota besar, timbul rasa bangga bersama. Masyarakat merasa hasil pertanian mereka dihargai.
Namun, menurut Fitri, penting untuk tidak menganggap geliat ekonomi durian secara berlebihan. Dari segi lingkungan, durian sebagai tanaman tahunan memiliki keunggulan karena mampu menjaga tutupan lahan dan lebih ramah lingkungan dibandingkan tanaman musiman.
“Tetapi tetap perlu waspada. Jika pengembangannya tidak terkendali, misalnya pembukaan lahan secara besar-besaran atau pola monokultur yang ekstrem, risiko kerusakan lingkungan dan ketidaksetaraan sosial tetap ada,” ujar Fitri.
Tantangan berikutnya, lanjut Fitri, tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan
perkembangan durian berlangsung sesuai dengan prinsip keberlanjutan dan keadilan sosial.
Pertanian durian seharusnya tetap mendukung petani kecil, menjaga keseimbangan lingkungan, serta tidak meninggalkan akar sosialnya dari masyarakat setempat.
Fitri menyatakan bahwa durian khas Bangka Belitung memiliki potensi besar menjadi komoditas andalan dalam jangka panjang jika dikelola dengan baik.
Tidak selalu diperlukan untuk memulai dari proyek yang besar. Dari kebun-kebun rakyat yang sudah ada, jika dijaga dan dikelola secara bersama, dampaknya bisa sangat signifikan terhadap perekonomian wilayah.
Musim durian pada akhirnya tidak hanya menjadi peristiwa ekonomi tahunan. Durian mencerminkan hubungan antara manusia, alam, dan perekonomian lokal. Dari kebun lama yang tetap menghasilkan buah, kita memahami bahwa pertumbuhan daerah dapat muncul dari warisan lokal yang dijaga bersama,” ujar Fitri.(x1)







