Diangkat jadi PPPK usai 17 tahun mengabdi, Abdurrahman langsung lari 7 jam, pernah digaji Rp150 ribu

Ringkasan Berita:

  • Kisah Abdurrahman lari 7 jam karena diangkat jadi PPPK Paruh Waktu setelah 17 tahun mengabdi
  • Cerita Abdurrahman soal nazarnya
  • Perjuangan Abdurrahman saat lari

Tengah viral di media sosial video pria lari 52 km di Banyuwangi, Jawa Timur.

Bacaan Lainnya

Sosok dalam video itu bernama Abdurrahman (45).

Cak Dur, sapaan akrabnya berlari sejauh 52 kilometer dari GOR Tawangalun Kota Banyuwangi menuju SDN 3 Sepanjang, Glenmore.

Rupanya ia sedang menunaikan nazar atau janji kepada Allah SWT karena telah diangkat sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) Paruh Waktu pada Minggu (28/12/2025).

Dengan begitu, dia resmi berstatus sebagai aparatur sipil negara (ASN).

“Bentuk rasa syukur saya selama pengabdian 17 tahun akhirnya mendapatkan pengangkatan (sebagai ASN) dari Pemerintah Daerah Banyuwangi,” kata Cak Dur, Selasa (30/12/2025), melansir dari Kompas.com.

Menurut dia, dengan adanya SK pengangkatan tersebut, ekonominya juga jadi terangkat. 

Cak Dur menceritakan, pertama kali bekerja pada 2008, gajinya sebesar Rp 150.000 per bulan.

Sebagai penjaga sekolah, dia juga pernah merasakan dibayar Rp 500.000 per bulan sebelum akhirnya mendapatkan tambahan insentif dari Pemkab Banyuwangi dua tahun belakangan.

Oleh karena itu, dalam hati, dia mengucap sebuah nazar jika diangkat menjadi PPPK.

Hingga akhirnya, pada Sabtu, 27 Desember 2025 malam, Cak Dur memantapkan diri akan melakoni nazarnya berlari 52 kilometer sebagai ungkapan rasa syukur.

Sebab, keesokan harinya, dia menerima SK pengangkatan sebagai PPPK Paruh Waktu yang ditandatangani oleh Bupati Banyuwangi Ipul Fiestiandani.

Berlari 7 Jam

Berbekal tas lari yang dipinjami temannya, Cak Dur berlari menyusuri jalanan di wilayah ujung timur Pulau Jawa itu.

Berangkat dari GOR pukul 09.30 WIB, Cak Dur bertahan menahan panasnya sinar matahari yang membakar.

Rasa nyeri yang mulai dirasakan pada kedua kakinya pun berhasil dikalahkan oleh tekatnya menjalankan nazar sebagai bentuk ucapan syukur.

“Paling sulit di wilayah Sumbersari-Pandan, jalannya naik turun, banyak tanjakan sampai kram tapi saya tahan,” ujarnya.

Terlebih, menurut dia, tak sedikit masyarakat yang memberikan semangat kepadanya di sepanjang jalan.

Cak Dur menceritakan, dia akan beristirahat sebentar setiap tiga kilometer sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Waktu istirahat yang lumayan panjang diambilnya ketika masuk waktu shalat.

“Alhamdulillah banyak peduli. Awalnya saya sendirian dari GOR sampai Gambor, lalu setelahnya ada teman yang biasa lari, Mas Sofyan Ali, saya dikawal,” katanya.

Total tujuh jam waktu yang dihabiskan Cak Dur untuk berlari sejauh 52 kilometer dari GOR Tawangalun hingga finish di sekolah tempatnya bekerja, SDN 3 Sepanjang, Glenmore.

Untuk diketahui, Cak Dur sendiri merupakan seorang pelari.

Dia sering mengikuti event lari di berbagai kota, terjauh adalah marathon di Surabaya sejauh 42 km.

Ke depan, dia akan kembali mengikuti berbagai event lari, mulai dari Banyuwangi, Malang hingga Bali, yang seluruhnya akan digelar pada Januari 2026.

Cak Dur pun mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada semua pihak yang membantunya mewujudkan nazar berlari 52 kilometer, terutama masyarakat Banyuwangi dan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani.

“Terima kasih banyak kepada semuanya, khusus untuk ibu bupati, semoga dengan ini saya bisa bekerja lebih baik dan amanah dalam menjalankan tugas untuk mengabdi pada negara,” katanya.

Kisah Lain

Kisah lain datang dari seorang penjaga sekolah bernama Rahwito, yang bahagia dilantik menjadi PPPK Paruh Waktu meski dirinya akan pensiun 6 bulan lagi.

Rahwito menjadi satu dari ribuan PPPK paruh waktu yang dilantik di lingkungan pemerintah kabupaten Bondowoso.

Ribuan PPPK paruh waktu mengikuti penyerahan SK di Alun-alun Ki Bagus Asra, pada Senin (28/12/2025).

Mereka mengenakan seragam Korpri lengkap bercelana hitam dan bersepatu pantofel.

Untuk PPPK paruh waktu lelaki ditambah mengenakan kopiah hitam.

Di antara ribuan orang tersebut, ada salah seorang penjaga sekolah bernama Moh Rahwito.

Pria ini akan genap berusia 58 tahun pada tahun 2026.

Perjuangan Sejak 1989: Dari Tes Manual Hingga Digital

Dia tertawa bahagia mendapatkan SK PPPK paruh waktu bersama kawan-kawannya yang lain.

Meski 6 bulan lagi, atau 9 Juni 2026 dia akan pensiun.

Dia mengatakan tak masalah meski akan segera pensiun.

“Ya kalau sudah waktunya,” ungkapnya.

Lelaki lanjut usia ini telah bekerja sejak 2003 lalu menjadi penjaga di SDN Pancoran 2.

Sudah berulangkali mengikuti tes CPNS, tak pernah lolos.

Dia ikut tes CPNS sejak 1989.

Kata Rahwito, tes CPNS dulu masih tidak menggunakan komputer atau secara manual menulis.

Meski gagal di tes CPNS pertama. Rahwito tak menyerah.

Setiap tahun ikut, hingga di tahun 2013 dia memutuskan tidak ikut tes CPNS lagi.

“Selalu ikut, terakhir 2013,” ujarnya.

Baru kemudian 2024, Rahwito kembali ikut tes PPPK di Jember.

Karena mereka yang masuk database BKN wajib mengikuti.

Ia memiliki satu istri dan 3 anak yang tinggal bersama di perumahan sekolahnya.

Meski gaji awal Rp 50 ribu. 

Rahwito tak mengeluh, dan mencari tambahan pekerjaan lain.

Hingga 2023, sudah mulai mendapatkan honor daerah yang enggan disebutkan nominalnya.

“Dulu awal gak ada gaji, pas naik jadi Rp 50 ribu. Ya cari sampingan lain, ya sembarang, bertani,” pungkasnya.

Sebanyak 4.502 pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK) paruh waktu di lingkungan Pemerintah Kabupaten Bondowoso menerima petikan SK.

Penyerahan secara serentak dilakukan di Alun-alun Ki Bagus Asra, pada Senin (28/12/2025).

Mereka merupakan PPPK dari berbagai jabatan.

Di antaranya yaitu jabatan teknis sebanyak 3.308 orang, tenaga kesehatan 546 orang, dan tenaga guru 648 orang.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *