JIMBARAN, – Alunan musik elektronik terus mengalir tanpa henti dalam acara Djakarta Warehouse Project (DWP) 2025, yang berlangsung di Garuda Wisnu Kencana beberapa hari yang lalu.
Dengan panggung yang megah dan pencahayaan yang indah, ribuan penonton dari berbagai negara menari dengan satu irama, larut dalam festival musik bergengsi internasional tersebut.
Di hari kedua penyelenggaraan, Sabtu, 13 Desember 2025, Dipha Barus berhasil menarik perhatian penonton saat tampil di panggung Garuda Land.
Ia tidak hanya membawa musik elektronik Indonesia, tetapi juga menyampaikan kisah, perhatian, dan doa saat mendekati akhir set-nya, tepat ketika lagu ke-29 berjudul “All Good” diputar.
Layar besar berubah menjadi merah dan muncul tulisan hitam yang sederhana namun menarik perhatian, “Pray for Sumatera”. Pesan ini memaksa penonton untuk membaca dan merasakan.
“Sejak terjadi banjir besar di Sumatera, saya dan tim telah berpikir bagaimana cara memanfaatkan panggung yang kami miliki untuk menyampaikan pendapat,” kata DJ, komposer, dan produser asal Jakarta itu kepada, Selasa (16/12/2025).
Dari sana kami menyediakan visual ‘Pray for Sumatera’ sebagai wujudawareness, terlebih lagi penonton DWP berasal dari berbagai negara,” tambah Dipha Barus.
Pentas, Identitas, dan Tanah Air Leluhur
Pemilihan DWP sebagai tempat menyampaikan pesan tidak tanpa maksud. Festival musik elektronik terbesar di Asia Tenggara ini menampilkan penonton dari berbagai negara dan latar belakang budaya.
Tanah air leluhur menjadi sumber inspirasi visual dan musikal yang menyatu denganbeatyang selama ini dianggap sebagai ciri khas Dhipa Barus.
Bagi dia, musik bukan hanya sekadar hiburan, tetapi menjadi jembatan emosional antara panggung yang megah dan kesedihan yang terjadi jauh di tempat lain.
“Momennya juga terasa sangat pribadi karena visual dan musik yang saya tampilkan di DWP Mainstage mengangkat tanah leluhur saya, Tanah Karo, yang berada di Sumatera,” ujar Dipha Barus.
Meskipun DWP identik dengan have fun, kebebasan dan pesta yang menampilkan deretan DJ lokal yang tampil bersama artis ternama dunia seperti Calvin Harris, Charlotte de Witte, dan Skrillex.
Namun justru di tempat semacam itu, DJ asal Jakarta merasa pesan kemanusiaan perlu disampaikan.
“Menurutku, menyuarakan isu kemanusiaan sangat penting, terlebih semakin lama semakin banyak orang yang bersikap acuh dan tidak peduli,” kata Dipha Barus.
“Saya selalu berusaha memanfaatkan ruang atau panggung yang saya miliki untuk menyampaikan kepedulian,” kata DJ yang mulai dikenal setelah merilis single berjudul “No One Can Stop Us” bersama penyanyi Kallula pada tahun 2016, lanjutnya.
Tak hanya itu, melalui beatkhas, Dipha Barus menyisipkan harapan bagi para korban bencana Sumatera.
“Saya juga berharap pemerintah Indonesia mengakui bencana di Sumatera sebagai bencana nasional,” katanya.
Kepedulian di Tengah Pesta
Sementara itu, sebelum pelaksanaan DWP 2025, Ismaya Live sebagai penyelenggara juga menyampaikan belasungkawa mendalam terkait bencana banjir dan longsor yang terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.
Sebagai wujud tindakan dukungan kemanusiaan, Ismaya Live mengumumkan akan menyumbangkan sebagian hasil penjualan tiket DWP 2025.
“Jadi hasil penjualan dan pembelian yang dilakukan di DWP akan kami sisihkan untuk membantu saudara-saudara kita, tentu saja (disumbangkan kepada para korban bencana di Pulau Sumatra),” kata Program Director DWP25, Sarah Deshita dalam konferensi pers beberapa waktu lalu.
Ia berharap, tindakan kecil yang dilakukan ini mampu mengurangi beban rakyat Indonesia yang sedang terkena bencana.







