, JAKARTA — Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengemukakan terdapat faktor-faktor di luar cuaca ekstrem yang membuat dampak Siklon Tropis Senyar lebih signifikan daripada Siklon Tropis Seroja, terlepas dari level energi badai yang lebih lemah.
Profesor Riset BRIN sekaligus Ahli Iklim dan Cuaca Ekstrem Erma Yulihastin menjelaskan bahwa secara energi, Siklon Tropis Senyar hanya memiliki sekitar sepertiga kekuatan Seroja. Bahkan, dari hasil perhitungan tim BRIN, energi badai Senyar hanya berada di kisaran 20%, termasuk setelah memperhitungkan anomali pergerakan badai yang bertahan di perairan sempit Selat Malaka.
Namun demikian, dampak kerusakan yang ditimbulkan Senyar tercatat jauh lebih besar. Jumlah korban jiwa akibat banjir dan longsor di Sumatra setelah Senyar melanda mencapai lebih dari 1.000 orang, dengan ratusan lainnya masih dinyatakan hilang atau dalam pencarian.
Jumlah korban jiwa tersebut lima kali lipat lebih banyak dibandingkan korban Siklon Tropis Seroja pada 2021 yang menewaskan 181 orang. Kondisi wilayah terdampak pascabencana juga dinilai lebih parah, meski Senyar tidak berada pada kategori badai tropis berkekuatan tinggi.
“Dengan korban jiwa mencapai 1.000 orang, siklon tropis kali ini lebih mematikan, bahkan bisa 10 kali lipat jika kita bandingkan dengan Seroja. Artinya ada jauh lebih banyak di luar faktor cuaca yang berkontribusi,” kata Erma dalam diskusi bertajuk Risiko Cuaca Ekstrem dan Solusi Iklim, Kamis (18/12/2025), dikutip dari YouTube Madani Berkelanjutan.
Menurut Erma, perbedaan tersebut menunjukkan adanya kontribusi signifikan dari faktor-faktor di luar kekuatan cuaca ekstrem itu sendiri. Salah satu temuan penting adalah kecenderungan terbentuknya badai tropis dalam beberapa tahun terakhir yang lebih intensif dan bergerak makin mendekati daratan Indonesia.
Dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah mengalami dua peristiwa badai tropis berskala katastrofik, yang sebelumnya dianggap sebagai kejadian langka dengan siklus ratusan tahunan.
BRIN mencatat bahwa badai tropis yang seharusnya bergerak menjauh ke laut lepas kini justru cenderung mendekati wilayah pesisir. Salah satu penyebabnya adalah meningkatnya suhu permukaan laut di wilayah perairan dekat daratan yang lebih hangat dibandingkan laut lepas, sehingga menarik sistem badai mendekat ke darat.
Selain faktor suhu laut, Erma menyoroti peran kondisi daratan, khususnya pemanasan permukaan dan berkurangnya tutupan hutan. Dia merujuk pada hasil riset eksperimental yang dilakukan di kawasan Teluk Meksiko dalam satu hingga dua tahun terakhir. Dalam studi tersebut, peneliti melakukan simulasi pergerakan badai dengan dua skenario tutupan lahan.
Pada skenario pertama, daratan dimodelkan dengan tutupan hutan yang baik sehingga suhu permukaan darat lebih dingin. Hasilnya, badai tetap berada di tengah laut dan tidak bergerak ke daratan. Sebaliknya, pada skenario kedua, ketika tutupan lahan dikurangi dan daratan mengalami pemanasan akibat deforestasi, pergerakan badai bergeser ke arah darat.
Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa deforestasi dan pemanasan daratan memiliki pengaruh besar terhadap arah pergerakan badai tropis, melalui perubahan keseimbangan suhu, proses evaporasi, serta interaksi antara darat dan laut.
Temuan ini memperkuat hasil kajian BRIN bahwa dampak Siklon Tropis Senyar diperparah oleh faktor lingkungan noncuaca, termasuk degradasi tutupan lahan.
Erma menegaskan bahwa temuan ini menjadi peringatan serius bagi Indonesia. Badai tropis yang makin sering terjadi, berenergi relatif lebih kecil tetapi berdampak besar, menunjukkan bahwa risiko bencana tidak lagi semata ditentukan oleh kekuatan badai, melainkan juga oleh kondisi lingkungan yang terus berubah.
Tanpa upaya mitigasi yang lebih baik, kejadian serupa berpotensi terulang dengan dampak yang makin besar.







