Isi Artikel
Insiden Rasisme yang Menimpa Pemain Malut United
Dua pemain Malut United, Yakob Sayuri dan Yance Sayuri, menjadi korban serangan rasisme di media sosial setelah pertandingan melawan Persib Bandung. Insiden ini terjadi usai laga yang berlangsung di Stadion Kie Raha, Ternate, pada Minggu (14/12/2025). Meskipun insiden ini tidak melibatkan tindakan fisik langsung, para pemain mengalami hujatan yang bernada rasis di kolom komentar akun Instagram mereka.
Latar Belakang Pemain
Yance Sayuri dan Yakob Sayuri sebelumnya adalah eks pemain PSM Makassar. Mereka memutuskan untuk bergabung dengan Malut United pada musim 2024/2025. Namun, kini keduanya menghadapi tantangan baru dalam bentuk serangan rasisme yang menimpa mereka dan keluarga mereka.
Pertandingan melawan Persib Bandung dimulai dengan benturan antara Yance Sayuri dan kapten Persib, Marc Klok. Saat itu, Marc Klok sedang mencoba membangun serangan balik setelah Malut United kehilangan kesempatan dari tendangan sudut. Yance Sayuri berusaha menghentikan pergerakan Marc Klok, sehingga terjadi benturan yang menyebabkan keduanya jatuh. Saat terjatuh, Marc Klok tampak menarik celana Yance Sayuri, dan Yance merespon dengan gerakan spontan seperti memukul.
Reaksi di Media Sosial
Setelah pertandingan, kolom komentar di akun Instagram Yance Sayuri @yansayuri11 dipenuhi komentar yang bernada rasis. Beberapa netizen mengirimkan gambar atau ilustrasi yang menyamakan manusia dengan binatang. Kolom komentar akun Instagram Yakob Sayuri juga tidak luput dari serangan tersebut.
Padahal, Yakob Sayuri tidak bermain dalam pertandingan tersebut karena sanksi larangan bertanding. Ia absen karena aturan klub, tetapi hal ini tidak menghentikan para pengguna media sosial dari melakukan serangan terhadap dirinya dan keluarganya.
Pengalaman Sebelumnya
Ini bukanlah kali pertama Yance dan Yakob Sayuri menghadapi serangan rasisme. Dalam pekan 31 Liga 1 2024/2025, kedua pemain ini juga mendapat komentar rasis dari netizen setelah melawan Persib Bandung. Pada waktu itu, mereka bahkan melakukan somasi dan melaporkan kasus tersebut ke polisi.
Tanggapan dari Yance Sayuri
Yance Sayuri mengunggah video pendek di akun Instagram pribadinya @yansayuri11, di mana ia menunjukkan bahwa ia berjalan sendiri saat pertandingan melawan Persib. Dalam keterangan video tersebut, ia mengakui kesalahan atas tindakannya terhadap Marc Klok. Namun, ia menyayangkan bahwa teguran dilakukan dengan kata-kata yang bernada rasisme.
“Saya pribadi tahu kalau kesalahan yang saya buat kemarin sangat salah dan tidak profesional tapi bukan berarti kalian mau tegur saya dan kasih masukan dengan kata rasis,” tulis Yance Sayuri.
Ia juga menyampaikan permintaan maaf kepada Marc Klok secara langsung dan melalui media sosial. Namun, serangan rasisme tetap terus berlanjut, termasuk terhadap keluarganya. Yance Sayuri menyampaikan kekecewaannya terhadap perlakuan yang dialaminya.
“Anak dan istri saya tidak ikut bertanding di dalam lapangan kemarin. Terus kenapa kalian rasis istri dan anak saya yang tidak tau apa-apa sema sekali,” tulisnya.
Ia juga memohon agar orang-orang yang menghinanya tidak mengarahkan serangan rasisme kepada keluarganya.
Respons dari Klub dan Asosiasi
Media Officer Malut United, Weshley Hutagalung, menyampaikan bahwa pihak klub sedang mempertimbangkan langkah hukum untuk menghentikan rasisme di sepak bola Indonesia. Ia menyatakan bahwa pihak klub akan melaporkan kasus ini ke kepolisian.
Weshley juga meminta dukungan dari klub dan pecinta sepak bola Tanah Air untuk memerangi rasisme. Ia ingin mengajak PSM Makassar dalam kampanye mengecam tindakan rasisme ketika kedua tim bertemu.
CEO Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI), M Hardika Aji, menyatakan bahwa pihaknya masih dalam tahap komunikasi dengan Yance dan Yakob Sayuri. Ia berharap ada tindakan tegas terhadap pelaku rasisme agar tidak terulang kembali.
APPI menegaskan bahwa pihaknya mengecam tindakan rasisme dan terus berupaya bersama operator sepak bola Indonesia I.League untuk memerangi masalah ini.
Kesimpulan
Insiden rasisme yang menimpa Yance dan Yakob Sayuri menunjukkan betapa pentingnya upaya bersama untuk mencegah tindakan diskriminasi dalam dunia sepak bola. Dengan dukungan dari klub, asosiasi, dan masyarakat, diharapkan rasisme dapat diminimalisir dan diberantas secara efektif.







