Pandangan DFSK Mengenai Teknologi PHEV dan BEV di Pasar Indonesia
DFSK, salah satu produsen kendaraan ternama, menyatakan bahwa teknologi Plug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV) masih menjadi solusi yang paling relevan untuk pasar Indonesia saat ini dibandingkan kendaraan listrik murni atau Battery Electric Vehicle (BEV). Hal ini disampaikan dalam berbagai kesempatan, termasuk saat peluncuran global DFSK E5 Plus versi setir kanan (right-hand drive/RHD) di ajang International Automotive & Supply Chain Expo 2026 di Hong Kong.
Perbedaan Karakteristik Pasar Global
Joe Zhou, Deputy General Manager Overseas Sales and Service Division DFSK, menjelaskan bahwa proses transisi menuju kendaraan energi baru tidak bisa disamaratakan di setiap negara. Setiap pasar memiliki karakteristik dan kebutuhan konsumen yang berbeda-beda.
“Peralihan global menuju kendaraan energi baru berbeda di setiap pasar, sehingga tidak ada satu solusi yang cocok untuk semua kondisi,” ujarnya kepada media di Hong Kong, Kamis (18/6/2026).
Kebutuhan Konsumen Indonesia
Menurut Joe, konsumen Indonesia saat ini mulai menginginkan efisiensi energi dan teknologi pintar yang identik dengan kendaraan listrik. Namun, faktor kenyamanan dan keandalan untuk perjalanan jarak jauh tetap menjadi pertimbangan utama.
Dengan kondisi geografis Indonesia yang luas serta infrastruktur pengisian daya kendaraan listrik yang masih terus berkembang, DFSK melihat kebutuhan akan kendaraan yang siap digunakan kapan saja tanpa kekhawatiran masih sangat tinggi.
“Di Indonesia, konsumen menginginkan efisiensi energi dan fitur pintar seperti kendaraan listrik, namun juga sangat menghargai kenyamanan serta keandalan untuk perjalanan jarak jauh,” kata Joe.
Keunggulan Teknologi PHEV
Karena itu, DFSK meyakini teknologi PHEV mampu menjadi jembatan yang ideal antara kendaraan bermesin konvensional dan kendaraan listrik murni.
“Karena itu, kami percaya teknologi PHEV merupakan solusi yang sangat sesuai untuk pasar Indonesia saat ini,” lanjutnya.
Menurut Joe, teknologi PHEV menawarkan keseimbangan yang sulit didapat dari teknologi lain saat ini. Pengguna tetap bisa menikmati biaya operasional rendah saat berkendara harian menggunakan tenaga listrik, namun tetap memiliki fleksibilitas untuk melakukan perjalanan jauh tanpa khawatir kehabisan daya baterai.
“Teknologi ini mampu menyeimbangkan tiga kebutuhan utama, di antaranya biaya penggunaan rendah melalui berkendara listrik di perkotaan, jangkauan perjalanan jauh tanpa kekhawatiran, serta pengalaman berkendara yang lebih modern melalui teknologi pintar,” jelasnya.
Ia menambahkan, nilai inilah yang membuat PHEV masih memiliki peran penting di tengah percepatan elektrifikasi global yang saat ini banyak didorong oleh kendaraan listrik murni.
“Inilah nilai unik PHEV saat ini. Ke depan, kami akan terus menghadirkan portofolio produk yang beragam sesuai kebutuhan pasar,” tutup Joe.

Produk DFSK E5 Plus RHD
Pandangan tersebut sekaligus tercermin melalui peluncuran DFSK E5 Plus RHD yang mengandalkan sistem SERES Super Hybrid. Secara global, SUV elektrifikasi ini dibekali mesin bensin 1.500 cc yang dipadukan dengan baterai berkapasitas 25,3 kWh.
DFSK mengklaim E5 PLUS mampu menempuh jarak hingga 135 km dalam mode listrik murni berdasarkan standar WLTP. Sementara jarak tempuh kombinasi antara mesin bensin dan motor listrik diklaim mencapai 1.200 km.
Indonesia sendiri menjadi salah satu pasar yang diproyeksikan menerima DFSK E5 Plus RHD. Dengan teknologi yang ditawarkan, DFSK berharap dapat memenuhi kebutuhan pasar yang semakin berkembang.







