Bikin Bigmo heran, anak menteri Purbaya pilih naik Yamaha Xmax tanpa pengawalan

Ringkasan Berita:

  • Streamer Bigmo dibuat heran dengan kesederhanaan Yudo Sadewa, putra Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa.
  • Melansir Tribun Jakarta, momen itu terjadi saat Yudo hadir sebagai narasumber di live streaming kanal Bigmo.
  • Tanpa pengawalan dan kendaraan mewah, Yudo datang seorang diri mengendarai sepeda motor Yamaha Xmax.

, Jakarta – Streamer Bigmo dibuat tak habis pikir dengan kesederhanaan Yudo Sadewa, putra Menteri Keuangan RI Purbaya Yudhi Sadewa. 

Bacaan Lainnya

Melansir Tribun Jakarta, Keheranan itu muncul saat Yudo hadir sebagai narasumber dalam sesi live streaming di kanal Bigmo.

Alih-alih datang dengan pengawalan atau kendaraan mewah, Yudo justru tiba seorang diri mengendarai sepeda motor Yamaha Xmax. 

Yang lebih mengejutkan, ia menempuh perjalanan langsung dari Bogor, Jawa Barat, tanpa pendamping apa pun.

“Dia ke sini naik Xmax,” ujar Bigmo di tengah siaran langsung.

“Dari Bogor nyetir sendiri,” lanjutnya dengan nada tak percaya.

Reaksi Bigmo sontak mengundang tawa Yudo. Baginya, datang naik motor adalah hal yang sepenuhnya normal dan tidak layak dibesar-besarkan.

“Emang kenapa naik motor?” jawab Yudo santai.

Namun Bigmo tetap terlihat heran. “Lu bayangin naik motor, man,” celetuknya, seolah masih sulit menerima gaya hidup sederhana yang ditunjukkan anak pejabat negara tersebut.

Sindir Gaya Anak Pejabat

Bigmo dan Yudo kemudian membahas soal trading bitcoin yang ditekuni oleh anak Purbaya Yudhi Sadewa tersebut.

Yudo lalu mengaku baru mengalami kerugian yang cukup besar.

“Gue 10 Oktober ini loss hampir Rp22 miliar, tapi dari 8 juta dollar AS kecil lah,” kata Yudo.

Bigmo lantas merasa heran dengan sikap Yudo yang sangat terbuka dengan jumlah hartanya.

Meski bergelimang harta, Yudo mengaku dirinya lebih memilih hidup sederhana.

Ia lalu menyindir anak pejabat yang berpergian menggunakan pengalawan ketat, berbeda dengan dirinya.

“Lu bisa setransparan ini, Lo gak peduli?” tanya Bigmo.

“Enggak peduli, gue ke sininya aja naik motor, gue kan sederhana orangnya,” jawab Yudo.

“Kalau anak pejabat yang lain kan naik, ‘tot tot tot’,” imbuhnya.

Pejabat Buang-buang Uang Negara

Yudo menyoroti kebiasaan pejabat yang dinilai gemar menghabiskan anggaran negara untuk fasilitas yang serba mewah dan premium, mulai dari rapat hingga penginapan. 

Praktik korupsi, menurutnya, tidak selalu berbentuk penggelapan uang secara langsung. 

Ia menilai penyalahgunaan anggaran untuk rapat dan perjalanan dinas juga merupakan bentuk korupsi yang tak bisa dianggap remeh. 

“Jadi orang-orang itu kebanyakan korupsi-korupsi itu dari situ. Anggaran rapat, perjalanan dinas, masa bisa sampai miliaran sih,” katanya.

Ia bahkan menyindir pilihan penginapan pejabat saat dinas di luar kota. 

Yudo menilai pejabat semestinya tidak selalu menginap di hotel bintang lima.

“Lu tidur di Oyo aja udah nyaman kali harusnya. Enggak usah di hotel bintang 5,” ujarnya.

Selain soal penginapan, Yudo juga menyoroti kebiasaan perjalanan dinas di era teknologi digital. 

Menurutnya, banyak agenda pemerintahan yang bisa dilakukan secara daring tanpa harus mengeluarkan biaya besar. 

“Kalau mau mengabdi masyarakat, kan kita sekarang udah ada teknologi. Emang enggak bisa pakai Zoom atau misalnya enggak bisa apa lebih jauh efisiensi lagi,” katanya. 

Ia menyarankan agar ketimbang menghambur-hamburkan anggaran, lebih baik dialihkan ke sektor yang lebih berdampak bagi perekonomian. 

“Daripada buang anggaran enggak jelas, mendingan buat suntikin ke bank-bank bumn atau apapun itu yang penting ekonomi muter lah,” pungkasnya. 

Ia mengatakan ayahnya Purbaya telah melakukan pemotongan anggaran rapat-rapat yang dianggap tidak jelas. 

Dari hasil pemotongan itu, negara bisa memperoleh penghematan hingga puluhan triliun. 

“Misalkan kemaren tuh bapak dapat 60 triliun dari potong anggaran-anggaran, rapat-rapat itu yang enggak jelas. Bahkan, 60 triliun itu cuman dari potong rapat enggak jelas itu loh, makanya negara indonesia itu susah majunya karena enggak efisien. Udah enggak efisien, pejabatnya kebanyakan maling gitu,” pungkasnya. 

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *