Jabatan Tidak Menjadi Segalanya: Lulusan Universitas yang Menemukan Jalur Kehidupan Baru sebagai Penjual Ikan, Pembicara Langsung, dan Teknisi Ban.
Tribunnewsmaker – Saat Tsuri Xie pertama kali membagikan video pekerjaannya menempelkan stiker mobil di TikTok, reaksinya tidak selalu baik. Banyak pengemudi meninggalkan komentar yang merendahkan, bahkan ada yang tegas menyatakan bahwa mereka “tidak akan pernah membiarkan wanita menyentuh mobil mereka”.
Berikut adalah beberapa variasi dari kalimat tersebut: 1. Ini adalah kisah yang memotivasi bahwa gelar bukanlah segalanya. 2. Inilah cerita menginspirasi yang menunjukkan bahwa gelar tidak selalu menjadi segalanya. 3. Berikut ini adalah kisah yang mengajarkan bahwa gelar bukanlah segala-galanya. 4. Ini adalah kisah yang menginspirasi, membuktikan bahwa gelar bukanlah segalanya. 5. Berikut ini merupakan kisah yang memotivasi bahwa gelar tidak selalu menjadi hal utama.
Pandangan demikian bukan hal asing di dunia otomotif, yang selama ini dikaitkan dengan dunia pria. Namun, perempuan berusia 36 tahun ini justru memanfaatkan keraguan orang lain sebagai dorongan untuk membuktikan kemampuannya sebagai spesialis pemasangan stiker mobil.
“Jika tubuh terasa pegal atau otot terasa sakit, satu-satunya cara untuk mengatasinya adalah terus bekerja,” katanya.
Jika secara tidak sengaja tertusuk pisau lipat atau kulit terkena luka bakar akibat alat pemanas, hal itu wajar. Semprotkan alkohol, lalu lanjutkan pekerjaan Anda.
Hal-hal yang dahulu membuat orang meragukan, kini justru menjadi keunikan tersendiri. Seorang klien perempuan mengungkapkan ketertarikannya untuk menggunakan jasanya setelah menyadari bahwa Xie adalah salah satu dari sedikit perempuan di Singapura yang memilih profesi ini.
“Saya mencari di TikTok dan Instagram, lalu menemukannya. Menurut saya, dia sangat menarik,” kata klien tersebut.
Pemasangan stiker mobil secara mandiri bukanlah pekerjaan yang bisa dilakukan sembarangan. Xie perlu memahami sifat masing-masing kendaraan, termasuk posisi terbaik untuk menarik dan meregangkan bahan vinil, serta melakukan pekerjaan dengan tingkat ketelitian yang sangat tinggi.
Meskipun demikian, ini bukanlah karier yang pernah ia bayangkan. Xie lulus dari jurusan komunikasi desain dan pernah bekerja selama empat tahun di bidang pemasaran, mengelola kampanye serta akun media sosial. Ia memilih pekerjaan tersebut karena alasan praktis, bukan karena ketertarikan.
Namun, kehidupan di kantor mulai membuatnya merasa bosan.
“Di dunia bisnis, terlalu banyak hal yang berada di luar kendali kita, seperti dinamika kantor,” katanya.
Saya mulai meragukan, mengapa setiap pagi saya harus pergi bekerja melakukan hal yang sebenarnya tidak saya sukai?
Akhirnya, ia memutuskan untuk pergi. Keputusan ini sempat menimbulkan kekhawatiran dari suaminya — seorang pengusaha — terutama mengenai hilangnya pendapatan tetap serta ancaman kegagalan bisnis.
Namun, salah satu perusahaan yang akhirnya berkembang adalah Vos Automotive Styling, tempat Xie sekarang bekerja dan berkembang.
“Bandingkan dengan pekerjaan kantoran, saya lebih suka hampir seluruh sisi dari pekerjaan ini. Memang melelahkan, tetapi rasa puasnya jauh lebih besar,” katanya sambil tersenyum.
Mengenai gelar pendidikannya yang tidak ia gunakan secara langsung, Xie bersikap realistis.
Memang itu adalah selembar kertas yang sangat mahal,” katanya. “Namun saya tidak akan mengatakan bahwa itu tidak bermanfaat.
Xie hanyalah salah satu dari banyak lulusan universitas yang memilih jalan berbeda dibandingkan karier yang biasanya terkait dengan gelar mereka. Mulai dari lulusan bisnis yang kini memotong ikan atau menjadi tukang pangkas, hingga lulusan kesehatan dan linguistik yang mengikuti profesi baru, banyak di antara mereka justru menemukan makna hidup melalui jalur yang tidak konvensional.
Saat Mencari Pekerjaan Tidak Kunjung Berhasil
Berbeda dengan Xie, Dave Peter Ho memilih jalur yang tidak biasa bukan karena keluar dari dunia perusahaan, tetapi karena gagal masuk ke dalamnya.
Lulusan dari Universitas Teknologi Nanyang (NTU) yang memiliki fokus pada analisis bisnis ini menghabiskan sembilan bulan terakhir masa studinya dengan mencari pekerjaan untuk mendapatkan posisi di perusahaan dengan penghasilan tetap. Ia mengajukan lamaran lebih dari 100 posisi, mulai dari program magister, pemasaran, pengadaan, hingga manajemen pelanggan.
Meskipun pernah diundang wawancara, tidak ada satupun yang berakhir dengan tawaran pekerjaan.
“Ia merasa dibiarkan saja,” katanya.
Di saat putus asa, ia mengikuti pelatihan gratis TikTok untuk calon streamer, sesuai rekomendasi ibunya. Siaran langsung pertamanya mampu menghasilkan S$200 dalam waktu dua jam saja. Dalam jangka dua bulan, ia memutuskan untuk fokus sepenuhnya pada livestreaming.
“Saya menyadari kemungkinan kegagalan, namun saya ingin berusaha secara penuh,” katanya.
Sekarang, ia mengadakan siaran langsung sekitar 70 kali dalam sebulan, bekerja setiap hari seminggu, bahkan hingga empat sesi dalam sehari. Upayanya berhasil menarik perhatian TikTok, yang akhirnya menjadikannya sebagai salah satu streamer andalan dan contoh bagi kreator pemula.
Saat Karier Tidak Lagi Menyimpan Makna
Keraguan terhadap jalur karier juga dirasakan oleh Rae Zhang, yang berusia 34 tahun. Sebagai lulusan dan penerima beasiswa di bidang nutrisi serta dietetika, ia mulai merasa pekerjaannya di rumah sakit kurang bermakna karena jarang mengetahui dampak nyata dari saran-sarannya terhadap kehidupan pasien.
Setelah mengakhiri pekerjaannya, ia mulai membersihkan rumahnya sendiri. Perubahan yang dirasakannya sangat besar hingga ia bertanya, “Apakah ini bisa menjadi pekerjaan?”
Dari sana muncul Orderly, layanan penataan profesional yang ia bentuk bersama rekan-rekannya, dan kemudian membawanya tampil dalam acara televisi Channel 8 House Everything?
Meskipun akhirnya tampak rapi dan tenang, pekerjaan ini membutuhkan kondisi fisik yang baik. Ia pernah mengalami cedera punggung, otot kaku, hingga iritasi kulit. Namun, kepuasan dalam melihat perubahan nyata pada kehidupan klien membuat semua hal tersebut terasa sepadan.
Awalnya, orang tua mereka khawatir mengenai kondisi keuangan, terutama karena Zhang memiliki dua anak yang masih kecil. Namun, fleksibilitas waktu justru membantunya dalam menyeimbangkan tugas sebagai ibu dan pekerja.
Ketika Keluarga Membutuhkan
Bagi Cordillia Tan, perubahan jalur karier merupakan pilihan yang telah dipertimbangkan matang-matang. Lulusan jurusan Bahasa Inggris ini meninggalkan pekerjaannya di bidang blockchain guna menyelamatkan bengkel ban milik ayahnya, Pitstop Tyres, yang sedang menghadapi utang hampir setengah juta dolar.
Ia menghabiskan tabungan, mengajukan pinjaman pribadi, dan mempercayai TikTok sebagai satu-satunya media promosi. Perlahan, usaha mulai bangkit hingga ayahnya pensiun dan menyerahkan seluruh pengelolaan bisnis kepadanya.
Meski sempat dikritik banyak orang, termasuk soal “membuang-buang” biaya kuliah, Tan tidak menyesal. “Saya tidak memiliki pilihan selain terus maju,” ujarnya.
Pandangan serupa juga dirasakan oleh Baron Ang, lulusan manajemen pariwisata yang sekarang berprofesi sebagai pedagang ikan di Pasar Basah Chong Pang. Ia pernah bekerja di bidang pemerintahan dan menjadi manajer regional di luar negeri, sebelum wabah memaksa dirinya kembali dan membantu usaha keluarga.
Awalnya dia mengira hal itu hanya bersifat sementara. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai merasa bangga dengan pekerjaannya, meskipun memiliki jam kerja yang panjang dan penghasilan yang tidak stabil.
Jika saya mampu mengembangkan usaha ini menjadi sebuah merek,” katanya, “itu akan menjadi sesuatu yang sangat penting.
Cerita-cerita ini menggambarkan bahwa gelar akademik tidak selalu menjadi penentu arah kehidupan seseorang. Terkadang, dengan berbeda dari jalur yang dianggap ‘sempurna’, seseorang justru menemukan pekerjaan yang lebih bermakna dan cocok dengan dirinya.
Tribunnewsmaker | Channelnewsasia.com | Aleyda Salsa Sabillawati







