Di Balik Nama Resbob, Ibu yang Merasa Diadili karena Ujaran Kebencian pada Persib dan Sunda

Tidak ada ibu yang bangun pagi dengan maksud untuk menciptakan masalah. Itu kalimat pertama yang muncul dalam pikiran saya, seorang ibu berusia 40 tahun yang cemas karena terlalu sering memikirkan masa depan anaknya, ketika membaca berita tentang Adimas Firdaus atau Resbob ditangkap oleh Polda Jawa Barat. Ucapan-ucapan penuh kebencian, live streaming sambil berkendara, suku Sunda, Persib, Viking, dan ancaman hukum. Semua kata-kata ini menggema di media sosial. Namun, ada satu suara yang tidak terdengar. Suara dari ibunya.

Saya membayangkan seorang wanita yang mungkin sedang duduk di sudut rumah, ponselnya terus bergetar, dadanya sesak dengan pertanyaan yang sama berulang. Di mana kesalahan saya? Ini bukan pertama kalinya anaknya melakukan hal yang tidak menyenangkan. Resbob pernah juga mendapat kritikan terkait Azizah, mantan istri pemain sepak bola Arhan Pratama. Bahkan ayah Azizah ingin melaporkan ke polisi karena fitnah dari Resbob.

Bacaan Lainnya

Saat itu, ibu dari Resbob sampai-sampai memasuki video YouTube Denny Sumargo untuk meminta maaf atas tindakan anaknya. Kini, kejadian serupa terulang kembali. Ketika tindakan tersebut berakhir di kantor polisi hingga anaknya diburu oleh aparat, ibu mana yang tidak langsung melihat kaca cermin pengasuhannya sendiri?

Sebagai seorang ibu yang sering merasa bersalah, bahkan ketika anak mendapat nilai remedial dalam pelajaran matematika, saya sangat memahami perasaan itu.

Kami adalah generasi ibu yang tumbuh dengan satu mantra yang tidak pernah diucapkan. Jika anak mengalami masalah, ibu pasti merasa bersalah. Oleh karena itu, ketika kasus Resbob menjadi viral, masyarakat sibuk menghina pelaku, sementara di rumah lain, ada ibu yang mungkin menyalahkan dirinya sendiri dengan ucapan yang lebih keras daripada yang dilakukan netizen mana pun.

Faktanya, Resbob adalah seorang dewasa. Secara hukum dan tanggung jawab, ia bertanggung jawab atas dirinya sendiri. Namun dalam dunia batin seorang ibu, usia tidak pernah benar-benar memutus ikatan. Anak tetaplah anak. Terlebih ketika perilaku anak di media sosial berubah menjadi bahan publik dan ancaman hukum, rasa bersalah muncul tanpa diminta.

Penelitian mengenai rasa bersalah orang tua menunjukkan bahwa ibu cenderung lebih mudah menyalahkan diri sendiri atas kegagalan anak, khususnya dalam situasi di mana perilaku sosial anak menyimpang. Budaya kita turut memperparah hal ini. Pola asuh ibu sering kali dijadikan penyebab utama. Kurangnya ketakwaan, kurang perhatian, terlalu melindungi, atau terlalu bebas. Semua tuduhan ini mudah muncul dari mulut orang yang tidak pernah mengalami kesulitan menunggu anak pulang.

Saya membayangkan Ibu Resbob merenung kembali tahapan dalam mendidik anak. Apakah dulu terlalu longgar saat anak menggunakan perangkat digital? Apakah terlalu sibuk bekerja hingga lupa mengawasi apa yang dilihat anak? Atau justru terlalu ketat, sehingga anak mencari pengakuan melalui dunia digital? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak memiliki jawaban pasti, tetapi terus berputar seperti kipas rusak di pikirannya.

Isu ujaran kebencian di media sosial saat ini sedang meningkat. Kata-kata kunci seperti anak yang terlibat dalam masalah hukum akibat media sosial, ujaran kebencian dari YouTuber, tanggung jawab orang tua dalam dunia digital, atau peran ibu dalam mendidik di era digital sering muncul dalam pencarian mesin telusur. Namun, jarang ada yang membahas kelelahan emosional yang dialami orang tua di baliknya. Kita terlalu sibuk menyalahkan, lupa memberi dukungan.

Saya tidak sedang membela tindakan Resbob. Hukum harus ditegakkan. Ucapan yang merusak identitas kolektif tidak boleh dibiarkan. Namun, rasa empati tidak berarti mengabaikan kesalahan. Empati adalah kemampuan untuk memahami dampak yang lebih luas. Bahwa setiap kasus semacam ini meninggalkan luka di keluarga pelaku, khususnya ibu, yang sering menjadi tempat kembali semua kesalahan.

Di tengah perkembangan media sosial, anak-anak berkembang lebih cepat daripada kesiapan emosional orang tua mereka. Algoritma cenderung mempromosikan sensasi, bukan rasa empati. Konten yang provokatif mendapat perhatian berupa tayangan, bukan konsekuensi. Dalam situasi ini, orang tua seringkali tertinggal, belajar sambil merasa kewalahan. Ketika anak mengalami masalah hukum, ibu tetap menjadi target utama dalam penilaian masyarakat.

Sebagai seorang ibu yang juga sering merasa gagal, saya ingin menyampaikan satu hal yang jarang disampaikan. Tidak semua kesalahan anak merupakan cerminan utuh dari cara pengasuhan. Ada faktor lingkungan, tekanan sosial, ekonomi, perhatian, dan pilihan pribadi yang tidak sepenuhnya bisa dikendalikan oleh orang tua. Menyederhanakan semuanya menjadi kesalahan ibu adalah kebiasaan berpikir yang terlalu mudah.

Mungkin ibu Resbob hari ini tidak memerlukan perlindungan. Ia membutuhkan ruang untuk sedih atas harapan yang hancur. Ia perlu waktu untuk memaafkan dirinya sendiri, sebelum dunia mengharuskannya menjelaskan segalanya. Dan kita, sebagai sesama orang dewasa, mungkin perlu mengurangi suara kita.

Karena di balik seorang anak yang membuat keributan di media sosial, selalu ada ibu yang secara diam-diam memikul beban yang tidak pernah ia tulis.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *