Rumah Lee Kuan Yew Jadi Simbol Nasional Singapura

PEMERINTAH Singapura resmi menetapkan rumah pribadi Lee Kuan Yew pada 38 Oxley Road sebagai monumen nasional ke-77 pada Jumat, 12 Desember 2025. Pengumuman peresmian rumah mantan Perdana Menteri Singapura itu diumumkan oleh Kementerian Kebudayaan, Komunitas dan Pemuda (MCCY) serta Dewan Warisan Nasional (NHB).

Dalam pernyataan pers bersama yang dirilis olehChannel News Asia, pihak berwenang menyatakan bahwa Wakil Menteri Kebudayaan, Komunitas, dan Pemuda David Neo telah mengeluarkan perintah pelestarian untuk menjadikan lokasi tersebut sebagai situs yang dilindungi berdasarkan Undang-Undang Pelestarian Monumen 2009. Perintah tersebut mulai berlaku pada hari Sabtu.

Keputusannya mempertimbangkan keberatan tertulis yang diajukan oleh putra Lee Kuan Yew, Lee Hsien Yang kepada Kantor Perdana Menteri dan NHB pada 17 November 2025. “Dalam surat keberatannya, Lee Hsien Yang menyampaikan penolakan terhadap pelestarian lokasi tersebut, dengan menyatakan, antara lain, bahwa Lee Kuan Yew selama hidupnya secara jelas dan tegas menginginkan rumahnya di 38 Oxley Road dihancurkan,” ujar MCCY dan NHB.

“Berdasarkan prosedur yang telah ditetapkan sesuai dengan Undang-Undang Pelestarian Monumen, NHB telah meninjau surat keberatan tersebut dan mempertahankan rekomendasinya bahwa lokasi tersebut pantas dijaga sebagai Monumen Nasional karena nilai sejarah dan kepentingan nasionalnya,” kata MCCY dan NHB.

Dalam menentukan untuk melanjutkan pelestarian lokasi tersebut, MCCY dan NHB menyebutkan bahwa surat protes Lee Hsien Yang tidak meragukan makna sejarah atau pentingnya nasional dari lokasi tersebut. Lee Hsien Yang juga tidak mempertanyakan proses penilaian yang digunakan untuk menentukan potensi monumen nasional. Ia juga tidak membantah pendapat Dewan Penasihat Pelestarian Situs dan Monumen terkait kelayakan pelestarian lokasi tersebut.

Dalam Laporan Komite Menteri tahun 2018 mengenai 38 Oxley Road, tercatat dengan jelas bahwa meskipun keinginan pribadi Lee Kuan Yew adalah agar bangunan di alamat tersebut dirobohkan, beliau bersedia menerima alternatif lain selama ada penyiapan yang tepat untuk merehabilitasi bangunan dan memastikannya tetap layak ditempati; serta menjaga privasi keluarganya.

MCCY dan NHB menyatakan bahwa pelestarian lokasi tidak berarti bangunan dan struktur di tempat tersebut harus dipertahankan dalam kondisi semula.

Komite tersebut sebelumnya menyatakan bahwa rumah Lee Kuan Yew menjadi saksi berbagai peristiwa penting pada tahun 1950-an yang menandai perjalanan negara menuju kemerdekaan. Rumah ini bukan hanya tempat tinggal Perdana Menteri pendiri Lee Kuan Yew.

“Tempat ini juga menjadi tempat berlangsungnya percakapan, kegiatan, serta pengambilan keputusan oleh para pemimpin pendiri kita dan tokoh-tokoh penting lainnya, yang secara mendalam mempengaruhi arah perjuangan kemerdekaan Singapura dan sejarah nasional berikutnya,” ujar MCCY dan NHB.

Tempat ini menjadi saksi perdebatan di mana tokoh-tokoh penting merancang visi dan strategi mereka untuk Singapura, yang berujung pada pemerintahan pertama Singapura yang sepenuhnya mandiri setelah pemilihan Majelis Legislatif tahun 1959. Hal ini membuat tempat ini bagian yang istimewa dan penting dalam kisah kemerdekaan Singapura.

Pihak berwenang menyatakan bahwa keputusan untuk menjaga situs tersebut diambil demi kepentingan masyarakat dan melebihi keinginan pribadi siapa pun.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *