Juli 12, 2026

Isu pasar frontier, ahli: Indonesia tetap aman di pasar berkembang

0

Penjelasan Mengenai Status Pasar Saham Indonesia oleh Pengamat



Pengamat pasar modal, Hans Kwee menilai bahwa anggapan bahwa Indonesia berpotensi turun ke kategori Frontier Market (FM) yang dikeluarkan oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI) tidak memiliki dasar yang kuat. Menurutnya, saat ini pasar saham Indonesia masih memiliki 11 saham yang memenuhi seluruh persyaratan MSCI untuk kategori Emerging Markets (EM).

“Untuk saat ini pasar saham Indonesia ada 11 saham yang memenuhi tiga syarat di atas. Artinya, kalaupun ada beberapa saham Indonesia yang keluar pada penyesuaian Agustus 2026, jumlah saham Indonesia yang di atas kriteria itu masih lebih dari tiga. Artinya menyebut Indonesia akan turun ke FM adalah kurang berdasar,” ujar Hans dalam catatannya.

Persyaratan untuk Tetap Berada di Kategori Emerging Markets

Hans menjelaskan bahwa untuk mempertahankan status sebagai Emerging Markets, MSCI mensyaratkan sedikitnya tiga saham yang memenuhi tiga indikator utama, yaitu Company Size, Security Size, dan Security Liquidity.

Company Size mengukur total kapitalisasi pasar perusahaan (full company market capitalization). Untuk kategori Emerging Markets, nilai minimal yang dipersyaratkan mencapai USD 3,937 miliar.

Sementara itu, Security Size mengukur kapitalisasi pasar saham yang telah disesuaikan dengan jumlah saham beredar di publik (free float-adjusted market capitalization atau float market capitalization). Dalam perhitungan tersebut, MSCI menggunakan Foreign Inclusion Factor (FIF) untuk mengukur porsi saham yang benar-benar tersedia, likuid, dan dapat dibeli investor institusi internasional. Nilai minimal yang dipersyaratkan sebesar USD 1,969 miliar.

Adapun Security Liquidity mengukur likuiditas perdagangan saham agar investor institusi dapat melakukan transaksi dalam jumlah besar tanpa memicu gejolak harga yang ekstrem. Untuk memenuhi kategori Emerging Markets, saham harus memiliki Annualized Traded Value Ratio (ATVR) minimal 15 persen. Rasio tersebut mengukur tingkat aktivitas perdagangan saham selama satu tahun berdasarkan porsi saham publik (free float).

Alasan MSCI Memperhatikan Data Baru Indonesia

Hans memperkirakan alasan MSCI masih mempertahankan status pembekuan untuk Indonesia dikarenakan faktor data yang digunakan. Dimana, MSCI masih menggunakan data baru Indonesia hasil reformasi pasar modal yang dilakukan OJK dan SRO. Ia mengatakan, MSCI pasti perlu waktu untuk menerapkan data baru Indonesia yang saat ini lebih lengkap dan transparan.

“Data HSC dan klasifikasi investor yang naik dari 9 ke 39 serta data kepemilikan saham di atas 1 persen tentu akan mempertajam Analisa,” ujarnya.

Perkembangan Data dan Transparansi Pasar Modal

Dengan adanya peningkatan data dan transparansi pasar modal, MSCI akan semakin mudah untuk mengevaluasi kinerja pasar saham Indonesia. Hal ini juga akan membantu meningkatkan kredibilitas dan daya tarik pasar modal Indonesia bagi investor internasional.

Selain itu, peningkatan klasifikasi investor dan data kepemilikan saham di atas 1 persen menunjukkan bahwa struktur pasar modal Indonesia semakin matang dan siap untuk berkompetisi di pasar global.

Dengan begitu, meskipun ada kemungkinan perubahan dalam evaluasi MSCI, Indonesia tetap memiliki potensi untuk mempertahankan statusnya sebagai Emerging Markets. Peningkatan data dan transparansi menjadi kunci utama dalam menjaga posisi pasar saham Indonesia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *