, PAMEKASAN– Ketua Lembaga Dewan Adat (LDA) Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Koes Moertiyah Wandansari, yang dikenal dengan sebutan Gusti Moeng mengungkapkan asal usul Kanjeng Susuhunan Pakubuwono VII, Raden Mas Malikis Solikin.
Menurut Gusti Moeng, Pakubuwono VII adalah raja Keraton Solo yang memiliki keturunan Madura, khususnya dari Pamekasan.
Pakubuwono VII adalah putra dari Pakubuwono IV dan Ratu Raden Ajeng Sukaptinah, yang merupakan anak dari Adipati Tjakra Adiningrat I di Pamekasan.
Keturunan ini, menurut Gusti Moeng, dimulai pada abad ke-18, ketika Pakubuwono IV mengangkat Raden Ajeng Handoyo, putri tertua Adipati Tjakra Adiningrat I di Pamekasan sejak usia 8 tahun.
“Pada masa itu, Pakubuwono IV masih berstatus sebagai putra mahkota yang akan menjadi raja Keraton Surakarta dan masih tinggal di kawasan Bekonang,” katanya, Senin (16/2/2206) dikutip dari Kompas.com.
Setelah menyelesaikan pendidikannya di pesantren, Pakubuwono IV dikawinkan dengan Raden Ajeng Handoyo.
Pernikahan antara Pakubuwono IV dan Raden Ajeng Handoyo menghasilkan kelahiran Gusti Sugandhi.
Namun, ketika Gusti Sugandhi berusia 1,5 tahun, ibunya bernama Raden Ajeng Handoyo meninggal dunia.
Pakubuwono IV kemudian memimpin kerajaan tanpa memiliki seorang istri.
Setelah menjadi raja, Pakubuwono IV berkeinginan untuk mempertahankan hubungan kekerabatan dengan Adipati Tjakra Adiningrat I dengan cara menikahi saudara perempuan almarhum Raden Ajeng Handoyo, yaitu Raden Ajeng Sukaptinah.
“Untuk memperkuat ikatan keluarga, Pakubuwono IV menikahi saudara kandung Raden Ajeng Handoyo. Ia adalah Raden Ajeng Sukaptinah dan memiliki keturunan bernama Raden Mas Malikis Solikin,” katanya.
Pernikahan antara Pakubuwono IV dengan Raden Ajeng Sukaptinah menghasilkan putra bernama Raden Mas Malikis Solikin yang nantinya menjadi raja Keraton Surakarta, yaitu Pakubuwono VII.
Karena itu, pada masa itu Pakubuwono VI dibuang oleh VOC ke Maluku hingga akhirnya meninggal di Ambon.
Pada masa itu, anaknya belum lahir.
“Saat putra Pakubuwono VI berusia 9 tahun dan belum mampu meneruskan tahta, raja digantikan oleh pamannya, yaitu Pakubuwono VII yang merupakan anak dari Pakubuwono IV, Raden Ajeng Sukaptinah dari Pamekasan,” katanya.
GKR Wandansari yang dikenal dengan panggilan Gusti Moeng menyatakan bahwa dua selir Pakubuwono IV berasal dari Pamekasan.
Seorang ratu saat PB IV belum berkuasa, dan seorang ratu ketika ia menjadi Raja Keraton Surakarta.
Ia menyampaikan bahwa telah menyerahkan buku hasil penulisan kembali dan penerjemahan yang berisi riwayat perjalanan utusan Keraton Surakarta menuju Pamekasan, Madura.
Dalamnya terdapat kisah perjalanan utusan keraton Surakarta bersama Kiai Rojomolo ke Madura.
Terdapat sebuah perahu yang memiliki panjang 36 meter dan lebar 8 meter, sementara di sepanjang perjalanannya terdengar suara alat musik gamelan.
Perjalanan dimulai dari sungai Bengawan Solo, melewati wilayah Gresik, hingga akhirnya tiba di Pamekasan, Madura.
“Pakubuwono IV benar-benar jatuh cinta kepada Raden Ajeng Handoyo. Ia menciptakan tarian khusus untuk menyampaikan keinginannya menikahi Raden Ajeng Handoyo,” katanya.
Gusti Moeng menambahkan bahwa putra kandung Pakubuwono IV bersama Raden Ajeng Handoyo menciptakan tarian atau serimpi Ludiro Maduro yang disebut Ludiromadu.
Serimpi menggambarkan rasa bangga terhadap ibu. Selain itu, dalam tarian tersebut disampaikan bahwa dia memiliki keturunan Madura.
“Dengan bangganya, dalam lagu tersebut digambarkan bahwa tidak ada orang yang lebih baik dari ibunya dan disebutkan bahwa ia memiliki darah Madura. Sejak saat itu, terus berlangsung hingga Pakubuwono XII, baru kemudian sampai pada saya,” katanya.
Diketahui bahwa Pakubuwono VII memimpin antara tahun 1830 hingga 1858. Pemerintahannya berlangsung setelah kemerdekaan dari VOC, dan ia meninggal pada 10 Mei 1958. (*)
Artikel ini telah tayang di Kompas.com.







