Natal, bicara kesederhanaan dan tanggung jawab ekologi yang berkelanjutan

Saya percaya, di setiap momen, semua orang punya cerita yang berbeda. Begitupun perayaan Natal yang dirayakan umat Kristiani di seluruh dunia 3 hari lalu.

Ada yang bilang ajang pamer, ada pula yang bicara komersialisasi. Terserah saja. Bagi saya, Natal kali ini terasa berbeda, dalam arti yang positif tentunya. Lebih sederhana tapi jauh lebih bermakna.

Bacaan Lainnya

Pagi menjelang siang, kala kelahiran Yesus diserukan dari mimbar, suara Pdt Boas P. Tarigan yang bertugas, tercekat. Ia tak kuasa menahan tangis.

1.000 lebih saudara kita meninggal karena musibah banjir di Sumatera. Kehangatan Natal yang harusnya bisa dinikmati bersama keluarga, kini harus dirayakan berselimut duka. Harta benda, orang tercinta, semua sirna. Barangkali, beberapa di antaranya hanya tersisa raganya saja, sendiri. Membangun lagi, entah apa.

Anak-anak yang harusnya sibuk menghafal liturgi untuk diserukan di malam Natal berbalut pakaian barunya yang lucu dan sepatu berlampu, kali ini mungkin masih berselimut tenda darurat dan melihat orang tuanya yang menangis pilu.

Luka itu terasa sejak pertama, hingga kini, bahkan masuk ke segala sudut gereja. Di sana, kami berdoa bersama. Menikmati kasih Kristus yang sudah lahir ke dunia dan berdoa untuk seluruh korban bencana.

Tidak banyak yang kami minta, hanya hati yang kuat dan percaya yang tetap ada meski tersisa sedikit saja.

Dalam khotbahnya, Pendeta juga meminta agar setiap manusia lebih ‘manusia’ dan hidup dengan tanggung jawab ekologi. Menjadi manusia yang sadar dan yang peduli dengan lingkungan. Topik yang sama yang disuarakan saat perayaan malam Natal.

Saya tidak pernah membayangkan, Natal yang identik dengan kehangatan, keceriaan dan raut bahagia, tiba-tiba bicara ekologi dengan air mata.

Tapi mungkin di era kerakusan yang terpantik di hati para penguasa, gereja juga bertanggung jawab melakukan pendekatan untuk memberikan kesadaran.

Sederhana dan lebih bermakna

Sudah pemandangan lumrah, saat Desember tiba, ornamen Natal menghiasi di setiap sudut gereja: mulai dari pohon natal, garland, lampu kerlap kerlip, slinger sampai kain yang disulap sebagai hiasan.

Kali ini berbeda. Ada pohon natal tentu saja, berbeda dengan tahun sebelumnya, sisi kiri dan kanan hanya berhias sticker dengan nuansa natal. Jauh lebih sederhana. Empati yang hadir menyadari banyak keluarga korban bencana yang tak bisa merayakannya dengan nuansa yang sama.

Kembali tentang tangung jawab ekologi, gereja tidak hanya sekadar bicara. Pasca terjun langsung ke daerah bencana, gereja turut berbenah. Di sisi luar sana, ada tempat khusus sampah botol AMDK (Air Minum Dalam Kemasan) yang sengaja disediakan untuk tempat botol tersebut terpisah dengan tempat sampah lainnya.

Langkah kecil, tapi menunjukkan upaya kepedulian dengan lingkungan.

Sebelum ibadah berlangsung, pengumuman lantang disuarakan, agar setiap orang bertanggung jawab dengan sampahnya masing-masing. Upaya pengingat juga dilakukan lewat screen agar setiap jemaat bisa membaca.

Saya harap, ada lebih banyak gerakan yang diinisiasi gereja untuk mengingatkan gaya hidup yang baik terhadap alam dan lingkungan baik lewat postingan sosial media juga lewat pengumuman yang disampaikan saat ibadah berlangsung.

Natal ternyata sama hangatnya meski tanpa baju baru 

Jika tahun-tahun sebelumnya, satu bulan sebelum Natal tiba, tangan sudah gatal berburu baju baru, lagi-lagi kali ini berbeda. Niatan tentu ada, tapi ternyata saya pribadi bisa lebih sadar diri dan memutuskan untuk beribadah dengan baju lama yang saya sendiri sudah lupa memilikinya, serta sepotong rok mama waktu masa gadisnya. Cantik sekali.

Dengan nuansa merah, dan polesan make up sederhana, ternyata hari itu Natal tetap berlangsung hangat dan hikmat. Nilainya tetap sama dan maknanya tetap masuk ke relung hati. Saya berhasil mengalahkan ego dan komersialisasi Natal yang masif di luar sana. Natal ini, saya berhasil membuat keputusan yang begitu bijaksana dengan menahan diri tidak menambah satu potong pakaian yang nantinya akan jadi sampah.

Seharusnya memang demikian. Kita terlalu terlena dengan tawaran-tawaran duniawi untuk mempercantik diri di perayaan hari-hari besar agama, sampai lupa makna sebenarnya.

Kira-kira tahun 4 Sebelum Masehi, Maria dan Yusuf tidak mendapatkan penginapan, hanya ada kandang, di atas palungan, di sanalah Anak Allah yang kudus lahir ke dunia. Kecil, sederhana, namun seluruh dunia bersukacita.

Bukan para pejabat dan tetua agama yang lebih dahulu tau tentang kelahiranNya, tapi para gembala yang tinggal di padang menjaga kawanan ternak mereka pada waktu malam tiba.

Sekadar mengingatkan saja, seperti inilah kondisi ketika Kristus lahir ke dunia.

BPS dan Kementerian Agama, pada tahun 2023 menunjukkan jumlah penduduk Kristen dan Katolik di Indonesia sebanyak 29,2 jt jiwa. Agama terbesar kedua setelah Islam.

Di masa Natal dan jelang tahun baru, banyak promo menarik yang ditawarkan oleh brand-brand fashion, lokal maupun internasional. Bersamaan dengan itu, momen gajian dan THR mendukung pula untuk mewujudkan belanja apa saja yang – rasanya sangat – dibutuhkan kala itu.

Kita kalap, berbelanja mumpung murah. Berbelanja mumpung THR nya baru turun juga. Upaya sukacita dan berbagi, membeli hal yang sama untuk semua anggota keluarga. Tidak ada yang tidak kebagian. Sepatu, baju, tas, hingga perhiasan baru. Semua dapat.

Pakaian baru saat malam Natal, bertukar yang baru lainnya di Hari Natal, pakaian baru lain – lagi – di perayaan tahun baru. Tiga pakaian baru yang berbeda untuk perayaan yang berbeda pula.

Saya paham betul, hadir ke hadapan Allah memang baiknya menampilkan diri yang terbaik, tapi entah sejak kapan, yang terbaik dimaknai dengan barang baru yang menempel di badan kita.

Jika semua orang melakukan hal serupa, 29,2 juta pakaian baru siap-siap jadi sampah lingkungan. Sebanyak 29,2 pasang sepatu yang akan jadi barang rongsokan.

Jika produk yang dibeli menerapkan quality over quantity, panjang umur produknya. Jika ternyata fast fashion dengan kualitas yang minim, kita punya beban yang cukup besar untuk memikirkan kemana barang-barang itu ‘berlabuh’ nantinya.

Barangkali kita tidak punya akses untuk berkontribusi langsung dengan penanaman pohon di hutan, tapi tanggung jawab ekologi bukan soal itu saja, termasuk pula kewarasan kita hidup berdampingan dengan teknologi namun tetap menerapkan hidup yang berkelanjutan, salah satunya dengan lebih sadar terhadap cara berpakaian.

Selamat Natal bagi semua yang merayakan. Semoga kasih Allah menyentuh setiap kita untuk menjadi individu yang lebih manusiawi terhadap lingkungan dengan cara apapun yang kita bisa terapkan.

Pos terkait