Isi Artikel
- 1 1. Kaya kehilangan status sebagai istri sah menurut hukum
- 2 2. Visa pernikahan Kaya secara otomatis berakhir dan ia menghadapi ancaman deportasi
- 3 3. Perlindungan hukum bagi korban kekerasan hilang begitu saja
- 4 4. Trauma masa lalu justru dijadikan sebagai bukti untuk menentangnya
- 5 5. Kaya dianggap sebagai pihak yang bersalah
Di episode 5–6 drama Pro Bono(2025), tim Pro Bono menghadapi kasus yang sangat rumit, yaitu Kaya (Jung Hoe Rin), seorang perempuan imigran yang tinggal di Korea dengan visa pernikahan. Kaya datang dengan maksud bercerai dari suaminya karena pengalaman kekerasan dan trauma yang dialaminya selama pernikahannya.
Namun, proses hukum berjalan lebih rumit ketika jalur yang awalnya diambil adalah perceraian, tetapi kemudian berubah menjadi pembatalan pernikahan. Secara sekilas, keduanya sama-sama mengarah pada perpisahan. Namun bagi Kaya, pembatalan pernikahan memiliki konsekuensi yang jauh lebih besar. Keputusan ini tidak hanya memutus hubungan suami-istri, tetapi juga menghilangkan status hukum, perlindungan, dan rasa aman yang seharusnya diperoleh korban kekerasan. Berikut dampak dari pembatalan pernikahan terhadap Kaya.
Setelah pembatalan pernikahan diterima, hubungan antara Kaya dan suaminya dianggap tidak pernah terjadi sejak awal. Secara hukum, statusnya sebagai istri sah hilang sepenuhnya, seakan-akan pernikahan itu tidak pernah berlangsung.
Akibatnya, segala bentuk pengakuan terhadap kekerasan yang dialami Kaya dalam pernikahannya juga hilang. Ia tidak lagi dianggap sebagai korban dalam hubungan rumah tangga, melainkan sebagai pihak yang dianggap memiliki masalah sejak awal.
2. Visa pernikahan Kaya secara otomatis berakhir dan ia menghadapi ancaman deportasi
Karena izin tinggal Kaya bergantung pada visa pernikahan internasional, batalnya pernikahan secara langsung menyebabkan status tinggalnya tidak sah dan dianggap sebagai imigran ilegal. Akibatnya, ia akan kehilangan dasar hukum untuk tetap berada di Korea.
Pada kondisi ini, Kaya tidak lagi dianggap sebagai korban yang membutuhkan perlindungan, melainkan sebagai imigran yang perlu dikembalikan ke negara asalnya. Ancaman deportasi menjadi akibat nyata yang mengancam masa depannya.
3. Perlindungan hukum bagi korban kekerasan hilang begitu saja
Jika perceraian diterima, Kaya masih memiliki dasar hukum sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga dan pelecehan seksual. Status ini memberikan akses terhadap perlindungan, baik dari segi hukum maupun sosial.
Namun, dengan pembatalan pernikahan, hubungan hukum tersebut hilang. Pemerintah tidak lagi wajib melindunginya sebagai korban kekerasan dalam rumah tangga karena pernikahan dianggap tidak pernah terjadi. Selain itu, hukuman yang sebelumnya diberikan kepada mertua laki-laki karena pelecehan seksual juga bisa dibatalkan, dan pelaku akan dilepaskan.
4. Trauma masa lalu justru dijadikan sebagai bukti untuk menentangnya
Faktor utama yang mendukung pembatalan pernikahan Kaya adalah fakta bahwa ia pernah melahirkan di negara asalnya sebelumnya, dan Kaya tidak pernah menyampaikan fakta ini kepada suaminya sebelum menikah. Namun, kejadian tersebut sebenarnya merupakan bagian dari masa lalu Kaya sebagai korban pelecehan seksual anak yang semestinya dianggap sebagai privasi dan trauma yang dilindungi.
Fakta tersebut merupakan bagian dari luka kehidupan yang sulit untuk diungkapkan secara sembarangan. Sayangnya, dalam proses hukum, pengalaman menyakitkan itu justru dimanfaatkan untuk melemahkan posisinya. Kebiasaan yang muncul dari trauma dianggap sebagai tindakan penipuan, bukan sebagai upaya untuk bertahan hidup.
5. Kaya dianggap sebagai pihak yang bersalah
Dampak paling menyedihkan dari pembatalan pernikahan adalah perubahan status Kaya di mata hukum dan masyarakat. Ia kini tidak lagi dianggap sebagai wanita yang membutuhkan perlindungan, melainkan sebagai pihak yang dianggap bersalah sejak awal.
Dalam proses ini, kekerasan yang dialaminya secara perlahan mulai tergeser dari fokus utama. Kaya kembali mengemban tanggung jawab, bukan hanya sebagai korban kekerasan, tetapi juga sebagai pihak yang harus menerima dampak dari sistem yang gagal melindunginya.
Melalui karakter Kaya dalam drama KoreaPro Bonodi sini, terlihat bahwa pembatalan bukan hanya keputusan administratif, tetapi juga bentuk penghapusan terhadap identitas dan perlindungan terhadap korban. Ketika pernikahan dibatalkan, yang hilang tidak hanya status hukumnya, tetapi juga pengakuan terhadap penderitaan yang nyata.
7 Keterkejutan Cerita di Paruh Kedua Drama Pro Bono 4 Alasan Kasus Kaya Dianggap Paling Rumit dalam Drama Pro Bono, Rumit!











