Zuckerberg Pindah Fokus Filantropi ke Sains dan AI

— Mark Zuckerberg kembali mengubah wajah pengaruhnya di tingkat global. Pendiri Meta Platforms ini secara resmi menghentikan pendanaan Chan Zuckerberg Initiative (CZI) terhadap FWD.us, organisasi advokasi pro-imigrasi yang ia dirikan bersama sejumlah tokoh Silicon Valley lebih dari sepuluh tahun lalu.

Keputusan ini menunjukkan perubahan strategis dalam filantropi Zuckerberg dari advokasi kebijakan publik menuju penelitian sains dan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

Bacaan Lainnya

Keputusan ini bukan hanya berupa penghentian bantuan dana, tetapi juga menjadi simbol perubahan arah kekuasaan filantropi teknologi. FWD.us, yang sejak 2013 berperan aktif dalam mendorong perubahan sistem imigrasi dan sistem peradilan pidana Amerika Serikat secara bipartai, pada tahun 2025 pertama kalinya tidak lagi mendapatkan pendanaan dari CZI, lembaga filantropi yang didirikan oleh Zuckerberg bersama istrinya, Priscilla Chan.

Dilansir dari Business Insider,Selasa (23/12/2025), dua sumber yang mengetahui kebijakan internal CZI mengungkapkan bahwa 2025 menjadi tahun pertama organisasi tersebut berhenti memberikan pendanaan kepada FWD.us. Keputusan ini merupakan puncak dari proses peralihan yang telah berlangsung sejak akhir 2022 dan secara administratif ditetapkan pada April 2025.

Perwakilan CZI menegaskan bahwa perubahan arah ini sudah direncanakan sejak lama. “Sekitar lima tahun yang lalu, kami menyampaikan bahwa kami akan kembali fokus pada pekerjaan inti kami dalam bidang sains, pendidikan, dan mendukung komunitas setempat. Sebagai bagian dari proses peralihan ini, kami memberikan dana dasar kepada FWD.us agar dapat melanjutkan pekerjaan mereka yang bersifat bipartisan. Kami telah memenuhi komitmen keuangan tersebut dan menghentikan pendanaan advokasi sosial kami,” kata perwakilan CZI kepadaBusiness Insider.

Bagi FWD.us, penghentian dukungan dari CZI tidak langsung mengubah tujuan organisasi. Presiden FWD.us Todd Schulte menegaskan bahwa arah pergerakan mereka tetap sama. “Fokus kami tetap pada upaya mendorong solusi yang realistis dan bersifat bipartai yang memperkuat perekonomian serta membuat sistem imigrasi dan peradilan pidana bekerja lebih baik,” ujar Schulte.

Namun, keputusan ini tidak bisa dipisahkan dari lingkungan politik yang lebih luas. Sejak Presiden Donald Trump terpilih kembali, Zuckerberg menunjukkan perubahan sikap yang lebih hati-hati terhadap isu-isu advokasi sosial. Pada tahun 2024, ia diketahui bertemu dengan penasihat Trump, Stephen Miller, yang dikabarkan mempertanyakan hubungan CZI dengan FWD.us.

Pada periode yang sama, hubungan Zuckerberg dengan lingkaran kekuasaan Washington semakin kuat. Meta memberikan dana sebesar 1 juta dolar AS—sekitar Rp16,7 miliar dengan nilai tukar Rp16.770 per dolar AS—kepada dana pelantikan Trump, serta ikut berkontribusi dalam pendanaan pembangunan ballroom baru Gedung Putih. Zuckerberg juga beberapa kali dilaporkan bertemu dan menghadiri makan malam bersama Trump setelah pemilu.

Selain itu, Meta juga berulang kali melakukan penyesuaian kebijakan platform yang dipandang mengakomodasi kritik kalangan konservatif. Perusahaan mengganti mekanisme pemeriksa fakta pihak ketiga dengan community notes dan melonggarkan definisi ujaran kebencian di Facebook dan Instagram. Langkah-langkah ini memperkuat persepsi bahwa Zuckerberg tengah menata ulang relasi politik dan bisnisnya.

Di sisi filantropi, CZI kini memusatkan sumber dayanya pada riset ilmiah dan AI, khususnya melalui jaringan laboratorium biologi Biohub yang telah didukung sejak 2016. Priscilla Chan secara terbuka menekankan kebutuhan infrastruktur komputasi dalam agenda baru ini. “Para peneliti kami tidak membutuhkan lebih banyak ruang kantor; yang mereka butuhkan adalah lebih banyak GPU,” ujarnya dalam pernyataan sebelumnya.

Pada akhirnya, perubahan arah CZI mencerminkan kecenderungan yang semakin menguat di kalangan elite teknologi global, ketika filantropi tidak lagi semata diposisikan sebagai instrumen advokasi sosial, melainkan sebagai investasi strategis pada sains dan kecerdasan buatan.

Bagi Mark Zuckerberg, keputusan menghentikan pendanaan advokasi imigrasi menandai fase baru: dari pengaruh kebijakan publik menuju penguasaan infrastruktur ilmu pengetahuan dan teknologi strategis dunia. ***

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *