Wisata Edukasi ke Museum Multatuli Lebak

Perjalanan Menarik ke Rangkas Bitung

Perjalanan kali ini, Click dan Kreatoria mengexplore kota Rangkas Bitung. Kebetulan, sejak stasiun Tanah Abang dan Stasiun Rangkas Bitung direvitalisasi, saya belum pernah kesana lagi. Maklum, sedang sibuk menata masa depan, jadi jarang banget keluar rumah. Senang banget bisa jadi member Click karena kegiatan Click yang berbasis kereta, jalan-jalan ke tempat bersejarah yang menyimpan sejuta kenangan bermakna, pas banget sama hobi saya.

Sabtu kemarin, 20 Desember 2025, Click & Kretoria explore stasiun Rangkas Bitung serta berkunjung ke museum Multatuli Lebak Banten dan ke rumah dinasnya Multatuli. Revitalisasi Stasiun Rangkasbitung hampir selesai dan gedung baru bernama Stasiun Rangkasbitung Ultimate sudah beroperasi sejak November 2025. Dengan fasilitas yang lebih modern dan lengkap seperti lift, eskalator, gate otomatis, area komersial UMKM, dan fasilitas ramah disabilitas. Dilengkapi juga dengan ruang tunggu yang nyaman, sekarang untuk calon penumpang kereta Merak serta mendukung rencana reaktivasi jalur ke Labuan tahun 2029 nanti.

Bacaan Lainnya

Stasiun Rangkasbitung Ultimate

“Stasiun Rangkasbitung Ultimate” lebih luas, dengan kapasitas penumpang meningkat pesat (hingga 85.000 orang/hari), fasilitas lengkap (lift, eskalator, gerbang otomatis), dan desain bernuansa lokal Baduy, ditargetkan rampung akhir 2025 untuk jadi hub transportasi penting di Banten.

Mengusung konsep modernisasi dengan sentuhan kearifan lokal, terutama pada Jembatan Penyeberangan Orang (JPO) yang menyerupai rumah adat Baduy. Dengan kapasitas meningkat dari 26.000 menjadi 85.000 penumpang per hari, melayani KRL Jabodetabek & Merak. Dengan fasilitas baru ada 7 lift, 5 eskalator, 15 gate otomatis, ruang tunggu, musala, ruang laktasi, dan toilet ramah disabilitas. Sistem keamanan CCTV 24 jam. Pembangunan ramp sisi utara/selatan, selasar, dan drop-off sedang dalam penyelesaian. Tujuan revitalisasi ini untuk menjadikan Stasiun Rangkasbitung sebagai stasiun hub utama di Banten, pusat transportasi, dan pendorong ekonomi baru, serta persiapan untuk reaktivasi jalur Rangkasbitung-Labuan.

Bagus banget kemarin pemandangannya, habis hujan langit bagus, gunung Krakatau terlihat sangat gagah seolah menunjukkan keberadaan. Jadi puitis kalau lihat pemandangan yang indah, tanpa mengurangi rasa bersyukur atas nikmat-Nya. Buat yang hobi fotografi wajib banget foto di JPO-nya bikin video ala-ala buat di sosmed pakai lagu sendu deh ajibbb… sebenarnya bikin betah sih tapi sayang ya belum ada kipas angin atau AC di stasiun jadi memang agak panas.

Museum Multatuli Lebak

Puas dokumentasi di stasiun Rangkasbitung, kami melanjutkan perjalanan mengunjungi museum Multatuli Lebak yang lokasinya 1 km lebih dari stasiun. Multatuli adalah sosok sentral yang, melalui tulisan dan pengalamannya, menyuarakan penderitaan rakyat jajahan dan menjadi katalisator perubahan kesadaran akan keadilan dan hak asasi manusia, menjadikannya tokoh yang sangat relevan dalam sejarah Indonesia.

Museum Multatuli bersebelahan dengan Perpustakaan Saidjah Adinda dan museum batik juga bersebrangan dengan kantor Bupati. Sayang museum batik kemarin tutup, padahal agenda kami juga kesana. Museum Multatuli Lebak Banten berada di Jl. Alun-Alun Timur diresmikan tanggal 11 Februari 2018 oleh Bupati Lebak, Hj Iti Octavia Jayabaya bersama Dirjen Kebudayaan Kemdikbud RI, Hilmar Farid. Museum ini menempati bangunan bekas Wedana Rangkasbitung tahun 1930an.

Ruangan-Ruangan di Museum Multatuli:

  • Ruang Selamat Datang, di dalamnya kita disambut dengan mozaik wajah Multatuli yang terbuat dari potongan-potongan aklirik. Selain itu di ruangan pertama ini juga terdapat patung wajah Multatuli serta kutipan kata-katanya “TUGAS MANUSIA ADALAH MENJADI MANUSIA”.

  • Ruang Kolonialisme, di ruangan kedua ini kami akan disuguhkan dengan konsep kedatangan Belanda ke Nusantara terutama ke Banten. Ruangan ini dilengkapi dengan beberapa replika dan video pendek mengenai kedatangan kolonialisme.

  • Ruang Tanam Paksa, dengan display interaktif dan menarik ruang ini menceritakan tentang masa tanam paksa.

  • Ruang Multatuli, ruangan ini menceritakan tentang kisah Multatuli dan karyanya Max Havelaar yang menceritakan tentang keadaan Lebak pada masa dia menjabat sebagai Asisten Residen di Lebak. Di ruangan ini terdapat koleksi buku Max Havelaar asli yang di datangkan dari Belanda dan video pendek Multatuli.

  • Ruang Banten, di ruang ini terdapat beberapa informasi tentang pergerakan-pergerakan di Banten oleh masyarakat yang melawan penjajah.

  • Ruang Lebak, menceritakan sejarah Lebak berdasarkan timeline, dilengkapi dengan video dan hasil budaya Lebak saat ini.

  • Ruang Rangkasbitung, ruang ketujuh ini merupakan ruang temporer sekaligus ruang terakhir menuju pintu keluar museum. Pada saat ini terdapat buku Max Havelaar yang dapat dibaca pengunjung serta profil orang-orang yang memiliki kisah di Rangkasbitung.

Di halaman museum sendiri terdapat toko souvenir khas Lebak Banten, patung Adinda, patung Multatuli dan rumah adat Lebak. Oh ya, disini ada kantin dan juga mushola di depan museum juga banyak jajanan dan cemilan. Setelah rehat sejenak makan siang dan sholat duhur, kami kembali melanjutkan ke rumah dinasnya Multatuli yang ada di komplek RSUD Adjidarmo. Sayangnya bangunan ini tidak terbengkalai tidak terurus dan hampir roboh jadi hanya bisa melihat dari halamannya saja.

Pengalaman Wisata Edukasi

One day one trip ke Rangkasbitung bisa jadi ide menarik untuk mengisi liburan sekolah dan menjadi wisata edukasi. Disini juga ada ritual tahunan suku Baduy untuk bersilahturahmi dan menyerahkan hasil bumi kepada Pemerintah daerah Banten “Seba Baduy” menjadi momentum penting untuk menjaga tradisi, mempererat persaudaraan dan menunjukkan kekayaan budaya Banten.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *