– Saat menggelar sosialisasi 4 Pilar Kebangsaan di aula Kecamatan Mendahala Ulu, Tanjung Jabung Timur, Jambi, anggota Dewan Perwakilan Daerah Republik Indonesia (DPD RI) Dato’ H. Abu Bakar menerima beragam aspirasi warga agar segera direalisasikan.
Aspirasi ini disampaikan salah seorang peserta kepada Dato’ Abu Bakar selesai memaparkan materi, pada Sabtu (13/12/25).
“Dato’, dalam mukaddimah UUD 45 disebutkan Dan perjuangan pergerakan kemerdekaan Indonesia telah sampailah kepada saat yang berbahagia dengan selamat sentosa mengantarkan rakyat Indonesia ke depan pintu gerbang kemerdekaan negara Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil dan makmur,” ujar seorang penanya, seraya membaca alinea kedua pembukaan UUD melalui layar gawainya.
“Tapi sampai saat ini kami masih belum merasa mendapatkan keadilan dan kemakmuran. Buktinya, saat penduduk Jawa bisa membeli solar dan gas LPG kapan pun dan di mana pun secara langsung, kami Pak, warga Jambi dan mungkin warga lain yang tinggal di Sumatera ini, terutama yang ada di pedesaan, selalu antre Pak,” sambung sang peserta.
“Saya yakin, selama perjalanan, Bapak pasti bertemu dengan antrean kendaraan yang antre BBM terutama solar. Bapak mungkin tidak bertemu dengan antrean masyarakat untuk membeli gas LPG, bukan karena stok ada dan tersedia Pak. Tapi karena barangnya memang tidak ada. Jadi mohon Bapak desak pemerintah pusat untuk bersikap adil dalam memenuhi kebutuhan penduduk Indonesia. Jangan hanya fokus di daerah tertentu saja. Karena kami juga bayar pajak Pak,” lanjut sang peserta itu.
“Betul…,” sambut peserta yang lain.
Mendapat pertanyaan ini, Abu Bakar Jamalia berjanji menyampaikan aspirasi kepada pemerintah pusat. Terutama kementerian yang membidangi energi.
Anggota DPD RI Dapil Jambi ini juga membenarkan bahwa sampai saat ini pembangunan Indonesia masih belum merata dan belum mencerminkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat seperti yang termuat dalam sila Kelima.
Acara yang cukup meriah ini berlangsung dari pukul 13.00 WIB sampai menjelang adzan maghrib, tepatnya pukul 17.30 WIB, dan dihadiri sekitar 200 peserta. Mereka terdiri dari forum RT/RW, perangkat desa, dan tokoh masyarakat se-Kecamatan Mendahara Ulu.
Warga Antusias
Yang menarik adalah warga selalu menolak saat moderator akan menutup sesi ini. Mereka seolah ingin memanfaatkan pertemuan dengan anggota parlemen sebagai ajang untuk menyampaikan keluhan. Padahal, paparan materi yang disampaikan oleh Abu Bakar hanya berlangsung sekitar satu jam. Sisanya, tanya jawab antara rakyat dan wakilnya.
Dalam paparannya, politisi kelahiran Kuala Tungkal ini menjelaskan tentang pentingnya meresapi dan menerapkan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Pancasila, UUD NRI 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika dalam kehidupan sehari-hari.
Contoh yang disampaikannya pun sederhana. Nyata dalam realitas interaksi sosial masyarakat.
“Orang yang patuh pada agamanya, hakikatnya dia telah menerapkan Pancasila dalam kehidupan. Orang yang berlalu lintas dengan baik dan benar, tidak melanggar rambu dan aturan dalam berkendara, sudah bisa dikatakan sebagai orang yang menerapkan UUD 1945,” terang Abu Bakar Jamalia.
“Orang yang menghormati tetangga, kawan, sahabat, atau siapa pun yang berbeda latar balakang suku, ras, dan agama, berarti ia telah menerapan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Sedangkan orang selalu menjunjung tinggi persatuan dan kesatuan, dan menyampaikan aspirasi dengan baik melalui jalur-jalur yang benar, adalah orang yang paham dan sudah menerapkan semangat yang terkandung dalam konsepsi NKRI,” sambung pria yang akrab disapa Dato’ tersebut.
Setelah acara selesai, Dato’ Abu Bakar Jamalia tidak langsung meninggalkan lokasi, ia meminta aparat desa dan kecamatan serta moderator untuk menyusun semua aspirasi yang berhasil dihimpun secara sistematis dan runtut. Tujuannya untuk memudahkan penyampaiannya kepada kementerian yang sesuai.*







