Padang — Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot Tanjung mengungkapkan bahwa wilayah Bukittinggi hingga Payakumbuh menjadi area yang rentan terhadap antrian bahan bakar minyak (BBM) di Sumatra Barat. Kondisi ini disebabkan oleh keterlambatan distribusi BBM melalui jalur logistik utama. Pemerintah memfokuskan pengawasan pada daerah tersebut karena paling cepat terdampak ketika pengiriman BBM tidak tiba sesuai jadwal selama periode Natal 2025 dan Tahun Baru 2026 (Nataru).
“Jika daerah seperti Bukittinggi, Batu Sangkar, Payakumbuh, dan Kabupaten Agam mengalami keterlambatan hingga delapan jam, antrian masyarakat bisa menjadi cukup panjang,” ujar Yuliot saat berada di PT PLN Unit Induk Distribusi (UID) Sumatra Barat, Kota Padang.
Meski demikian, Wamen ESDM menilai secara umum pasokan BBM di Sumbar masih dalam kondisi normal. Tekanan distribusi muncul ketika arus pengiriman melalui jalur Sitinjau Lauik mengalami kemacetan panjang, sehingga suplai ke sejumlah daerah tertahan selama enam hingga delapan jam.
Hasil pemantauan lapangan menunjukkan bahwa antrian di sebagian besar SPBU mulai terurai. Meskipun begitu, pemerintah tetap memberikan perhatian khusus pada wilayah-wilayah rawan untuk mencegah penumpukan kendaraan berulang ketika distribusi kembali tersendat.
Yuliot menjelaskan bahwa pemantauan dilakukan dengan menyusuri sejumlah daerah di Sumatra Barat guna melihat langsung kondisi pasokan dan antrian BBM di lapangan. Ia menilai pengecekan langsung menjadi bagian penting dalam menjaga kelancaran distribusi energi selama libur akhir tahun.
“Saya pagi tadi dari Pasaman Barat, Pasaman, Agam, dan juga melintas di Padang Pariaman, lalu pada sore hari tiba di Kota Padang. Untuk ketersediaan BBM, yang saya lihat di SPBU berdasarkan pengecekan, alhamdulillah sudah tidak ada antrian yang cukup signifikan, hanya beberapa kendaraan yang masih mengantri,” katanya.
Untuk meredam risiko antrian, pemerintah meningkatkan cadangan BBM di Sumatra Barat. Rata-rata stok yang sebelumnya berada di kisaran sembilan hari kini dinaikkan menjadi 13 hari. Pada jenis BBM tertentu, seperti Pertamax Turbo, ketahanan stok bahkan mencapai 35 hari guna menjaga keberlanjutan pasokan.
Pengamanan pasokan juga diperkuat melalui koordinasi distribusi LPG. Pemerintah mendorong PT Pertamina bekerja bersama pemerintah daerah dan Kepolisian RI agar pengiriman BBM dan LPG memperoleh pengawalan sehingga hambatan distribusi dapat ditekan.
Distribusi energi turut dipercepat lewat skema suplai silang antardaerah. Pola ini memungkinkan terminal BBM di satu wilayah menopang kebutuhan wilayah lain ketika jalur utama mengalami gangguan.
“Integrated Terminal Teluk Kabung di Sumatra Barat melayani daerah-daerah di Sumatra Utara seperti Sibolga dan Tapanuli. Sejumlah wilayah di Sumatra Barat juga mendapat suplai dari Integrated Terminal Dumai,” tutur Yuliot.
Dari sisi kelistrikan, laporan per 23 Desember mencatat sistem kelistrikan Sumbar berada dalam kondisi normal. Dari total 274.564 pelanggan terdampak bencana, sebanyak 274.419 pelanggan telah kembali menikmati aliran listrik, dengan PLN menyalurkan genset dan lampu darurat bagi pelanggan yang masih menunggu pemulihan.






