Baru-baru ini, sebuah video viral di media sosial yang memperlihatkan seorang pria membela nenek yang tidak bisa membeli makanan di toko Roti’O karena hanya membayar tunai. Video ini diunggah melalui TikTok oleh akun @arlius_zebua. Nenek tersebut tidak bisa membeli roti karena hanya memiliki uang tunai atau cash, sedangkan Roti’O hanya melayani pembayaran secara nontunai.
Pihak Roti’O sudah menyatakan permohonan maaf atas kejadian yang beredar dan menimbulkan ketidaknyamanan di tengah masyarakat. Dalam pernyataan tertulis yang diunggah di Instagram @rotio.indonesia, Roti’O menyatakan penggunaan aplikasi dan transaksi nontunai bertujuan untuk memberikan kemudahan serta memberikan berbagai promo dan potongan harga bagi pelanggan.
Roti’O mengatakan akan mengevaluasi kebijakannya. “Saat ini kami sudah melakukan evaluasi internal agar kedepannya tim kami dapat memberikan pelayanan yang lebih baik,” tulis Roti O dikutip Senin (22/12).
Roti’O merupakan sebuah bisnis makanan dan minuman dengan produk utamanya berupa roti dengan isian mentega berhiaskan krim kopi di atasnya. Roti O berada di bawah naungan PT Sebastian Citra Indonesia. Dilansir dari laman resminya, Roti’O mulai beroperasi sejak 2012. Hingga kini bisnis ini telah memiliki lebih dari 2000 karyawan, serta 700 toko yang tersebar di 110 kota di Indonesia.
Selain itu, Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan rupiah merupakan simbol kedaulatan Republik Indonesia. Sehingga, masyarakat harus memiliki rasa bangga dan cinta terhadap mata uang itu. Untuk itu, BI menggelar Festival Rupiah Berdaulat Indonesia (Ferbi) guna meningkatkan kesadaran tentang cara memaknai Rupiah yang berdaulat.
“Tujuan dari Ferbi adalah untuk memaknai Rupiah sebagai simbol kedaulatan RI. Makanya kami lakukan setiap proklamasi kemerdekaan,” ujar Perry saat kegiatan Ferbi di Jakarta, Jumat (18/8/2023). Perry menjelaskan, rupiah mengandung unsur-unsur yang menyimbolkan kedaulatan negara, seperti gambar tokoh-tokoh pahlawan serta kekayaan budaya Indonesia.

Lebih lanjut, Perry mengatakan, rupiah sebagai simbol kedaulatan juga terefleksikan pada tiga fungsi rupiah sebagai alat pembayaran serta perkembangan ke depannya. Rupiah sebagai alat pembayaran berfungsi dalam tiga bentuk, yakni sebagai uang kertas dan logam, alat pembayaran berbasis rekening atau kartu, dan pembayaran digital.
Pembayaran digital Rupiah telah dikembangkan melalui QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) yang menjadi standar pembayaran berbasis QR secara nasional. Selain itu, BI juga mengembangkan kegunaan QRIS, yaitu melalui QRIS TUNTAS yang baru diluncurkan kemarin, Kamis (17/8/2023). QRIS TUNTAS berfungsi untuk melayani transaksi tunai, transfer, dan setor tunai untuk masyarakat yang tidak memiliki rekening perbankan, termasuk di daerah pelosok atau wilayah terdepan, terluar, dan terpencil (3T).
Peluncuran QRIS TUNTAS bertujuan untuk meningkatkan inklusi keuangan melalui perluasan akses pembayaran digital kepada seluruh lapisan masyarakat. Perry menyebut, biaya layanan QRIS TUNTAS terbilang murah, yakni Rp 5.000 untuk tarik tunai, Rp 6.500 untuk setor tunai, Rp 2.500 untuk transfer di bawah Rp 100.000, dan Rp 2.000 untuk transfer di atas Rp 100.000.
“Jadi, kami membangkitkan semangat kedaulatan NKRI kita. Mari kita cintai Rupiah tidak hanya sebagai uang kertas, tapi juga sebagai simbol kedaulatan,” ujar dia.




