Isi Artikel
- 1 Awal Mula Teror Berawal dari Kritik Tajam BEM UGM terhadap Prabowo-Gibran hingga Penyediaan Anggaran MBG
- 2 Tiyo Ardianto Dikagetkan Oleh Ancaman LGBT Hingga Korupsi
- 3 Peningkatan ancaman teror semakin memburuk, ada rencana operasi pembunuhan
- 4 Ancaman terhadap Ibu di desa Pengaruh terhadap Ibu di kampung Tekanan terhadap Ibu di wilayah pedesaan Perilaku mengancam terhadap Ibu di daerah pedesaan Tindakan memaksa terhadap Ibu di desa
- 5 Puluhan Anggota BEM Mengalami Ancaman
- 6 Tidak Lelah Tiyo Mengkritik Program MBG Lagi
Ringkasan Berita:
- Teror yang awalnya dialami oleh Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, semakin memburuk. Kini dia menghadapi isu terkait LBGT.
- Ibunya juga mendapatkan ancaman melalui pesan singkat, yang menyebut bahwa Tiyo Ardianto menggelapkan uang hingga tindakan penipuan dana.
- Teror kini menyebar hingga 30 pengurus BEM UGM.
, YOGYA –Serangan teror oleh pihak tak dikenal (OTK) semakin meluas, terbaru 30 pengurus BEM UGM juga menjadi korban serangan teror.
Teror ini merupakan bagian dari rangkaian kejadian teror yang sebelumnya menimpa Ketua BEM UGM, Tiyo Ardianto, mulai dari penculikan, pesan singkat hingga pengintaian.
Selanjutnya, ibu Tiyo Ardianto juga menjadi sasaran teror.
Tengah malam, notifikasi ponsel ibu Tiyo Ardianto berbunyi.
Isinya dugaan bahwa anaknya menggelapkan uang sebagai Ketua BEM UGM.
Sejak adanya kritik terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG) muncul, Tiyo Ardianto beserta keluarganya dan pengurus BEM UGM harus menghadapi ancaman yang tidak hanya terbatas pada serangan di media sosial.
Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Gadjah Mada (BEM UGM), Tiyo Ardianto, menyampaikan rangkaian ancaman tersebut dalam sebuah diskusi media yang diselenggarakan Kaukus Indonesia untuk Kebebasan Akademik (KIKA) dengan tema “Teror terhadap Mahasiswa Pengkritik MBG adalah Serangan Nyata terhadap Kebebasan Akademik!”, pada Selasa (17/2/2026).
Awal Mula Teror Berawal dari Kritik Tajam BEM UGM terhadap Prabowo-Gibran hingga Penyediaan Anggaran MBG
Menurut Tiyo, aksi teror dimulai pada 9 Februari 2026, tidak lama setelah BEM UGM mengeluarkan kritik tajam terhadap pemerintahan Prabowo-Gibran.
Termasuk penggunaan istilah “Presiden Bodoh” serta perhatian terhadap penyaluran anggaran Makan Bergizi Gratis (MBG)
“Kritik-kritik ini kemudian membawa kami, mulai tanggal 9 Februari, menghadapi serangkaian teror dari nomor-nomor tak dikenal yang menggunakan kode Inggris Raya. Jadi bukan +62 tetapi +44. Suara mereka sejak awal penuh ancaman dan tuduhan bahwa kami adalah agen asing. Mereka juga mengancam penculikan,” kata Tiyo.
Tiyo Ardianto Dikagetkan Oleh Ancaman LGBT Hingga Korupsi
Serangan awal, menurutnya, berupa perusakan reputasi melalui manipulasi digital dan penyebaran berita palsu secara besar-besaran di media sosial. Ia disebutkan dengan tuduhan tidak senonoh hingga korupsi dana mahasiswa.
“Meskipun demikian, mereka juga membuat konten yang kemudian dikirimkan ke saya dalam bentuk gambar ‘Hati-Hati LGBT di UGM’ dengan foto saya,” kata Tiyo.
Mohon maaf saya jelaskan di sini. Saya memang tidak memiliki kekasih, saya tidak memiliki pacar atau kekasih perempuan. Namun bukan berarti karena saya tidak punya pacar, lalu bisa dianggap seenaknya seperti itu.
Tidak hanya itu, di berbagai media juga muncul konten dan narasi yang sangat merusak reputasi seseorang. Yang pertama, mengenai isu LGBT, yang menurut saya sangat memualkan.
Ia juga menyebutkan bahwa foto tersebut diubah menggunakan teknologi kecerdasan buatan (AI).
“Ada konten pembunuhan karakter di mana foto saya dibuat dengan bantuan kecerdasan buatan dengan tulisan bahwa Tio ini adalah langganan, Tiyo suka menyewa LC karaoke. Lalu kita—jika boleh jujur sebagai anak muda—tidak memiliki kemampuan untuk berkomunikasi secara romantis kepada perempuan karena memang lahir di desa dan terbiasa dengan kepolosan seperti itu, apalagi LC,” katanya.
Selain masalah etika, Tiyo disangkakan mengatur penerima Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah.
“Kisah bahwa saya sebagai Ketua BEM UGM melakukan penggelembungan keuangan, khususnya terkait Kartu Indonesia Pintar Kuliah. Ada yang mengatakan bahwa Ketua BEM UGM memiliki hubungan kuat yang memungkinkan orang-orang yang direkomendasikannya mendapatkan KIP. Dan dari orang-orang yang menerima KIP tersebut, mereka harus membayar kepada saya. Kurang lebih seperti itu isinya,” katanya.
Ia juga menyangkal tuduhan tersebut.
“Saya mengatakan kepada beberapa orang bahwa jika memang Tiyo Ardianto melakukan penggelapan dana, pasti saya sudah dipecat dan tidak lagi menjabat sebagai Ketua BEM UGM,” tegasnya.
Peningkatan ancaman teror semakin memburuk, ada rencana operasi pembunuhan
Peningkatan ancaman teror, menurut Tiyo, tidak berhenti pada dunia maya. Ia mengungkapkan telah menerima informasi mengenai rencana operasi pembunuhan terhadap dirinya.
“Berikutnya juga ada ancaman dalam bentuk yang menurut saya lebih canggih dibandingkan panggilan dari nomor tak dikenal, yaitu adanya platform pergerakan yang dihubungi oleh akun asing yang mengaku sebagai dosen Unpad. Akun ini menghubungi sebuah platform pergerakan yang terkait dengan saya. Orang yang mengaku sebagai dosen Unpad tersebut menceritakan bahwa dia menerima informasi dari sebuah lembaga pemerintah—saya sebutkan di sini Badan Intelijen Negara (BIN). Nah, orang yang mengaku dosen Unpad ini menyampaikan bahwa BIN telah menyiapkan operasi pembunuhan terhadap Ketua BEM UGM,” katanya.
Ancaman terhadap Ibu di desa Pengaruh terhadap Ibu di kampung Tekanan terhadap Ibu di wilayah pedesaan Perilaku mengancam terhadap Ibu di daerah pedesaan Tindakan memaksa terhadap Ibu di desa
Bagian paling sulit, menurut Tiyo, terjadi ketika ibunya menjadi korban.
Ia menggambarkan ibunya sebagai seorang wanita dari desa yang tidak terbiasa dengan perubahan politik nasional.
“Nah, berikutnya yang terjadi pada ibu saya. Sebagai informasi, ibu saya bukanlah orang yang seperti saya,” kata Tiyo.
Jadi ibu saya adalah seorang perempuan sederhana dari desa, yang pendidikannya bahkan tidak sampai ke jenjang perguruan tinggi. Dalam situasi yang rentan tersebut, terdapat pesan yang masuk kepada ibu saya.
Bila terdapat dua pembaruan terakhir, yaitu tengah malam. Luar biasa, teroris ini mengetahui waktu yang paling rentan bagi ibu saya untuk merasa takut, yakni tengah malam, ketika ibu pasti dalam kondisi batin yang tidak stabil.
Isi pesan tersebut, selanjutnya, sangat merugikan.
“Pesan yang pertama adalah bahwa: ‘Anakmu Tiyo Ardianto sebagai Ketua BEM, dia menyalahgunakan uang.’ Itu yang tadi. Yang kedua adalah adanya berita: ‘Orang tua Ketua BEM kecewa karena anaknya menyalahgunakan uang.’ Dua pesan tersebut sampai kepada ibu saya. Dan ibu saya secara lisan, tanpa saya tanyakan, mengatakan bahwa ibu merasa cukup takut. Ibu merasa takut,” lanjutnya.
Puluhan Anggota BEM Mengalami Ancaman
Tidak hanya keluarga, sekitar 20–30 anggota BEM UGM juga mendapatkan ancaman serupa.
“Keesokan harinya, sekitar tanggal 15, sekitar 20-30 pengurus BEM—kami masih melakukan pencatatan jumlah korban dari ancaman ini, tapi sekitar 20-30—juga menerima ancaman dari nomor yang tidak dikenal. Pesannya sama dengan yang diterima oleh ibu, yaitu bahwa Ketua BEM UGM melakukan penipuan uang,” tambahnya.
Tidak Lelah Tiyo Mengkritik Program MBG Lagi
Di forum tersebut, Tiyo mengulang kritik BEM UGM terhadap program MBG.
“Ketika isu nasional kita adalah ketidaktahuan dan akses pendidikan yang terbatas, justru solusinya dikurangi menjadi MBG (Makan Bergizi Gratis) yang sebenarnya tidak bergizi dan juga tidak gratis. Bahkan, ini justru menjadi tempat korupsi yang sangat parah, sehingga lebih pantas disebut sebagai ‘pencuri dengan topeng gizi’,” kritiknya.
Ia juga menyoroti perbedaan anggaran.
“Seorang anak dari Ngada, NTT, memutuskan untuk mengakhiri hidupnya hanya karena gagal membeli pena dan buku dengan harga Rp 10.000. Saya merasa ini sangat kontras dan tragis, ketika kekuasaan saat ini menghabiskan jumlah uang yang sangat besar untuk MBG, yaitu sekitar Rp 1,2 triliun setiap hari atau Rp 335 triliun setiap tahun, sementara anggaran pendidikan sebesar Rp 223 triliun dikurangi,” katanya.
Mengenai perdebatan istilah “Presiden Bodoh”, ia memberikan pernyataan.
“Pasti, ketika kita membicarakan presiden, ini bukan tentang seseorang secara pribadi, melainkan tentang infrastruktur kekuasaan. Jadi ketika kami menyebut ‘presiden bodoh’, tentu bukan berbicara tentang tingkat kecerdasan seseorang bernama Prabowo Subianto, atau fungsi kognitif Prabowo Subianto yang biasanya sudah sangat tua. Tidak. Kami fokus pada adanya infrastruktur kekuasaan yang tidak kompeten, infrastruktur kekuasaan yang tidak menghargai ilmu pengetahuan. Itulah yang ingin kami sampaikan melalui istilah ‘presiden bodoh’,” jelasnya.
Tiyo juga menyebutkan tanggapan pemerintah, khususnya Menteri HAM Natalius Pigai.
“Maaf, Mas/Pak Natalius Pigai, saya tidak perlu tahu siapa pelaku teror. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah jaminan bahwa negara hadir saat menghadapi ancaman teror. Negara tidak boleh menjadi teror itu sendiri. Tidak boleh seperti orang yang menyangkal bahwa mereka yang melakukan teror. Karena yang terjadi justru kecemasan dari rezim, seolah-olah kita mengira mereka yang melakukan hal tersebut,” tegasnya.
Ia mengakhiri dengan sikap keras.
Saya menekankan bahwa hingga saat ini, negara, melalui seluruh lembaganya, tidak hadir dalam teror yang dialami bukan hanya saya, tetapi juga orang tua serta lebih dari 20 pengurus BEM UGM. Serangkaian ancaman yang kami alami ini bagi kami merupakan bentuk kelemahan pemerintah saat ini.
Namun, ia memastikan tindakan mereka tidak akan mundur.
“Secara prinsip, saya menyampaikan kepada publik bahwa BEM UGM akan mengatasi teror ini dengan cara yang tidak takut, tidak ragu, dan tetap memperhatikan isu-isu publik sebagai hal yang selalu perlu diawasi. Oleh karena itu, ke depannya, tidak akan ada perbedaan dari BEM UGM, siapa pun ketuanya nanti. Bahwa kemudian muncul rasa solidaritas yang lebih dan kewaspadaan yang lebih tinggi, itu adalah cara kami belajar. Namun jangan berpikir bahwa karena adanya teror ini kami akan berhenti,” tutupnya.
Artikel ini telah diterbitkan di TribunJogja.com dengan judulSaat Kritik Ketua BEM UGM Tiyo Ardianto Berujung pada Isu LGBT dan Ancaman di Tengah Malam terhadap Ibu Kandungnya,
