Perkembangan Korban Bencana di Wilayah Sumatera
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) kembali memperbarui data jumlah korban meninggal akibat banjir bandang dan tanah longsor yang terjadi di Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar). Hingga Jumat (12/12/2025), total korban tewas mencapai 995 orang. Jumlah ini naik dari sebelumnya 990 orang.
Selain itu, terdapat 226 korban yang dilaporkan hilang dan belum ditemukan. Data tersebut menunjukkan bahwa korban tewas tersebar di berbagai provinsi, yaitu:
- Aceh: 407 orang
- Sumut: 343 orang
- Sumbar: 240 orang
Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari, menyampaikan bahwa pihaknya kembali menemukan lima jasad korban tewas banjir. Namun, ada potensi penurunan jumlah korban tewas karena adanya verifikasi ulang dari beberapa kabupaten. Dalam proses verifikasi, ditemukan bahwa beberapa jasad ternyata telah meninggal sebelum bencana terjadi.
“Hasil pencarian dan pertolongan pada hari Jumat, 12 Desember 2025, jumlah total korban meninggal dunia di tiga provinsi bertambah lima. Dari 990 jiwa meninggal dunia per kemarin 11 Desember, saat ini rekapitulasi kami menunjukkan 995 jiwa total meninggal dunia,” ujar Muhari dalam konferensi pers.
Sementara itu, jumlah pengungsi tidak mengalami penambahan. Total pengungsi tetap sebesar 884.889 orang. Daerah dengan jumlah pengungsi terbanyak adalah Aceh Timur, dengan 238 ribu orang.
Tersangka Pembalakan Liar di Tapsel
Banjir dahsyat di kawasan Batangtoru, Tapanuli Selatan (Tapsel), Sumatra Utara (Sumut), akhirnya berujung pada penetapan tersangka kasus pembalakan liar. Beberapa perusahaan telah dihentikan sementara operasionalnya karena dianggap memperparah dampak banjir.
Pembalakan liar di hutan kawasan hulu menyebabkan banjir mengerikan yang merenggut puluhan nyawa dan menghilangkan desa Garoga. Kayu gelondongan masih berserakan di desa tersebut, bahkan menutupi aliran sungai.
Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkapkan bahwa kepolisian telah mengantongi nama tersangka dalam kasus pembalakan liar yang berimbas pada banjir di Tapsel. Proses penyidikan di wilayah tersebut telah ditingkatkan setelah dibentuk tim satgas khusus.
“Kami bentuk Satgas di Tapanuli, kemarin kita sudah naikkan sidik. Tersangka juga sudah kita temukan,” kata Sigit dalam pernyataannya.
Ia menjelaskan bahwa langkah tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga telah meninjau lokasi terdampak sehari sebelumnya.
Selain Tapsel, polisi juga tengah menangani dugaan perambahan hutan di Aceh Tamiang. Namun, detail temuan di wilayah tersebut masih menunggu laporan resmi dari tim.
Penanganan Kasus Pembalakan Liar
Sebelumnya, Bareskrim Polri resmi menaikkan penanganan temuan kayu gelondongan dalam peristiwa banjir di Tapsel ke tahap penyidikan. Keputusan ini diambil setelah penyidik Direktorat Tindak Pidana Tertentu (Dittipidter) menemukan sejumlah indikasi yang dinilai perlu ditelusuri lebih jauh.
Direktur Tipidter Bareskrim Polri, Brigjen Mohammad Irhamni, menyampaikan bahwa penyelidik menemukan bukaan lahan serta jenis kayu yang identik di dua lokasi berbeda, yakni Garoga dan Anggoli. Penemuan ini memperkuat dugaan adanya aktivitas ilegal yang berkaitan dengan banjir.
“Pertanggungjawaban pidana tentunya, akan kita cari siapa yang melakukan, siapa yang menyuruh melakukan, atau bersama dengan siapa peristiwa itu dilakukan. Di situ ditemukan dua buah ekskavator dan satu doser, tentunya ini kita buktikan perbuatannya apa, yang menyuruh siapa, yang mendapat keuntungan siapa, apakah perorangan atau korporasi,” ujar Irhamni.
