Isi Artikel
Sepatualang: Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang
Ada sesuatu yang ganjil dan sekaligus menenangkan ketika membaca sebuah buku perjalanan pada saat tanah yang diceritakan di dalamnya tengah dilanda duka. Itulah yang pembaca rasakan ketika Sepatualang: Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang, karya Yunis Kartika, tiba di tangan—tepat setelah banjir dan longsor besar melanda Sumatra.
Bukittinggi dan Padang termasuk yang terdampak, dengan kabar ratusan korban jiwa yang terus beredar. Membuka halaman-halaman buku ini serasa menghirup kembali wajah Minangkabau pada waktu yang lebih cerah, sekaligus membayangkan betapa rapuh sekaligus kokohnya tanah yang dituliskan Yunis.
Namun sebelum sampai pada halaman pertama, pembaca disambut nostalgia lain saat sebuah paket dari Prabumulih dengan inisial YK sampai di rumah. Pembaca mengenal nama itu. “Teh” Yunis Kartika—yang pertama kali bertemu pada gelaran budaya Nyiar Lumar di Hutan Tabet Astana Gede, Kawali, Ciamis, sebelum pandemi.
Waktu itu pembaca tidak tahu bahwa ia adalah kakak dari Evi Sri Rezeki, penulis yang lebih dulu kenal sejak masa kuliah. Keterkejutan itu berubah menjadi rasa hangat ketika pembaca membuka paket dan menemukan buku kecil, ringkas, namun langsung mengundang senyum. Buku perjalanan dari seorang penjelajah yang juga diam-diam seorang saudari dari penulis yang pembaca hormati.
Membangun Imajinasi Pembaca di Tengah Bencana
Membaca Sepatualang Edisi Jalan-Jalan ke Bukittinggi dan Padang saat Sumatra sedang berduka menciptakan kontras emosional yang tajam. Ketika berita memperlihatkan jalan-jalan tergenang, rumah-rumah rusak, dan kota-kota porak-poranda, buku ini justru menghadirkan Bukittinggi dan Padang dalam bentuk paling manis, hidup, dan penuh warna—meski fotonya hitam-putih.
Imajinasi pembaca dipaksa menafsir ulang kota-kota itu: bukan hanya ruang wisata, tetapi ruang ingatan dan harapan. Seakan Yunis sedang berkata, “Beginilah tanah ini sebelum luka, dan beginilah kelak ia akan kembali.”
Narasi Yunis yang lembut namun informatif membuat pembaca merasa sedang diajak berjalan langsung di sampingnya—memandang Jam Gadang, menyusuri Ngarai Sianok, merasakan riuh Museum Randang, atau duduk menatap laut di Pantai Air Manis yang membawa legenda Malin Kundang.
Di tengah kondisi bencana, imajinasi semacam ini menjadi cara lembut untuk mengingatkan bahwa sebuah kota tidak hanya tentang tragedinya, tetapi juga tentang kisah-kisah kecil yang dirawat oleh warganya dan oleh para pelancong.
Sepatualang: Mungil dan Bersih
Secara fisik, Sepatualang merupakan buku mungil yang sangat mudah dibawa saat traveling. Dimensinya 19 x 13 cm, dengan tebal 1 cm, dan jumlah halaman 148. Terbagi menjadi dua cerita besar: Bukittinggi dan Padang. Diterbitkan pada bulan Oktober 2025 oleh Stiletto Book. Buku ini diawali dengan mukadimah, lalu pada bagian akhir dilengkapi dengan tips serta keterangan tentang penulis. Dan pada setiap bab dilengkapi dengan kutipan yang relate dengan kisah pada awal dan akhir bagian.
Judul ditulis dengan huruf kapital semua: SEPATUALANG EDISI JALAN-JALAN KE BUKITTINGGI DAN PADANG, dengan size yang berbeda. Kata Sepatualang sendiri memancing rasa ingin tahu sejak pertama kali dibaca. Ia terdengar seperti gabungan kata “sepatu” dan “petualangan”—isyarat halus bahwa perjalanan dalam buku ini berangkat dari sesuatu yang sederhana: sepasang sepatu yang menemani setiap langkah penulis.
Dalam edisi Jalan-jalan ke Bukittinggi dan Padang, makna itu terasa semakin nyata. Sepatu bukan hanya perlengkapan fisik, tetapi simbol perjalanan yang membumi, dekat, dan personal. Melalui nama itu, pembaca diajak merasakan bahwa setiap jejak yang ditinggalkan penulis di tanah Minangkabau merupakan bagian dari petualangan kecil yang jujur—petualangan yang tidak selalu heroik, tetapi selalu dimulai dari langkah kaki yang bersahaja.
Tata letaknya rapi, bahasanya ringan, dan gaya ilustrasi hitam-putih memberi kesan seperti buku catatan perjalanan pribadi. Namun justru karena itu pula, keindahan visual tiap destinasi tidak bisa tersampaikan maksimal. Pembaca yang belum pernah ke Bukittinggi atau Padang harus membayangkannya sendiri tanpa bantuan warna.
Sampulnya menampilkan ilustrasi Jam Gadang—tepat sebagai ikon yang paling identik dengan Bukittinggi. Warna putih pada sampul membuat kesan minimalis dan bersih. Hanya saja, buku ini tidak mencantumkan informasi waktu perjalanan secara spesifik (tanggal, bulan, tahun). Padahal detail semacam itu akan membantu pembaca memahami konteks, suasana, dan bahkan kondisi sosial yang mungkin memengaruhi pengalaman penulis.
Yunis dan Samayo, Dua Sudut Pandang
Salah satu keunikan buku ini adalah dibaginya narasi menjadi dua suara:
- Yunis, menggunakan sudut pandang orang pertama dengan bahasa formal.
- Samayo, “si sepatu”, menggunakan sudut pandang lebih santai dan personal, dengan kata ganti “aku”.
Apakah Samayo benar-benar sepatu fisik atau metafora? Foto Samayo hadis satu kali pada bab yang berkisah tentang destinasi Jam Gadang, dan sering diilustrasikan bagaimana perasaannya. Tapi alih-alih dalam wujud fisik yang nyata, pembaca lebih menikmatinya sebagai personifikasi dari langkah sang petualang.
Dalam pencarian Google, kata Samayo merujuk pada kata Samaya—yang berarti waktu atau kesempatan dalam bahasa Marathi. Tapi apakah Yunis memaksudkan itu? Buku tidak memberi penjelasan. Walau begitu, suara Samayo memberikan variasi yang menyenangkan.
Ia bercerita tentang takut kotor, takut basah, tidak cocok diajak ke tempat tertentu—perspektif yang lucu namun segar. Interaksi dua suara ini membuat buku terasa seperti percakapan antara tubuh dan alas kaki; manusia dan kenangan; perjalanan dan pengalaman yang mengantarinya.
Panduan Destinasi dan Diksi yang Menggugah
Salah satu kekuatan Yunis adalah kemampuannya memilih diksi yang renyah. Tidak pretensius, tidak bertele-tele, tetapi cukup untuk membuat pembaca merasa “hadir”. Ketika membaca bab tentang Museum Randang misalnya, seketika pembaca ingin mencari sepiring nasi padang lengkap dengan kuah kentalnya. Ada gairah tersendiri dalam setiap paragraf, meski ia tidak selalu menggali pengalaman personal.
Justru di sinilah pembaca merasa ada ruang kosong. Yunis tidak banyak bercerita tentang kejadian unik selama perjalanan—padahal kisah epik atau kejadian kecil yang tak terlupakan sering menjadi daya tarik buku travel writing.
Mengapa tidak ada cerita tentang interaksi unik dengan warga? Atau kejadian di jalan yang hanya mungkin dialami seorang traveler? Atau pengalaman batin Yunis sebagai sarjana seni? Di sinilah Sepatualang terasa lebih sebagai panduan destinasi ketimbang memoar perjalanan.
Membaca Sepatualang membuat teringat pada Trinity dan bukunya The Naked Traveler—buku yang berkesan bagi pembaca karena gayanya yang sangat personal, nakal, humoris, penuh kejadian unik, kaya detail budaya, berani memberi opini, dan menggali sisi-sisi tempat yang jarang dibahas.
Trinity membuka mata pembaca bahwa perjalanan bukan hanya tentang “di mana” tetapi tentang “apa yang terjadi padamu di sana”—mulai dari budaya, perbedaan karakter orang, kejutan tak terduga, pembelajaran, hingga perasaan paling jujur yang dirasakannya.
Buku Sepatualang menawarkan sejumlah pesona yang membuatnya terasa ramah bagi siapa pun yang mencintai perjalanan. Gaya bahasanya renyah dan ringan, sehingga sejak awal pembaca seperti diajak berjalan santai tanpa beban—pas untuk dibaca sekali duduk sambil menikmati jeda siang.
Kehadiran dua sudut pandang, terutama lewat tokoh Samayo, membuat kisah-kisah di dalamnya tidak jatuh pada pola yang itu-itu saja. Narasi terasa lebih bermain, lebih segar. Dengan membahas 15 destinasi secara ringkas, buku ini pun bekerja seperti sebuah “kit kecil” yang bisa dibuka cepat sebelum benar-benar berangkat ke Bukittinggi atau Padang.
Di sela-selanya, ada tips perjalanan yang membantu pembaca pemula memahami hal-hal dasar yang sering terlewat. Tampilan bukunya yang rapi, ditemani ilustrasi sederhana, menambah kesan bersahabat—seakan penulis ingin memastikan pembaca menikmati perjalanan tanpa intimidasi visual maupun informasi.
Meski begitu, ada beberapa bagian yang bisa membuat pembaca merasa masih ingin melihat lebih dalam. Pengalaman personal Yunis tidak banyak muncul dalam bentuk momen-momen yang membekas, sehingga beberapa bagian terasa lebih seperti deskripsi tempat daripada perjalanan batin.
Foto hitam-putih yang digunakan pun belum mampu menangkap kemilau warna Minangkabau yang kaya; pembaca yang belum pernah datang mungkin kehilangan kesempatan merasakan vibrasi visual khasnya. Informasi mengenai waktu perjalanan juga tidak dijelaskan, padahal detail semacam ini sering membantu pembaca memahami ritme dan konteks pergerakan penulis.
Beberapa destinasi, seperti Pantai Air Manis, disajikan dengan pendekatan yang cukup umum—misalnya kembali mengulang kisah Malin Kundang yang sudah sangat dikenal. Ketimbang menarasikan bagaimana atau apa bedanya pantai tersebut dengan pantai lainnya.
Dan meski Samayo adalah elemen kreatif yang menyegarkan, karakter ini masih terasa memiliki ruang yang besar untuk diperdalam, terutama jika ingin benar-benar menjadi jembatan emosional antara pembaca dan pengalaman perjalanan.

Buku Ringan yang Membawa Ingatan akan Minangkabau
Sepatualang adalah buku yang ringan, manis, dan menghibur. Ia bukan memoar perjalanan yang intens tetapi lebih seperti buku saku yang mengantar pembaca memahami garis besar kota. Narasi Yunis memberikan kehangatan—diksi yang renyah, pengalaman yang jujur, serta cara bertutur yang tidak dibuat-buat.
Buku ini juga bekerja sebagai pengingat bahwa perjalanan tidak selalu harus dramatis. Kadang cukup dengan berjalan bersama sepasang sepatu, mengamati apa adanya, dan membawa pulang sedikit kisah.
Di tengah bencana Sumatra, membaca Sepatualang seperti membuka jendela kecil menuju wajah Minangkabau yang damai. Ia membuat pembaca yakin bahwa kota-kota itu akan pulih, bangkit, dan kembali menjadi tempat penuh cerita—seperti yang diabadikan Yunis Kartika dalam buku mungilnya ini.






