Di Desa Sanca, Kecamatan Gantar, berdiri Tugu Perjuangan yang menjadi monumen penghormatan bagi Muhammad Asmat Sentot, atau lebih dikenal sebagai M.A. Sentot, seorang pahlawan lokal yang memainkan peran penting dalam mempertahankan Republik Indonesia selama agresi militer Belanda 1945–1949 di wilayah Indramayu, Jawa Barat.
M.A. Sentot dikenal sebagai pemimpin lapangan yang berani dan cekatan. Keberaniannya terlihat jelas saat memimpin kelompok kecil pejuang yang kemudian dikenal dengan julukan Pasukan Setan.
Nama ini muncul akibat strategi pertempuran mereka yang cepat, tidak terduga, dan sering kali membuat pasukan Belanda kerepotan.
Strategi utama M.A. Sentot adalah perang gerilya. Ia memanfaatkan seluk-beluk kondisi geografis Indramayu—sungai, persawahan, jembatan, dan jalur penghubung antarkecamatan—untuk menyergap musuh, memutus jalur logistik, dan mengganggu mobilitas pasukan Belanda.
Meskipun jumlah pasukannya terbatas, tekanan yang diberikan terhadap pemerintah kolonial sangat besar.
Kepemimpinan M.A. Sentot ditandai dengan keberanian mengambil risiko dan kemampuan membangun mental juang anak buah.
Di hadapan persenjataan modern Belanda, ia tetap tegar dan memimpin pasukannya dengan penuh disiplin dan semangat juang tinggi.
Pasukan Setan memiliki ciri khas tersendiri: lambang tengkorak dan tanda silang yang mereka gunakan bukan sekadar simbol, tetapi juga perwujudan tekad untuk bertempur hingga titik terakhir.
Tanda ini menciptakan rasa takut terhadap lawan sambil membangkitkan semangat bagi para pejuang.
Selain kemampuan dalam strategi dan taktik, M.A. Sentot juga terkenal dalam membangun kekompakan tim. Ia memastikan setiap anggota memahami tanggung jawab masing-masing serta tetap termotivasi meskipun menghadapi kondisi yang sulit, termasuk serangan balik dari lawan yang lebih kuat.
Monumen Perjuangan ini bukan sekadar bangunan fisik, tetapi juga lambang semangat perjuangan para pemuda Indramayu.
Setiap pengunjung dapat menelusuri jejak heroik M.A. Sentot dan memahami bagaimana ketekunan serta keberanian individu mampu mempengaruhi jalannya sejarah.
Di tengah areal persawahan dan alur sungai yang dahulu menjadi medan pertempuran, masyarakat kini menghargai perjuangan M.A. Sentot dengan merawat monumen ini sebagai bagian dari warisan budaya setempat yang harus terus diingat.
Perjuangan M.A. Sentot menjadi pelajaran berharga bahwa keberanian, strategi yang tepat, serta solidaritas mampu mengatasi keterbatasan sumber daya. Semangat ini masih relevan untuk membangkitkan semangat gotong-royong dan nasionalisme pada masa kini.
Monumen Perjuangan M.A. Sentot, Desa Sanca, tidak hanya mengingatkan akan masa lalu, tetapi juga memberikan semangat bagi generasi saat ini untuk menghargai kemerdekaan dan melanjutkan semangat tak kenal menyerah dalam kehidupan sehari-hari.
