Trump senang Thailand dan Kamboja akhirnya capai kesepakatan gencatan senjata: Selamat

Ringkasan Berita:

  • Presiden AS Donald Trump merasa senang setelah Thailand dan Kamboja mencapai kesepakatan gencatan senjata.
  • Trump pun mengucapkan selamat kepada Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet.
  • Ia memuji langkah cepat kedua pemimpin tersebut dalam meredam eskalasi militer yang sempat memanas dalam sepekan terakhir.

Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump mengungkapkan kesenangannya setelah Thailand dan Kamboja mencapai kesepakatan gencatan senjata, Minggu (28/12/2025).

Bacaan Lainnya

Kesenangan itu diungkapkan Trump dengan menyampaikan ucapan selamat kepada para pemimpin Thailand dan Kamboja.

Dalam pernyataan resminya, Trump mengungkapkan bahwa ia telah melakukan pembicaraan telepon terpisah dengan Perdana Menteri Thailand, Paetongtarn Shinawatra, dan Perdana Menteri Kamboja, Hun Manet.

Ia memuji langkah cepat kedua pemimpin tersebut dalam meredam eskalasi militer yang sempat memanas dalam sepekan terakhir.

“Saya mengucapkan selamat kepada Perdana Menteri Paetongtarn dan Perdana Menteri Hun Manet atas kepemimpinan luar biasa mereka dalam mencapai kesepakatan gencatan senjata ini,” ujar Trump, dikutip dari CNA.

Trump menekankan bahwa perdamaian antara kedua negara Asia Tenggara tersebut sangat krusial bagi stabilitas kawasan Indo-Pasifik.

Ia juga menambahkan bahwa penghentian kekerasan adalah kunci untuk memastikan kelancaran perdagangan dan keamanan di wilayah tersebut.

Kesepakatan damai ini muncul setelah serangkaian bentrokan bersenjata di perbatasan yang dilaporkan telah memakan korban jiwa dari pihak sipil dan menyebabkan ratusan ribu orang terpaksa mengungsi.

Trump menyatakan bahwa AS siap mendukung upaya pemulihan pascakonflik dan memastikan stabilitas jangka panjang di perbatasan Thailand-Kamboja.

“Sangat penting bagi dunia untuk melihat bahwa sengketa dapat diselesaikan melalui dialog.”

“AS menghargai langkah berani yang diambil oleh Bangkok dan Phnom Penh demi keselamatan rakyat mereka,” tambah Trump.

Sebelumnya, konflik di wilayah perbatasan tersebut sempat memicu kekhawatiran internasional setelah artileri dan serangan roket menghantam pemukiman warga sipil.

Laporan terakhir menyebutkan sedikitnya 10 warga sipil Kamboja tewas, termasuk seorang bayi, dan lebih dari 190.000 warga harus dievakuasi ke tempat perlindungan sementara.

Dengan adanya gencatan senjata ini, kedua negara diharapkan dapat kembali duduk di meja perundingan untuk membahas penyelesaian sengketa wilayah secara permanen melalui jalur diplomatik.

Gencatan Senjata Permanen

Kementerian Penerangan Kamboja secara resmi mengeluarkan pernyataan untuk meluruskan kesalahpahaman publik terkait durasi gencatan senjata antara Kamboja dan Thailand.

Klarifikasi ini muncul menyusul beredarnya kabar burung yang menyebutkan bahwa kesepakatan damai tersebut hanya berlaku selama 72 jam atau tiga hari.

Gencatan senjata yang ditandatangani pada Jumat lalu tersebut mulai berlaku secara efektif sejak Sabtu (27/12/2025) pukul 12.00 siang waktu setempat.

“Sejumlah pihak keliru menganggap gencatan senjata yang disepakati Kamboja dan Thailand hanya berlaku selama 72 jam.”

“Ini adalah persepsi yang salah dan tidak akurat,” tulis Kementerian Penerangan Kamboja dalam pernyataan resminya pada Minggu (28/12/2025), Khmer Times melaporkan.

Pemerintah Kamboja menekankan bahwa kesepakatan ini dirancang untuk mewujudkan perdamaian jangka panjang bagi kedua negara, bukan untuk periode waktu yang terbatas.

Kedua belah pihak diwajibkan untuk mematuhi dan menerapkan langkah-langkah yang telah disepakati secara efektif.

Kementerian menjelaskan bahwa angka “72 jam” yang tertera dalam poin ke-11 deklarasi bersama tersebut sebenarnya merujuk pada syarat pembebasan personel militer, bukan batas waktu berakhirnya perdamaian.

Setelah implementasi penuh gencatan senjata selama 72 jam pertama, sebanyak 18 tentara Kamboja yang saat ini berada dalam tahanan otoritas Thailand akan dibebaskan dan dipulangkan ke Kamboja.

Langkah ini sesuai dengan semangat Deklarasi Bersama tentang Perjanjian Damai yang ditandatangani kedua negara di Kuala Lumpur pada 26 Oktober 2025 lalu.

“Oleh karena itu, kami meminta masyarakat untuk tidak salah paham bahwa gencatan senjata ini hanya akan berlangsung selama tiga hari.”

“Kami mengajak publik untuk bersama-sama mendukung implementasi seluruh langkah ini agar gencatan senjata menjadi permanen sebagai landasan perdamaian kedua negara,” tambah pernyataan tersebut.

Sebelumnya, konflik perbatasan antara kedua negara tetangga ini sempat memanas dan memicu kekhawatiran internasional.

Namun, melalui serangkaian negosiasi yang melibatkan pemantau militer asing, kedua negara akhirnya sepakat untuk menghentikan kontak senjata demi stabilitas kawasan.

(/Whiesa)

Pos terkait