Hujan ekstrem lagi, banjir parah lagi di Sumatera Barat

BENCANA banjir yang luas dan parah kembali melanda wilayah Sumatera Barat pada awal 2026. Hujan intensitas tinggi ditambah dengan kondisi hulu dan alur sungai yang masih rusak parah dampak bencana banjir akhir November lalu membuat banjir kembali datang cukup luas dan parah pada Jumat, 2 Januari, lalu.

Berdasarkan data intensitas curah hujan harian dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG), hujan sepanjang Jumat lalu terukur hingga lebih dari 159 mm atau tergolong ekstrem. Catatan ini diperoleh dari Stasiun Meteorologi Maritim Teluk Bayur di Kota Padang.

Bacaan Lainnya

Sedangkan Stasiun Meteorologi Minangkabau dan Stasiun Klimatologi Sumatera Barat, keduanya berlokasi di Padang Pariaman, melaporkan curah hujan masing-masing 149,4 dan 127,0 mm. Keduanya tergolong hujan sangat lebat, mendekati batas ekstrem (150 mm).

Dampak dari curah hujan tinggi itu antara lain Sungai Asam di Jorong Pasar Rabaa, Nagari atau Desa Koto Kaciak, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, kembali meluap pada Jumat malamnya. Sebanyak 17 warga sempat terjebak karena banjir bandang itu sebelum kemudian berhasil dievakuasi seluruhnya dengan selamat.

Banjir juga memutus akses utama di daerah Batu Busuak, Kecamatan Pauh, Kota Padang, sepanjang 15 meter akibat diterjang arus sungai Batang Kuranji. Kondisi sungai di Batu Busuak sudah mengalami pendangkalan dan melebar ke sisi kanan maupun kiri hingga menyebabkan akses utama roda dua dan empat putus total.

“Yang kami butuhkan adalah alat berat sebanyak-banyaknya untuk menormalisasi sungai. Jika tidak, maka kondisinya akan seperti ini terus,” kata Kepala Pelaksana BPBD Kota Padang Hendri Zulviton dilansir Antara.

Jalan putus akibat banjir bandang susulan di Kapalo Koto, Pauh, Padang, Sumatera Barat, 3 Januari 2026. Antara/Iggoy el Fitra

Sejumlah daerah di Kabupaten Solok juga kembali direndam oleh banjir bandang yang kembali datang akibat tingginya intensitas curah hujan. Di antaranya adalah di Nagari (Desa) Saniangbaka, Muaro Pingai, dan Paninggahan di Kecamatan Junjung Sirih.

Terpisah, Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi juga telah menginstruksikan dinas terkait untuk segera melakukan pengerukan di sepanjang aliran sungai demi mencegah terjadinya banjir berulang. “Segera keruk sepanjang aliran sungai yang sudah mengalami pendangkalan sebelum dampak luapan air semakin parah,” katanya kepada Antara.

Bupati Agam Benny Warlis menyambut baik respons Pemerintah Provinsi Sumatera Barat dalam menangani dampak bencana di daerah tersebut. Apalagi, Kabupaten Agam sudah beberapa kali diterjang banjir bandang susulan sehingga butuh perhatian dan mitigasi lebih.

Kerugian Sudah Lebih dari Rp 30 Triliun

Kerugian akibat bencana banjir dan longsor yang melanda Sumatera Barat sejak akhir November lalu ditaksir mencapai Rp 31,2 triliun. Berdasarkan data dasbor Bencana Pemprov Sumbar hingga Sabtu, 4 Januari 2026, sebanyak 296.345 jiwa yang terdampak langsung.

Per hari yang sama, ada sebanyak 264 orang tewas, 233 di antaranya telah teridentifikasi. Sedangkan 31 jenazah masih dalam proses identifikasi. Sebanyak 74 orang masih dinyatakan hilang, sementara 382 orang mengalami luka-luka. Kondisi darurat memaksa 10.854 warga mengungsi dari rumah mereka.

“Data ini masih bersifat sementara dan terus diperbarui seiring evakuasi di lapangan,” kata Juru Bicara BPBD Sumatra Barat Ilham Wahab kepada Tempo, Minggu 4 Januari 2025.

Selain itu,di dasbor tersebut juga menulis jika, sebanyak 37.518 unit rumah mengalami kerusakan berbagai tingkat. Rinciannya, 6.725 rumah rusak ringan, 2.954 rumah rusak sedang, dan 4.274 rumah rusak berat. Lalu ribuan rumah terendam dan 750 unit hilang atau hanyut tersapu bencana.

Kerusakan juga melumpuhkan fasilitas publik. Tercatat 258 rumah ibadah, 441 sekolah, dan 143 fasilitas kesehatan mengalami kerusakan. Sebanyak 37 kantor pemerintahan turut terdampak, menghambat koordinasi penanganan darurat.

Sementara itu dari, sektor pertanian hampir 10 ribu hektare sawah dan 3.348 hektar lahan rusak atau terendam. Sebanyak 1.054 hektar perkebunan, 409 hektar hutan, dan 474.523 meter persegi kolam turut terdampak.

Ada 16 Kabupaten dan Kota yang terdampak bencana tersebut. Daerah yang paling parah terdampak yakni Kabupaten Agam. Banjir susulan beberapa kali tercatat terjadi di daerah tersebut. Berdasarkan pantaun Tempo pada 2 Januari 2026 lalu, juga terjadi banjir susulan di beberapa daerah seperti Kota Padang, Kabupaten Solok, Agam dan Padang Pariaman.

Pos terkait