Tiga tahun di jalanan Bali, Kadek menemukan hidup dari setang motor ojol

DENPASAR, – Di balik ramainya pariwisata Bali di akhir tahun 2025, ada sebuah kisah pekerja yang menopang denyut ekonomi dari balik layar. Salah satunya adalah Kadek Irawan, yang sudah tiga tahun terakhir menjalani profesi sebagai driver ojek online (ojol).

Sebelum sepenuhnya menggantungkan hidup di jalanan, ia sempat bekerja di sebuah vila. Namun, kondisi pekerjaan yang stagnan membuatnya mulai mencari jalan lain untuk menyambung hidup di perantauan.

Bacaan Lainnya

“Tidak ada kenaikan gaji sudah 1,5 tahun, segitu-segitu saja. Awalnya nyoba-nyoba setelah pulang dari vila, lumayan juga ternyata penghasilannya,” ujar driver ojol yang biasa disapa Kadek itu kepada , Rabu (31/12/2025).

Menurut Kadek, Bali menjadi lokasi yang cukup menjanjikan untuk profesi ini, terutama saat memasuki musim liburan atau high season. Kehadiran wisatawan mancanegara menjadi berkah tersendiri bagi para pengemudi ojol.

Tantangan Mengantar Wisatawan Asing

Dalam kesehariannya, Kadek kerap mengantar wisatawan mancanegara yang memberikan tantangan tersendiri. Bukan soal bahasa atau tarif, melainkan kebiasaan saat dibonceng motor yang sering kali menguras tenaga ekstra bagi pengemudi.

“Yang membedakan mereka enggak bisa diam, gerak terus, mungkin karena tinggi badannya lebih besar mereka ya. Apalagi waktu nikung, badannya melawan tidak mengikuti arah tikungan jadi enggak imbang motornya,” ujarnya.

Kadek tidak segan memberikan arahan demi keselamatan perjalanan, meski hal itu cukup melelahkan. Ia bercerita bahwa mengantar bule dalam jarak jauh sering kali membuat tangan pegal karena harus menjaga keseimbangan motor lebih kuat.

“Makanya kalau perjalanan jarak jauh boncengin bule tangan pegal dan sakit-sakit karena nahan. Kalau masyarakat lokal kan lebih anteng bisa mengikuti ritme jalannya motor,” kata Kadek Irawan.

Jika terkendala bahasa, Kadek pun mengandalkan teknologi untuk berkomunikasi dengan penumpangnya, terutama wisatawan dari Korea dan China.

“Komunikasi sama bule juga sebisanya, kalau tidak bisa dimengerti baru buka Google Translate,” imbuhnya.

Fleksibilitas demi Upacara Adat

Kadek memilih bekerja dengan ritme yang aman bagi tubuhnya mulai pukul 08.00 hingga 16.00 WITA. Ia sengaja menghindari area kelab malam yang ramai untuk menjaga kondisi fisik agar tetap prima di hari berikutnya.

Keleluasaan mengatur waktu menjadi alasan utama pria lulusan sekolah kejuruan di Singaraja ini bertahan. Di Bali yang kental dengan tradisi, fleksibilitas sangat dibutuhkan untuk menghadiri upacara adat.

“Seminggu kadang libur sekali saja. Apalagi kalau ada acara upacara. Nah itu yang membuat saya suka dengan pekerjaan ojol ini. Mengambil jadwal liburnya bebas, tidak bisa dilakukan di tempat kerja yang terikat,” tutur pria berusia 28 tahun itu.

Mandiri Hasil Kerja Keras

Hasil jerih payahnya selama tiga tahun di jalanan mulai membuahkan hasil nyata. Setelah dua tahun awal meminjam motor milik bapaknya, Kadek kini berhasil membeli sepeda motor sendiri secara tunai.

“Ini motor sendiri, bekerja ojol sambil nabung pelan-pelan. Tahun ketiga bisa beli motor sendiri secara cash. Jadi tidak kepikiran nyicil tiap bulan, sehari-hari tinggal mikir bayar kos, kebutuhan sehari-hari, dan nabung,” ucap perantau asal Singaraja tersebut.

Kadek menyadari bekerja di jalanan menuntut kesabaran ekstra di tengah kemacetan Bali. Pesan orang tua untuk selalu menjaga diri dan tidak cepat emosi menjadi pegangan utamanya saat melaju di atas aspal Pulau Dewata.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *