Thailand nihil gelar di ASEAN sejak Januari 2023, presiden klub lokal ungkap akar masalahnya

Rentetan hasil mengecewakan sepak bola Thailand terus berlanjut setelah kegagalan mereka meraih medali emas SEA Games 2025 di kandang sendiri.

Timnas U-22 Thailand gagal meraih medali emas usai kalah 2-3 dari Timnas U-22 Vietnam di partai final.

Bacaan Lainnya

Artinya, Thailand belum berhasil merebut kembali medali emas di cabang olahraga sepak bola putra SEA Games sejak 2017.

Kegagalan ini sekaligus memperpanjang puasa gelar Thailand di turnamen resmi level Asia Tenggara sejak Januari 2023.

Terakhir kali Timnas Thailand tampil sebagai juara di turnamen resmi level ASEAN adalah pada ajang Piala AFF 2022.

Setelahnya, mereka gagal meraih satu pun gelar turnamen resmi ASEAN di berbagai level usia mulai dari U-16 hingga senior

Meski kerap melaju ke babak final, mereka selalu kalah dari para pesaingnya seperti Indonesia dan Vietnam di laga penentuan.

Kegagalan Thailand meraih gelar di turnamen resmi ASEAN menuai komentar dari Presiden Ratchaburi FC, Tanawat Nitikanchana.

Tanawat ​​menyoroti masalah sistemik yang menghambat perkembangan sepak bola Thailand, khususnya dalam pembinaan usia muda.

Ia meyakini tidak adanya fondasi yang kuat menjadi akar masalah di balik kemunduran sepak bola Thailand dalam tiga tahun terakhir.

“Bukan hanya sebagai manajer klub tetapi juga sebagai seseorang yang telah mengikuti sepak bola Thailand selama bertahun-tahun, saya percaya akar masalahnya terletak pada fondasinya.”

“Kita belum cukup berinvestasi dan belum benar-benar serius dalam pengembangan pemain muda.”

“Ketika fondasinya lemah, sulit bagi tim nasional untuk mempertahankan kekuatannya dalam jangka panjang atau terus menghasilkan penerus yang berkualitas,” kata Tanawat.

Menurut Tanawat, sebuah tim yang kuat tidak dapat bertahan tanpa sumber pemain muda terlatih di setiap siklusnya.

Namun, realitas di Liga Thailand saat ini menunjukkan bahwa jumlah pemain lokal yang telah mencapai level tinggi cukup terbatas.

“Liga Thailand lebih seru, tempo permainannya lebih cepat, dan penonton menikmatinya,” kata Tanawat, dikutip dari Lao Dong.

“Namun sisi negatifnya adalah ketika tim sangat bergantung pada pemain asing, pemain lokal memiliki lebih sedikit kesempatan untuk bermain dan berkembang.”

“Ini menciptakan lingkaran setan,” tambahnya.

Keengganan klub melepas para pemain ke tim nasional menjadi salah satu kesulitan yang dihadapi Thailand di SEA Games 2025.

Mengomentari hal ini, Tanawat mengatakan bahwa masalah ini perlu dilihat secara realistis.

Menurutnya, SEA Games bukan merupakan bagian dari kalender FIFA seperti halnya beberapa turnamen usia muda Asia lainnya.

Oleh karena itu, ia mengatakan bahwa keinginan klub untuk memprioritaskan kepentingan mereka sendiri dapat dimengerti.

Dari perspektif jangka panjang, Tanawat menyarankan agar sepak bola Thailand belajar dari model pengembangan Jepang.

Kesuksesan sepak bola Jepang tidak berasal dari proyek jangka pendek, tetapi dari sistem pembinaan usia muda yang dibangun secara ilmiah dan telah dipertahankan secara konsisten selama bertahun-tahun.

Ia mengutip pengalamannya bermain melawan Gamba Osaka, sebuah klub Jepang yang sebagian besar menggunakan pemain lokal dan tetap meraih hasil tinggi dalam kompetisi kontinental.

Selain itu, Tanawat juga mendukung penunjukan dini direktur teknik oleh Asosiasi Sepak Bola Thailand (FAT) yang memiliki keahlian mendalam dan visi yang jelas.

Pasalnya, direktur teknik akan memainkan peran sentral dalam membangun peta jalan pengembangan yang terkoordinasi untuk tim nasional.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *