Thailand Minta Kamboja Umumkan Gencatan Senjata dan Bersihkan Ranjau Perbatasan

Perang yang Berlangsung Antara Thailand dan Kamboja

Konflik antara Thailand dan Kamboja masih berlangsung hingga saat ini. Kedua negara saling menyalahkan sebagai pemicu bentrokan yang terjadi di wilayah perbatasan mereka. Pihak Thailand mengatakan bahwa Kamboja harus menjadi negara pertama yang mengumumkan gencatan senjata untuk menghentikan pertempuran yang telah berlangsung selama lebih dari seminggu.

Upaya ini dilakukan setelah konflik perbatasan kembali berkobar, dengan bentrokan mematikan terjadi di sepanjang garis batas yang panjangnya 817 km. Masing-masing pihak saling menuduh melakukan serangan terhadap warga sipil, sementara juga mengklaim bertindak dalam rangka membela diri.

Bacaan Lainnya

“Sebagai pihak yang menyerang wilayah Thailand, Kamboja harus mengumumkan gencatan senjata terlebih dahulu,” ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Thailand, Maratee Nalita Andamo, kepada wartawan di Bangkok. Ia juga menyatakan bahwa Kamboja harus bekerja sama secara tulus dalam upaya pembersihan ranjau di perbatasan.

Sementara itu, Kamboja belum memberikan respons terhadap pernyataan Thailand. Tidak ada tekanan internasional yang terlihat untuk menghentikan pertempuran. Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul mengatakan bahwa tidak ada pihak yang menekan pihaknya, meskipun ia menolak menjawab pertanyaan tentang apakah Presiden AS Donald Trump mencoba menggunakan ancaman tarif untuk mendorong Bangkok mengakhiri pertempuran.

Pihak berwenang Thailand juga sedang berupaya mencari cara untuk memulangkan hingga 6.000 warga negaranya yang terdampar akibat penutupan pos pemeriksaan Kamboja di Kota Poipet. Hun Sen, mantan pemimpin berpengaruh Kamboja dan presiden Senat saat ini, mengatakan bahwa penutupan tersebut bertujuan untuk melindungi warga sipil dari apa yang ia klaim sebagai penembakan membabi buta oleh pasukan Thailand di daerah tersebut.

Surasant Kongsiri, juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand, mengatakan bahwa telah terjadi “pertempuran terus-menerus di perbatasan” di delapan provinsi perbatasan. Sementara itu, Kementerian Pertahanan Kamboja berjanji bahwa pasukannya akan “terus berdiri teguh, berani, dan gigih dalam perjuangan mereka melawan agresor”.

Korban Jiwa dan Pengungsian

Dilaporkan oleh Al Jazeera, konflik antara kedua negara tetangga kembali berkobar akibat bentrokan pada 7 Desember 2025. Bentrokan yang kembali terjadi di berbagai lokasi telah menewaskan 32 orang, termasuk tentara dan warga sipil, di kedua sisi perbatasan, dan menyebabkan sekitar 800.000 orang mengungsi, kata para pejabat.

Jack Barton dari Al Jazeera, yang melaporkan dari sebuah kuil yang menampung pengungsi internal di Provinsi Sisaket, Thailand, mengatakan bahwa suara pertempuran bergema di sekitar area tersebut. “Kita masih bisa mendengar pertempuran (termasuk) tembakan artileri Thailand yang datang dan roket Grad Kamboja yang datang,” katanya.

Bentrokan tersebut telah menghancurkan gencatan senjata yang didorong oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang mengakhiri pertempuran berdarah selama lima hari pada bulan Juli. Trump, yang menggunakan ancaman tarif perdagangan sebagai alat tawar-menawar untuk mengakhiri pertempuran, juga telah berupaya untuk campur tangan dalam bentrokan terbaru, dengan mengklaim pekan lalu bahwa kedua negara telah menyetujui gencatan senjata yang dimulai pada Sabtu (13/12/2025) malam. Namun, pertempuran harian terus berlanjut sejak pecahnya kekerasan terbaru, dan Bangkok membantah klaim Trump tentang gencatan senjata.

Penutupan Perbatasan dan Serangan Udara

Kamboja telah menutup perbatasan dengan Thailand karena pertempuran terus berlanjut antara kedua pasukan pada hari Sabtu meskipun Presiden AS Donald Trump sebelumnya mengatakan mereka telah menyetujui gencatan senjata. Menurut Kementerian Dalam Negeri Kamboja, perlintasan tersebut akan ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut.

Kementerian pertahanan Kamboja mengatakan bahwa jet tempur Thailand membom gedung-gedung hotel dan sebuah jembatan, sementara Thailand melaporkan beberapa warga sipil terluka dalam serangan roket Kamboja. Sengketa perbatasan yang telah berlangsung lama meningkat pada 24 Juli, ketika Kamboja melancarkan serangan roket ke Thailand, yang kemudian dibalas dengan serangan udara.

Kedua negara saling menuduh sebagai pihak yang memulai serangan tersebut. Setelah pertempuran sengit berhari-hari yang menewaskan puluhan orang, negara di Asia Tenggara tersebut sepakat untuk melakukan “gencatan senjata segera dan tanpa syarat” yang dimediasi oleh Trump dan Perdana Menteri Malaysia Anwar Ibrahim.

Hal ini diresmikan dalam sebuah upacara di Malaysia pada bulan Oktober yang dipimpin oleh Presiden AS. Namun, kedua belah pihak terus saling tuding melanggar gencatan senjata, dengan Thailand mempublikasikan bukti bahwa pasukan Kamboja telah memasang ranjau darat, yang menyebabkan tujuh tentara Thailand kehilangan anggota tubuhnya.

Kamboja mengatakan ranjau tersebut merupakan sisa dari perang saudara pada tahun 1980-an. Sejak saat itu ketegangan terus meningkat. Terbaru, Thailand melancarkan serangan udara di dalam wilayah Kamboja setelah dua tentaranya terluka dalam bentrokan Minggu lalu. Kamboja membalas dengan serangan roket.

Pertempuran tersebut memengaruhi enam provinsi di timur laut Thailand dan enam provinsi di utara dan barat laut Kamboja. Kedua negara telah bersengketa mengenai perbatasan darat sepanjang 800 km selama lebih dari satu abad. Perbatasan tersebut digambar oleh ahli kartografi Prancis pada tahun 1907, ketika Prancis menjadi penguasa kolonial di Kamboja.


Pos terkait