Terungkap! Alasan Real Madrid tidak datangkan gelandang kreatif musim panas lalu

– Memasuki hampir pertengahan musim, satu masalah mulai terlihat jelas di tubuh Real Madrid: absennya sosok gelandang kreatif yang benar-benar bisa mengendalikan tempo permainan. 

Meski Xabi Alonso memiliki banyak pemain berkualitas di lini tengah, sentuhan kreativitas dan kontrol permainan kerap terasa kurang.

Bacaan Lainnya

Situasi ini makin terasa setelah Los Blancos harus berpisah dengan dua legenda mereka, Toni Kroos dan Luka Modric, dalam dua musim panas berturut-turut.

Tanpa pengganti yang sepadan, warisan kreativitas di lini tengah perlahan memudar dan mulai berdampak pada permainan tim.

Pertanyaan pun mengemuka: mengapa Real Madrid tidak mendatangkan gelandang kreatif baru pada musim panas lalu?

Jurnalis Jorge Picon akhirnya memberikan gambaran yang lebih jelas soal sikap Real Madrid terkait persoalan ini.

Dalam laporannya, ia menjelaskan bahwa ada beberapa faktor krusial yang membuat transfer tersebut tak pernah terwujud.

“Beberapa faktor menghalangi kedatangan mereka. Pertama, masalah umum dalam beberapa tahun terakhir, adalah ketidakmampuan untuk menemukan pemain yang memenuhi persyaratan sepak bola dan finansial mereka,” tulis sang jurnalis.

Menurut laporan tersebut, manajemen Real Madrid sebenarnya sangat sadar bahwa tim membutuhkan gelandang dengan profil kreatif.

Bahkan, pada musim lalu klub secara aktif mencari pengganti Luka Modric, karena mereka sudah memahami bahwa musim tersebut kemungkinan besar menjadi musim terakhir sang maestro Kroasia.

Namun, upaya itu mentok pada dua kendala utama. Yang pertama adalah sulitnya menemukan pemain yang benar-benar cocok, baik secara kualitas maupun finansial.

Opsi yang sudah terbukti dianggap terlalu mahal, sementara pemain muda yang lebih terjangkau justru gagal meyakinkan staf teknis dan manajemen.

Tidak satu pun kandidat berhasil lolos semua “filter” ketat kebijakan transfer Real Madrid. Alhasil, klub memilih mengalihkan fokus untuk memperkuat posisi lain, ketimbang memaksakan transfer yang tidak sepenuhnya sesuai dengan rencana jangka panjang.

Faktor kedua berkaitan dengan keyakinan internal terhadap pemain yang sudah ada di dalam skuad. Saat itu, Real Madrid percaya bahwa kekurangan kreativitas bisa ditambal oleh dua nama penting.

Arda Guler menjadi yang pertama. Ia tampil impresif di akhir musim lalu dan mengawali musim baru dengan cukup menjanjikan.

Namun, seiring waktu, terlihat jelas bahwa pemain muda asal Turki itu masih membutuhkan proses sebelum benar-benar matang untuk mengemban peran sentral sebagai kreator utama.

Nama kedua adalah Jude Bellingham. Pemain asal Inggris itu diharapkan mampu kembali menjalankan peran pengatur permainan seperti yang pernah ia peragakan di Borussia Dortmund. Kenyataannya, rencana tersebut tidak berjalan mulus.

Ketidakseimbangan taktik, ditambah evolusi peran Bellingham sebagai pemain dengan insting mencetak gol tinggi, membuatnya lebih sering berada di area ofensif ketimbang mengontrol ritme permainan.

Kini, dengan kondisi yang ada, Real Madrid kembali menyadari urgensi mendatangkan gelandang kreatif murni. 

Klub disebut tengah memantau beberapa profil yang sesuai, meski tantangannya tidak kecil. Bahkan, Vitinha dari PSG disebut sebagai target impian, namun juga dinilai sebagai opsi yang “hampir mustahil” untuk direalisasikan.

Keputusan musim panas lalu mungkin masuk akal di atas kertas. Namun, seiring berjalannya waktu, kebutuhan akan sosok kreator di lini tengah Real Madrid semakin sulit untuk diabaikan.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *