Jujur saja, ketika orang bertanya bagaimana perasaanku menjalani tahun 2025, aku sering terdiam lebih dulu. Bukan karena tidak tahu jawabannya, tapi karena jawabannya terlalu panjang untuk diringkas dalam satu kalimat.
Tahun ini tidak sepenuhnya buruk, juga tidak sepenuhnya baik. Ia hanya terasa berat. Berat dengan cara yang sunyi. Bukan karena terlalu banyak kesibukan, melainkan karena terlalu lama menunggu.
Bagi sebagian orang, 2025 mungkin melelahkan karena target yang tak tercapai, pekerjaan yang menumpuk, atau rencana hidup yang berantakan.
Bagiku, 2025 salah satunya ialah melelahkan karena rindu. Rindu yang tidak bisa segera diselesaikan dengan pertemuan. Rindu pada seorang guru, yang jaraknya bukan hanya dipisahkan oleh ruang, tapi juga oleh waktu yang terasa berjalan lambat.
Aku dan Abah dipisahkan sejak Maret 2023. Tidak ada perpisahan dramatis, tidak ada tangis saat pamitan, tidak pula janji berlebihan. Hanya satu kesadaran pelan-pelan: setelah ini, aku tidak lagi bisa dengan mudah duduk di majelis yang sama, mendengar suara beliau secara langsung, atau sekadar menyalami tangannya seusai ratib dan maulid. Sejak saat itu, hari-hariku berubah. Tidak tampak dari luar, tapi terasa di dalam.
Abah adalah sosok ustadz kampung yang sederhana. Usianya kini 52 tahun. Namun semangat beliau dalam mensyiarkan dakwah Baginda Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam (SAW) sering kali membuatku merasa beliau jauh lebih muda dari umurnya.
Ratib dan maulid bukan sekadar rutinitas bagi beliau, melainkan napas. Aku menganggap beliau bukan hanya sebagai guru, tapi juga orang tua. Tempat bertanya, tempat menundukkan ego, dan tempat belajar adab – yang sering kali jauh lebih sulit daripada belajar ilmu.
Hari-hari tanpa tatap muka itu berjalan menjadi bulan, lalu tahun. Dua tahun tujuh bulan bukan waktu yang sebentar. Ada banyak momen kecil yang biasanya kujalani bersama Abah, kini harus kujalani sendiri. Duduk selepas sholat, mendengar lantunan shalawat, atau sekadar menyimak petuah beliau yang kadang terasa sederhana, tapi diam-diam membenahi hati.
Selama berpisah, komunikasi kami tidak terputus. Aku sering mengabari Abah lewat WhatsApp, bertanya kabar, atau menyampaikan rindu dengan cara paling jujur yang bisa kulakukan.
Abah hampir selalu membalasnya dengan pesan suara. Mungkin terdengar sepele, tapi bagiku, mendengar suara itu saja sudah cukup menenangkan. Ada rasa “pulang”, meski hanya lewat layar.
Namun, 2025 membawa rindu itu ke puncaknya. Entah kenapa, tahun ini terasa paling berat. Barangkali karena jarak sudah terlalu lama, atau karena hati semakin penuh. Aku mulai sering merasa lelah tanpa sebab yang jelas. Bukan lelah fisik, melainkan lelah batin. Di saat seperti itu, aku hanya bisa membawa rindu ini ke satu tempat: doa.
Ada satu doa yang hampir selalu kudawamkan, baik setelah sholat maupun di saat rindu datang tiba-tiba.
“Ya Allah, sampaikan usia kami dalam pertemuan yang Engkau ridhoi. Izinkan saya untuk kembali duduk bersama Abah di majelis-majelis yang Engkau rahmati. Jika takdirku membawaku untuk kembali ke Kota Hujan, maka aku ingin kembali berada di dekat Abah, duduk bersama beliau, dan mengenal beliau lebih lama. Ikut mengawal Abah dalam mensyiarkan dakwah Baginda Nabi dan mengabdi padanya. Izinkan aku lebih lama lagi belajar dengan Abah. Dan tolong, jaga adab, sikap, serta perilaku.”
Doa itu tidak selalu kuucapkan dengan suara lantang. Sering kali hanya menjadi bisikan di dalam hati. Tapi entah kenapa, setiap selesai berdoa, dadaku terasa sedikit lebih lapang. Seolah Allah sedang berkata, “Tenang, Aku mendengar semua keluh-kesahmu.”
Puncak rindu itu terjadi pada 9 April 2025, hari ulang tahun Abah. Seperti biasa, aku mengucapkan selamat milad. Tidak ada ekspektasi apa pun, selain berharap beliau sehat dan dalam lindungan Allah. Namun malam harinya, ponselku berdering. Nama Abah tertera di layar. Aku terdiam sejenak sebelum mengangkatnya.
Itu adalah kali pertama aku mendengar suara Abah secara langsung setelah sekian lama. Bukan pesan suara. Bukan rekaman. Tapi suara yang hadir saat itu juga. Kami berbincang singkat. Lalu, di tengah percakapan, Abah berkata dengan nada yang sangat sederhana, “Ana kangen sama ente.”
Kalimat itu tidak panjang. Tidak puitis. Tapi ia menghantam tepat ke hati. Ada rindu yang selama ini kutahan, runtuh begitu saja. Di saat itulah aku sadar, ternyata rindu ini tidak sepihak. Dan 2025, dengan segala beratnya, akhirnya memperlihatkan satu kejutan kecil yang sangat berarti.
Di tengah semua kesulitan tahun ini, hal kecil yang membuatku bertahan bukanlah pencapaian besar, melainkan momen-momen seperti itu. Suara Abah. Pesan suara singkat. Doa yang terus kuulang. Keyakinan bahwa jarak tidak selalu berarti terpisah di hadapan Allah.
Qodarullah, awal November 2025, kami akhirnya dipertemukan kembali. Kurang lebih dua tahun tujuh bulan tiga belas hari. Pertemuan itu tidak perlu kuceritakan panjang lebar. Cukup kusebutkan bahwa semua doa yang selama ini kupeluk, terasa dijawab dengan cara yang sangat lembut.
Dari 2025, aku belajar satu hal penting: tidak semua rindu harus segera diselesaikan. Ada rindu yang dititipkan Allah untuk mengajarkan sabar, adab, dan kesetiaan. Ada lelah yang justru mendekatkan kita pada doa. Dan ada guru yang meski jauh, tetap membimbing lewat cara yang tidak selalu kita sadari.
Menjelang tahun berikutnya, aku tidak membawa resolusi muluk. Aku hanya membawa doa yang sama, dengan harap yang lebih tenang:
“Ya Allah, jika Engkau masih mengizinkan aku berjalan di jalan ini, dekatkanlah aku pada guru-guruku. Panjangkanlah usia mereka dalam ridho-Mu. Dan jika suatu hari Engkau kembali memisahkan kami oleh jarak dan waktu, maka cukupkanlah hatiku dengan adab, sabar, dan rindu yang Engkau berkahi.”
Amin.
