– Tanggal 20 Februari 2026 jatuh pada hari Jumat yang merupakan minggu pertama dalam bulan Ramadhan 1447 Hijriyah.
Biasanya jamaah sholat Jumat mengikuti khutbah Jumat sebagai bagian dari rangkaian kegiatannya.
Sedangkan materi yang disampaikan dapat disesuaikan, misalnya terkait dengan Jumat pertama pada Bulan Ramadhan 1447 H.
Berikut ini akan dijelaskan secara lengkap materi Khutbah Jumat Pertama pada Bulan Ramadhan 1447 Hijriyah yang penuh makna dan berkesan.
____
Materi Khutbah Jumat
Mencari Pengampunan, Kasih Sayang Hingga Surga pada Bulan Ramadhan 1447 Hijriyah
Khutbah I
Alhamdulillah yang telah menjadikan puasa sebagai benteng bagi kekasih-Nya dan tempat berlindung, serta membuka bagi mereka pintu-pintu surga. Aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah, Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Nabi kami Muhammad adalah hamba-Nya dan utusan-Nya, tidak ada nabi sesudahnya. Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan keselamatan kepada Nabi kami Muhammad, pemimpin umat manusia dan penyebar sunnah, serta kepada keluarganya dan sahabat-sahabatnya yang memiliki penglihatan tajam dan akal yang jernih.
Selanjutnya, wahai orang-orang yang beriman, takutlah kepada Allah dengan sebenar-benarnya ketakutan dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam Kitab-Nya yang mulia: “Wahai orang-orang yang beriman, puasa diwajibkan atas kalian sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Memulai khutbah singkat ini, khatib mengingatkan kita semua, khususnya dirinya sendiri, untuk terus berupaya meningkatkan rasa takwa dan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala dengan menjalankan segala kewajiban serta menjauhi hal-hal yang dilarang dan diharamkan.
Jamah yang dimuliakan Allah.
Alhamdulillah, tahun ini kita kembali berjumpa dengan bulan mulia Ramadhan. Bulan yang penuh dengan keistimewaan dan keutamaan bagi umat Islam. Oleh karena itu, tidak mengherankan jika pada bulan ini tingkat ibadah umat Muslim semakin meningkat, baik dalam menjalankan kewajiban agama dengan lebih tekun maupun giat melaksanakan ibadah-ibadah sunnah di dalamnya.
Rasulullah SAW pernah menyampaikan bahwa ketika tiba bulan Ramadhan, umat Muslim dianjurkan untuk meningkatkan ibadah. Karena pahala dari amal kebaikan yang dilakukan di dalamnya akan dibalas berlipat ganda. Dalam sebuah hadits disebutkan,
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Setiap amal anak Adam akan digandakan, kebaikan dihitung sepuluh kali lipat hingga tujuh ratus kali. Allah Ta’ala berfirman: Kecuali puasa, sesungguhnya puasa itu untuk-Ku dan Aku yang membalasnya. Orang yang berpuasa meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan: gembira ketika berbuka dan gembira ketika bertemu dengan Tuhannya. Dan bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma kayu putih.
Maknanya, “Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, ‘Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap amal perbuatan manusia akan dilipatgandakan pahalanya. Satu kebaikan diberi pahala sepuluh hingga tujuh ratus kali. Allah azza wa jalla berfirman, ‘Kecuali puasa, karena puasa adalah untuk-Ku dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Karena, dia meninggalkan syahwat dan makanannya karena-Ku.’”
Dan bagi orang yang berpuasa terdapat dua kegembiraan. Kegembiraan saat ia berbuka puasa, dan kegembiraan ketika ia bertemu dengan Tuhannya. Sesungguhnya bau mulut dari seseorang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah dibandingkan aroma kasturi.” (HR Bukhari dan Muslim)
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Terdapat tiga hal utama yang dijanjikan oleh Allah kepada umat Islam ketika bulan Ramadhan tiba, yaitu pengampunan, kasih sayang, dan balasan berupa surga. Nabi Muhammad pernah berkata,
Bulan Ramadan dimulai dengan kasih sayang, tengahnya dengan pengampunan, dan akhirnya dengan pembebasan dari neraka.
Maknanya, “Awal bulan Ramadhan merupakan rahmat, pertengahannya adalah pengampunan, dan akhirnya merupakan pembebasan dari api neraka.” (Ibnu Khuzaimah)
Pertama ialah rahmat. Rahmat merupakan kasih sayang Tuhan kepada hamba-Nya. Berkat rahmat ini, nanti umat Islam dapat memperoleh pengampunan di akhirat dan mendapatkan balasan surga. Bahkan disebutkan bahwa rahmat menjadi penentu nasib seseorang kelak di hari kiamat. Mungkin saja seseorang rajin beribadah, namun jika belum meraih rahmat dari Allah, ia tidak memiliki jaminan masuk surga.
Namun, hal itu tidak berarti kita menganggap remeh ibadah hanya karena mengandalkan rahmat, karena penyebab dari rahmat tersebut adalah ketaatan hamba kepada Allah.
Terkait hal ini, terdapat kisah menarik mengenai seorang hamba yang selama hidupnya digunakan untuk beribadah, namun ia masuk surga bukan karena amal ibadahnya tersebut, melainkan karena anugerah kasih sayang Allah. Kisah ini disampaikan oleh Syekh Abul Laits as-Samarqandi dalam kitab Tanbīhul Ghāfilīn dengan merujuk pada riwayat Al-Hakim dalam karya Mustadrak-nya.
Diceritakan, suatu ketika Malaikat Jibril as menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw, “Wahai Muhammad! demi Allah yang telah mengangkatmu sebagai nabi. Allah memiliki seorang hamba yang sangat taat beribadah. Hamba ini tinggal dan beribadah selama 500 tahun di atas sebuah gunung.”
Ringkasan ceritanya, hamba tersebut memohon kepada Allah agar nyawanya dicabut dalam keadaan sujud dan tubuhnya tetap utuh sampai hari kiamat. Permintaannya dikabulkan. Ketika di akhirat, Allah berkata kepadanya, “Hambaku, Aku masukkan engkau ke surga karena kasih sayang-Ku!”
Hamba itu membantah. Menurut protesnya, yang membuatnya layak masuk surga adalah ibadahnya yang berlangsung ratusan tahun, bukan kasih sayang Allah. Setelah dihitung, ternyata bobot kasih sayang-Nya lebih besar daripada amal ibadah tersebut. Allah lalu memerintahkan malaikat untuk memasukkan dia ke neraka.
Sebelum dimasukkan ke dalam neraka, hamba tersebut ingin mengakui bahwa rahmat Allah lebih besar dan mampu membawanya masuk surga. Akhirnya, ia tidak lagi dimasukkan ke dalam neraka. (Abul Laits as-Samarqandi, Tanbihul Ghafilin, t.t, h. 63)
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Keistimewaan Ramadhan berikutnya adalah pengampunan dari Allah. Sebagai manusia, tentu kita menyadari bahwa kita memiliki banyak dosa yang semakin hari semakin meningkat. Karena, melakukan kesalahan dan berdosa merupakan fitrah manusia. Nabi Muhammad saw bersabda,
Semua keturunan Adam berdosa, dan yang terbaik dari para pelaku kesalahan adalah mereka yang bertobat.
Maknanya, “Setiap manusia pasti pernah melakukan kesalahan, dan orang yang paling baik di antara mereka yang bersalah adalah yang mengakui kesalahan dan bertaubat.” (HR Tirmidzi).
Hadits ini menegaskan bahwa sebagai manusia kita tidak dapat terlepas dari dosa. Tidak peduli apakah dia seorang warga biasa atau pejabat, orang awam atau ahli agama, santri maupun kiai, semuanya pasti memiliki dosa. Yang membedakan kita semua adalah siapa yang bersedia mengakui kesalahan dan bertaubat kepada Allah. Pada momen Ramadhan ini, Allah menawarkan banyak pengampunan bagi hamba-Nya yang bertaubat. Oleh karena itu, jangan sia-siakan kesempatan berharga yang hanya datang sekali dalam setahun ini.
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Keistimewaan yang dijanjikan oleh Allah pada Ramadhan berikutnya adalah pahala surga bagi hamba-Nya yang taat. Nabi pernah berkata,
Jika datang bulan Ramadan, pintu-pintu surga dibuka dan pintu-pintu neraka ditutup serta setan-setan dikunci.
Maknanya, “Saat Ramadhan tiba, pintu-pintu surga dibuka, pintu-pintu neraka ditutup, dan setan diikat.” (HR Muslim)
Mengenai hadis tersebut, Syekh ‘Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan bahwa makna “dibukanya pintu surga” adalah metafora yang mengajak umat Islam untuk meningkatkan amal ibadah selama bulan suci Ramadhan, sedangkan “dibelengguhnya setan” merupakan simbol untuk mengingatkan diri agar menjauhi perbuatan terlarang. (Syekh ‘Izzuddin bin Abdissalam, Maqashidush Shaum, 1922: 12).
Ma’asyiral muslimīn a’azzakumullāh.
Berikut adalah beberapa variasi dari teks yang diberikan: 1. Itulah khutbah yang dapat disampaikan oleh khatib. Semoga kita mampu menjalani bulan Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun mendatang dengan sebaik-baiknya, sehingga bisa memperoleh pengampunan, rahmat, serta balasan surga dari Allah SWT. 2. Demikianlah isi khutbah yang dapat disampaikan oleh khatib. Semoga kita bisa menghadapi Ramadhan tahun ini dan berikutnya secara optimal agar bisa meraih ampunan, karunia, serta pahala surga dari Allah SWT. 3. Inilah khutbah yang mampu disampaikan oleh khatib. Semoga kita mampu melalui Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya dengan maksimal, sehingga bisa mendapatkan pengampunan, kasih sayang, dan balasan surga dari Allah SWT. 4. Berakhirnya khutbah yang dapat disampaikan oleh khatib. Semoga kita bisa melewati bulan Ramadhan tahun ini dan seterusnya dengan sebaik-baiknya, agar bisa meraih ampunan, rahmat, serta ganjaran surga dari Allah SWT. 5. Itulah khutbah yang bisa disampaikan oleh khatib. Semoga kita mampu menjalani Ramadhan tahun ini dan tahun-tahun berikutnya dengan sungguh-sungguh, sehingga bisa memperoleh pengampunan, keberkahan, serta balasan surga dari Allah SWT.
Saya menyampaikan perkataan ini dan memohon ampunan kepada Allah untuk saya dan kalian, maka mohonlah ampunan kepada-Nya, sesungguhnya Dia adalah Yang Pemaaf lagi Pengasih.
Khutbah II
Alhamdulillah wa kafā, wa aṣallī wa asallimu ‘alā sayyidinā Muhammad al-Mustafa, wa ‘alā ālihi wa ashābihi ahli al-wafā. Ašhadu an lā ilāha illallāhu waḥdahu lā šarīka lahu, wa ašhadu anna sayyidinā Muḥammadan abduhu wa rasūluhu.
Seterusnya, wahai para muslimin, saya nasihatkan kalian dan diriku sendiri untuk takwa kepada Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. Ketahuilah bahwa Allah memerintahkan kalian dengan perintah yang besar, yaitu mengerjakan shalat dan salam atas Nabi-Nya yang mulia. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat kepada Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian kepadanya dan berikan salam sebanyak-banyaknya.” Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau melimpahkan shalawat kepada junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya, serta berkahilah junjungan kami Nabi Muhammad dan keluarganya, sebagaimana Engkau memberkati junjungan kami Nabi Ibrahim dan keluarganya di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, ampunilah bagi para muslimin dan muslimat, para mukminin dan mukminat yang masih hidup maupun yang sudah wafat. Ya Allah, jauhkanlah dari kami bencana, kesulitan, wabah penyakit, kemungkaran, kezaliman, berbagai bentuk kekerasan, bencana dan cobaan, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, khususnya dari negeri kami ini, dan secara umum dari negeri-negeri kaum muslimin. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.
Hamba-hamba Allah, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil dan berbuat baik serta memberi kepada kerabat dekat, dan Dia melarang perbuatan keji, kemunkaran, dan aniaya. Ia memberi nasihat kepada kalian agar kalian ingat. Maka ingatlah Allah yang Agung, niscaya Dia akan mengingat kalian, dan sesungguhnya mengingat Allah adalah yang terbesar.
(/Putri Kusuma Rinjani)
***
Artikel lainnya di google news.
Ikuti dan bergabung disaluran WhatsApp







