Tahun 2025 adalah satu dari beberapa tahun yang paling penting bagiku, merupakan titik persimpangan besar jalan hidupku, terutama karena ia datang tepat menjelang usia jelita, jelang lima puluh tahun.
Bukan karena dalam tahun ini ada pencapaian besar yang bisa kubanggakan dan layak untuk dipamerkan di medsos, tapi karena banyak hal bergeser secara nyata dan signifikan. Mulai dari cara berpikir, cara memandang dunia (khususnya terhadap dinamika kehidupan Sapiens) dan cara melihat diriku sendiri yang benar-benar berubah drastis.
Di tahun ini, tahun yang dipenuhi dengan berbagai tragedi lingkungan alam dan kemanusiaan, aku melakukan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah kulakukan. Bukan karena impulsif, bukan semata nekat, bukan juga karena sedang mengejar sensasi. Lebih karena ada dorongan untuk keluar dari pola lama yang sudah terlalu lama mengungkung hidupku yang terasa sempit menghimpit.
Rangkaian keputusan itu membawaku ke level kehidupan yang samasekali baru, baik secara spiritual maupun secara sosial.
Dimulai dari mengalami sebuah petualangan yang, beberapa tahun lalu, mungkin akan langsung kutolak karena terdengar tidak masuk akal dan sangat bertentangan dengan keyakinanku selama ini. Sebuah pengalaman yang saking pribadinya gak mungkin kuceritakan disini.
Kemudian, untuk pertama kalinya dalam hidupku aku bertemu dan menyalami orang-orang yang selama ini hanya kulihat lewat berita. Dua menteri, satu wakil menteri, dan beberapa pejabat tinggi di sejumlah kementerian pusat. Pertemuannya singkat dan biasa saja. Tidak ada rasa kagum berlebihan, tidak ada euforia. Justru yang terasa adalah kesadaran bahwa sistem besar bernama negara ini dijalankan oleh manusia biasa dengan segala keterbatasannya.
Mobilitasku juga berubah. Tahun ini aku pertama kali singgah ke kota Jombang, Mojokerto, Surabaya, Salatiga, dan Semarang. Kota-kota itu tidak kukunjungi sebagai turis. Aku mendatanginya dengan agenda kerja riset bioselulosa dengan masa tinggal yang cukup terbatas. Tapi tetap saja, berpindah tempat memberiku jarak dari rutinitas lama dan melihat kehidupan manusia dari sudut pandang yang sedikit berbeda.
Namun 2025 juga adalah tahun yang sangat berat. Kegagalan datang bukan satu kali, tapi berlapis. Beberapa rencana besar gagal total. Beberapa harapan runtuh seketika tanpa peringatan. Ada fase di mana apapun yang kucoba hasilnya mengecewakan, kuhadapi saja gak pakai drama. Hanya kelelahan dan kesadaran baru bahwa kehidupan memang seringkali menunjukkan sisi wajah aslinya yang sangat kejam, tidak memberi jeda di antara pukulan-pukulan yang sangat keras.
Di tengah semua itu, ada satu pergeseran penting yang sifatnya lebih personal. Setelah sekian tahun pasif, aku kembali aktif mengaktualisasikan diri di . Bukan sekadar mengunggah tulisan, tapi benar-benar kembali ke ritme berpikir, merangkai argumen, berdialog dan berdiskusi dengan sesama Kompasianers yang beneran keren, asli kerennya.
Tahun ini pula aku menghadiri Kompasianival 2025, yang sebelumnya pernah kuhadiri tahun 2013 dan 2016. Aku datang sejak siang di awal acara dan menikmati seluruh rangkaian event hingga malam di acara penutupan. Seharian penuh berada di tengah para penulis, pembaca, narasumber dan mendiskusikan tema acara yang aktual, up to date, “Cerdas Digital Mandiri Finansial”, memberi rasa keterhubungan yang sudah lama hilang. Full respect sama panitia dan sama kompasianer.
Bagi diriku pribadi, itu bukan sekadar acara komunitas, tapi satu dari sejumlah kecil momen terbaik, momen yang paling berkesan di sepanjang tahun 2025, momen ketika aku merasa berada di tempat dan waktu yang tepat.
Kalau bicara soal prestasi, rasanya tidak ada yang bisa kubanggakan. Tidak ada lompatan finansial, tidak ada pengakuan sosial. Satu hal yang bisa dicatat adalah aku berhenti total main game sepanjang tahun 2025. Kebiasaan yang sempat kulakukan literally selama puluhan tahun, yang selama ini kupakai sebagai pelarian akhirnya benar-benar kutinggalkan. Entah itu prestasi atau sekadar keputusan sadar yang terlambat, faktanya kebiasaan itu sudah tidak lagi ada.
Tahun ini juga menandai fase intelektual yang cukup padat. Selain mengkhatamkan Sang Alkemis karya besar Paulo Coelho dan The Idiot Brain karya Dean Burnett, aku juga menamatkan tiga buku karya Yuval Noah Harari secara berurutan, Neksus, Sapiens, dan Homo Deus. Aku samasekali gak memperdulikan preferensi pribadinya yang warga Israel, penganut homoseksual dan seorang ateis. Berlian tetaplah intan, dimanapun ia berada.
Neksus membantuku memahami bagaimana jejaring informasi bekerja dalam membentuk peradaban manusia. Sapiens memberi gambaran besar tentang dinamika kehidupan manusia sebagai spesies. Homo Deus menarik benang ke masa depan, ke arah ambisi, teknologi, dan kemungkinan-kemungkinan baru. Membaca ketiganya berurutan membuat cara berpikirku lebih terstruktur, sekaligus jauh lebih kritis.
Ada juga pengalaman kecil yang tampak remeh bagi banyak orang, tapi cukup berarti bagiku. Untuk pertama kalinya aku makan siang di sebuah restoran mewah dengan biaya sekali makan 450 ribu rupiah. Bagi sebagian orang mungkin angka yang biasa saja. Tapi bagiku dan pasti banyak orang lain, angka itu jelas angka yang sangat luar biasa hanya untuk sebuah makan siang dalam sebuah pertemuan bisnis dengan rekan baik.
Jika ditarik garis besarnya, 2025 bukanlah tahun kemenangan dan bukan pula tahun kehancuran. Tahun ketika banyak hal lama kutinggalkan, sementara yang baru belum sepenuhnya terbentuk. Secara keseluruhan, tahun ini merupakan tahun transisi yang sangat penting bagiku pribadi, persis bagai kepompong yang sedang berubah menjadi kupu-kupu. Tahun yang justru membuatku lebih tenang dalam menjalani kehidupan yang fana ini.
Ada fase hampa, ada fase kebingungan, tapi juga ada arahnya. Rangkaian peristiwa yang sekilas nampak random tapi jelas ada polanya bila semua titiknya dihubungkan.
Malam tahun baru nanti sengaja kurayakan dengan kesendirian dan ketenangan. Semua pengalaman baru itu kutandai secara khusus, kupahami, kuhayati, dan bila masih panjang umur panjang rezeki, akan kujadikan sebagai pijakan kokoh, sebagai ancang-ancang untuk leap-ahead di tahun 2026.
Terima kasih 2025, selamat datang 2026.
(Ajuskoto. Cianjur. 31 Desember 2025)







