, MARTAPURA – Hujan yang turun dengan intensitas tinggi mengakibatkan banjir di wilayah Karang Intan Kabupaten Banjar Kalimantan Selatan.
Luapan air sungai yang cukup deras membuat sebagian warga harus mengungsi ke pengungsian yang disiapkan oleh Perguruan Muhammadiah Karang Intan Banjar.
Mereka yang mengungsi adalah warga Karang Intan Rt 2 Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar.
Sementara sebagian warga masih memilih bertahan di rumah masing-masing. Mereka hanya mengungsikan barang-barang ke tempat yang lebih aman.
Hal tersebut, dibenarkan oleh Koordinator Pengungsian, Neneng Ayu Pustita.
Menurut dia, pengungsian di Karang Intan, sudah disiapkan oleh timnya untuk mengamankan diri dari banjir.
“Untuk saat ini yang mengungsi ada dua kepala keluarga (KK) sebanyak enam orang. Satu di antaranya lansia, kalau balita tidak ada,” kata Neneng Ayu Puspita Dewi.
Diungkapkannya, warga masih belum 100 persen mengungsi meski air bertambah dalam.
Kepala Dalops Kalimantan V/Banjar, Manggala Agni, Ibnu Harsodo menjelaskan timnya memang melakukan tindakan membantu pengungsian dari banjir
“Tapi dievakuasi ke rumah keluargannya yang aman dari banjir. Hanya sedikit yang ke pengungsian,” kata Ibnu Darsono.
Tapi pihaknya mengaku malam ini tetap stanby untuk operasi sebab debit air naik terus.
“Kami stanby terus,” tegasnya.
Sungai Martapura Berstatus Bahaya, Banjir Rendam 68 Desa di Kabupaten Banjar
Status Sungai Martapura di wilayah Kabupaten Banjar kini berada pada level bahaya.
Berdasarkan pantauan Balai Wilayah Sungai (BWS) III Kalimantan Selatan, tinggi muka air Sungai Martapura tercatat mencapai 9,6 meter pada Sabtu (27/12/2025) pagi, dengan kondisi cuaca hujan dan jarak jagaan tersisa hanya 0,4 meter.
Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Banjar, Yayan Daryanto, S.Hut, mengatakan peningkatan debit Sungai Martapura turut berdampak pada meluasnya genangan banjir di sejumlah wilayah permukiman warga.
“Banjir genangan saat ini terjadi di 11 kecamatan dengan total 68 desa terdampak. Tim masih melakukan pendataan jumlah kepala keluarga dan jiwa yang terdampak,” urainya dalam laporan Pusdalops Banjar.
Wilayah yang terdampak cukup luas, di antaranya Kecamatan Martapura, Martapura Barat, Martapura Timur, Karang Intan, Astambul, Sungai Tabuk, Mataraman, Pengaron, hingga Cintapuri Darussalam.
Di beberapa desa, air telah merendam rumah warga, fasilitas umum, serta sarana pendidikan.
Selain banjir, BPBD Kabupaten Banjar juga mencatat terjadinya tanah longsor di dua lokasi.
Longsor terjadi di Desa Tiwingan Lama, Kecamatan Aranio, dengan total lima titik longsoran.
Salah satu longsor di Bukit Tiwingan sempat menutup akses jalan secara total, namun telah ditangani menggunakan alat berat dan kini jalur tersebut kembali dapat dilalui.
Longsor juga dilaporkan terjadi di Desa Gunung Batu, Kecamatan Sambung Makmur, pada Sabtu siang sekitar pukul 12.54 Wita. Tidak ada laporan korban jiwa dalam peristiwa tersebut.
BPBD bersama unsur TNI, Polri, pemerintah kecamatan dan desa, relawan, serta tim gabungan terus melakukan pemantauan, evakuasi, dan pendataan di wilayah terdampak.
Sejumlah langkah darurat juga telah dilakukan, di antaranya evakuasi warga di Desa Tunggul Irang, evakuasi barang elektronik di SD Bincau Muara, pendirian tenda pengungsi di Desa Tanah Abang Kecamatan Mataraman, serta pengoperasian dapur umum di BPBD Kabupaten Banjar.
Selain Sungai Martapura, kondisi Sungai Riam Kanan dan Bendungan Karang Intan juga berada pada status bahaya.
BPBD mengimbau masyarakat yang bermukim di bantaran sungai agar tetap waspada terhadap potensi kenaikan air susulan, mengingat curah hujan masih berpotensi terjadi.
“Pemantauan akan terus dilakukan secara berkala. Masyarakat diharapkan segera melapor jika terjadi peningkatan debit air atau kondisi darurat lainnya,” kata Yayan.
Hingga Sabtu sore, proses pendataan jumlah warga terdampak banjir masih berlangsung dan akan diperbarui secara bertahap oleh BPBD Kabupaten Banjar.(/ Nurholis Huda)







