Sukses duetkan Marcus/Kevin dan Fajar/Rian, Indonesia berharap tuah pelatih Raymond/Joaquin

Kiprah pasangan ganda putra Indonesia, Raymond Indra/Nikolaus Joaquin, menjadi salah satu yang dinantikan pada 2026 setelah gebrakannya pada Australian Open 2025 dengan menjadi juara.

Padahal, ini merupakan turnamen Super 500 pertama mereka. Mereka meraihnya setelah mengalahkan pemain yang lebih tinggi secara peringkat hingga menundukkan senior mereka, Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri pada babak final.

Bacaan Lainnya

Raymond/Joaquin mulai berlatih bersama sejak awal Januari 2025. 

Raymond/Joaquin juga melesat 8 posisi ke ranking ke-24 dunia setelah keberhasilan di Negeri Kanguru.

Mereka meraihnya dalam jangka waktu 9 bulan sejak pertama kali diduetkan pada Singapore International Challenge 2025.

Sosok di balik duet Raymond/Joaquin adalah pelatih kepala ganda putra pratama, Chafidz Yusuf.

“Dari segi teknis kalau Raymond punya power dan polanya menyerang. Kalau dulu seperti Gideon (Marcus Fernaldi Gideon),” kata pelatih kepala ganda putra pratama PBSI, Chafidz Yusuf, dalam wawancara khusus dengan di pelatnas Cipayung, Jakarta.

“Kalau Joaquin sebenarnya play maker, penentu serangan. Saya pikir setelah kami amati, kami lihat. Saya sendiri baru ada keputusan bahwa ini akan bisa lebih dikembangkan. Itu jika dilihat secara teknis.”

“Secara non-teknis, mereka sama-sama memiliki tujuan yang kuat. Mereka mau menjadi pemain dunia, mereka mau juara, maunya lebih. Dua-duanya memiliki motivasi yang sama.”

“Itu yang bisa menjadikan mereka lebih cepat progressnya karena dua-duanya ingin juara dan meningkat terus. Bahkan, sampai sekarang juga dia dengan semangatnya, fokusnya, disiplinnya, tetap dia lakukan dengan baik.”

Chafidz menjelaskan hal yang perlu dilakukan duet usia 21 dan 20 tahun itu untuk menjaga ekspektasi selepas menjadi juara Australian Open 2025.

“Pertama, persiapan dengan program Latihan yang bagus. Semuanya harus tetap ditingkatkan. Karena apa? dengan program yang bagus, latihan yang bagus akan menimbulkan suatu kepercayaan diri yang lebih,” tutur Chafidz.

“Kedua, saya ingatkan mereka. kepada Joaquin/Raymond bahwa kemarin jadi juara Super 500 dijadikan sebagai motivasi, jangan jadikan beban. Pada saat kalian sudah turun podium, harus merasa dari nol lagi.”

“Jadi, untuk ke depannya beban-beban setelah mendapat gelar ya lupakan. Lupakan bisa dijadikan hal positif. Misalnya lebih yakin, lebih pede.”

“Tetapi, jangan dijadikan beban dimana nanti kejuaraan selanjutnya malah ekpektasi dari siapa saja yang terlalu berlebihan tidak bagus.”

“Tapi Joaquin/Raymond, akan berusaha seperti itu karena Joaquin/Raymond adalah pemain yang pendengar yang baik.”

Menurut pencetus pasangan Marcus Fernaldi Gideon/Kedvin Sanjaya Sukamuljo itu, apapun yang terjadi setelah kejuaraan selanjutnya selama Joaquin/Raymond bisa menjaga ekspektasi dengan latihan persiapan yang baik konsistensinya akan terjaga.

Soal apakah performa Raymond/Joaquin sudah memenuhi ekspektasi untuk 2025, Chagidz menceritakan proses pembentukan ganda putra asal klub PB Djarum tersebut.

“Awal latihan itu dari Januari 2025. Saat 3 bulan pertama masih pembentukkan. Setelah 3 bulan kedua, itu baru lebih spesifik latihannya,” tutur Chafidz.

“Terutama di bolanya, cara rotasinya, terus untuk mengisi serangan, kualitas defense sama serangannnya sudah mulai dipersiapkan.”

“Memang untuk kualitas Raymond/Joaquin nantinya akan ikut series atas (300, 500, 750, 1000) memang kebutuhannya masih banyak yang harus ditingkatkan. Bahkan, saya bilang harus dua kali lipat daripada sekarang.”

“Soalnya tahu sendiri, pemain-pemain dunia itu rapat pertahananya,t idak gampang mati bolanya, tidak boleh kendur. Itu masih harus dilatih power dan endurance-nya.”

“Jadi, kalau untuk target ke depan seperti setahun ini pembentukkan sudah lumayan mengisi. Dari pola, cara bermain sudah mulai mumpuni. Kalau setahun ini pembentukkan, tahun depan harus sudah program penajaman.”

Chafidz juga membocorkan kiat bisa meramu Marcus/Kevin, Fajar Alfian/Muhammad Ardianto hingga bisa melejit di peringkat 1 dunia.

“Sebetulnya dari kemampuan individu, setelah kita lihat, dan beberapa lami kami amati saat Latihan ada program game,” ucap Chafidz.

“Bisa berputar bisa berpasang-pasangan. Kalau dari saya persisnya akan saya lihat, pertama kemampuan individu. Misalnya skill, pola mainnya seperti apa, selanjutnya karakter.”

“Anak ini cocok tidak. Dari sehari-hari kelihatan antara akrab atau musuhan. Dan yang paling penting saya kurang tahu ya seperti punya insting yang datang dengan sendirinya, pasangan ini saya putuskan. “

“Dengan sendirinya ada semacam feeling. Tetapi, itu sering terjadi pada saat dulu dengan Kevin/Gideon, Fajar/Rian, insting saja, feeling saja, tetapi, tidak hanya cukup feeling. Kami juga melihat berdasarkan data, kemampuan individu, dari beberapa faktor.”

“Dalam arti saya bilang ini akan bagus dalam satu keputusan yang akan saya jalani.”

Chafidz juga memastikan bahwa Raymond/Joaquin akan pindah menjadi ganda putra utama pada 2026.

“Tahun depan sudah ke utama. Kalau untuk Raymond/Joaquin programnya belum ada keputusan seperti apa,” ucap Chafidz.

“Nanti barangkali saya diperbantukan atau saya fokus ke pemain pelapis, menunggu keputusan dari pengurus saja.”

“Kalau saya pribadi pemain mana yang terbaik, saya siap mendukung. Tahun depan belum ada target tertentu dan peringkat seperti Australia.”

“Progress-nya kami sudah melihat kalau saya target jangka panjang khususnya Olimpiade.”

“Jadi progress untuk 2026, 2027 saya kira juga mengejar prestasi yang maksimal khususnya podium yang otomatis bisa memperbaiki ranking dunia. “

“Tapi satu hal disini, di pelatnas utama banyak pemain senior, dia lebih banyak belajar, mendengar masukkan meskipun sedikit banyak berkomunikasi dengan Joaquin/Raymond. Mereka orangnya selalu mau belajar. Pratama dan utama sama, hanya berbeda bagiannya saja.”

Raymond/Joaquin akan debut pada turnamen Super 1000 dengan mengikuti Malaysia Open 2026, 6-11 Januari.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *