TIM peneliti dari Kelompok Riset Perilaku Hewan dan Interaksi Manusia–Hewan di Universitas Bilkent, Turki, menemukan fakta baru soal “meongan” kucing. Salah satu hewan peliharaan terfavorit ini cenderung menyapa manusia berjenis kelamin laki-laki dengan suara lebih vokal dibanding ke perempuan.
Kaan Kerman, salah satu anggota kelompok riset itu, mengatakan timnya meneliti kemampuan kucing untuk menghafal individu yang memiliki ikatan dengan mereka. Studi yang dipublikasikan tim tersebut di jurnal “Ethology” pada 14 November lalu menjelaskan cara kucing menyapa manusia dengan pendekatan observasional.
“Menegaskan bahwa kucing memiliki kemampuan kognitif, yang membantu mereka hidup berdampingan dengan manusia secara adaptif,” ujarnya, dikutip dari ulasan Live Science yang terbit pada 23 Desember 2025.
Meski kerap dicap dingin dan tidak ramah, merujuk studi yang sama, kucing sejatinya sangat komunikatif dan piawai menyesuaikan diri dengan berbagai kelompok sosial. Anggapan lama—baik di masyarakat maupun komunitas ilmiah—yang melihat kucing sebagai hewan penyendiri kini mulai dipatahkan. Penelitian menunjukkan bahwa kucing lebih mudah bersosial, tidak berinteraksi dengan manusia semata-mata untuk makanan, serta aktif membangun ikatan dengan pengasuhnya.
Dalam konteks ini, cara mengeong menjadi bagian penting dari perilaku sosial kucing. Suara panggilan ternyata memperkuat ikatan kucing domestik (Felis catus) dan manusia.
Para peneliti melengkapi 40 pemilik kucing dengan kamera dan meminta mereka merekam 100 detik pertama interaksi dengan peliharaan masing-masing setelah pulang ke rumah. Peserta diminta bertindak senormal mungkin agar interaksi yang terekam bersifat alami. Rekaman tersebut kemudian dianalisis untuk melihat keterkaitan perilaku dan pengaruh faktor demografis terhadap respons kucing.
Sembilan peserta dikeluarkan dari analisis karena berbagai alasan. Dari 31 rekaman yang tersisa, terlihat jelas bahwa kucing jauh lebih vokal terhadap pria dibandingkan perempuan saat pemiliknya baru tiba di rumah. Peneliti mencatat bahwa tidak ada faktor demografis lain yang secara nyata memengaruhi frekuensi atau durasi sapaan tersebut.
Ketika variabel lain—seperti jenis kelamin kucing, status ras, dan jumlah kucing dalam rumah—diperhitungkan, hasilnya tetap sama: jenis kelamin manusia menjadi faktor tunggal yang memengaruhi vokalisasi kucing. Peneliti menduga, hal ini mungkin karena perempuan cenderung lebih aktif berbicara dengan kucing dan lebih piawai menafsirkan keinginan mereka, sementara pria mungkin memerlukan lebih banyak dorongan sebelum memberi perhatian yang dianggap cukup oleh kucing.
Ada juga pengaruh dari faktor budaya. Penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa cara manusia berinteraksi dengan kucing berbeda antarbudaya. Perbedaan ini memengaruhi cara kucing merespons manusia. Pria di Turki, tempa studi ini berlangsung, bisa jadi kurang komunikatif secara verbal dengan kucing. Namun, penafsiran ini tetap masih bersifat spekulatif dan perlu diuji lebih lanjut.
Tim peneliti juga menemukan bahwa suara meong dan vokalisasi lain tidak mengikuti pola perilaku tertentu, sehingga tidak dapat diartikan sebagai penanda emosi atau kebutuhan spesifik. Dalam studi itu, para peneliti mengakui sejumlah keterbatasan, termasuk ukuran sampel yang kecil dan peserta yang berasal dari wilayah yang sama.
Ada juga faktor yang belum terjangkau untuk diteliti, seperti tingkat lapar kucing, jumlah orang di rumah, atau durasi kucing ditinggal sendirian. Riset sebelumnya menunjukkan bahwa kucing bereaksi berbeda—misalnya lebih sering mendengkur atau meregang—ketika dipisahkan dari manusia dalam waktu lebih lama. Artinya, temuan ini tak serta merta membuktikan kucing selalu mengeong lebih banyak kepada pria.







