Isi Artikel
Kasus Pembunuhan Ibu oleh Anak di Sumatera Utara
Kasus pembunuhan yang menimpa Faizah Soraya, seorang ibu rumah tangga di Sumatera Utara, masih menjadi perhatian masyarakat. Menurut informasi yang beredar, korban ditemukan dalam kondisi bersimbah darah akibat 20 tusukan pisau. Saat kejadian, Faizah Soraya tidur bersama kedua anaknya di kamar lantai satu, sementara suaminya, Alham, tidur di kamar lantai dua.
Sang anak bungsu, yang diketahui berusia 12 tahun dan sedang duduk di bangku kelas 6 SD, disebut sebagai pelaku utama. Namun, pihak keluarga korban tidak percaya bahwa remaja sekecil itu bisa melakukan tindakan keji seperti itu. Mereka merasa ada hal yang tidak wajar dalam kasus ini.
Kejanggalan dalam Peristiwa
Salah satu hal yang memicu ketidakpercayaan adalah fakta bahwa Faizah Soraya tidak terdengar teriakan saat kejadian. Justru anak sulungnya yang berteriak karena syok melihat ibunya sudah meninggal. Selain itu, Alham, suami korban, mengaku melihat putrinya memegang pisau di dekat jenazah ibunya. Ia menyatakan bahwa motivasi pembunuhan berasal dari dendam sang anak bungsu terhadap ibunya yang memarahi kakaknya.
Namun, pengakuan Alham ditolak mentah-mentah oleh keluarga. Mereka justru meminta agar Alham diperiksa lebih lanjut. Alham diketahui telah berselingkuh dan ingin menceraikan Faizah, namun sang istri menolak untuk berpisah. Keduanya masih tinggal di satu rumah karena Faizah mempertimbangkan kebutuhan kedua putrinya.
Penolakan Keluarga terhadap Pengakuan Alham
Kelompok keluarga korban menyampaikan rasa tidak percaya mereka melalui media sosial. Mereka menyebut bahwa Alham selingkuh dan ingin cerai, tetapi Faizah menolak. Bahkan, mereka heran mengapa Alham tidak mendengar teriakan Faizah saat kejadian. Mereka juga menyoroti logika yang tidak masuk akal, seperti mengapa anak SD bisa melakukan pembunuhan dengan 20 tusukan tanpa teriakan.
Setelah kejadian tersebut, Alham memilih bungkam dan tidak memberikan keterangan apa pun. Sementara itu, jasad Faizah Soraya ditemukan di Jalan Dwikora, Kelurahan Tanjung Rejo, Kecamatan Medan Sunggal, pada Rabu (10/11/2025). Ia diduga ditusuk sebanyak 20 kali oleh putri bungsunya, SAS, menggunakan pisau dapur.
Kondisi Anak Pelaku
Anak bungsu yang disebut sebagai pelaku, SAS, dikenal sebagai anak yang baik, pendiam, ramah, dan berprestasi di sekolahnya. Warga sekitar mengaku terkejut dengan tindakan yang dilakukan oleh anak yang dianggap memiliki sifat positif.
Selain itu, warga juga mengungkapkan bahwa keluarga korban jarang berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Mereka tergolong tertutup dan jarang keluar rumah. Hal ini membuat warga tidak mengetahui masalah internal di dalam rumah tangga tersebut hingga akhirnya kejadian tragis terjadi.
Motif Masih Dalam Penyelidikan
Polrestabes Medan sedang mendalami kasus ini. Kasat Reskrim AKBP Bayu Putro Wijayanto mengonfirmasi bahwa pelaku, SAS, telah diamankan dan sedang menjalani pemeriksaan intensif. Pihak kepolisian menyatakan bahwa proses pemeriksaan dilakukan dengan hati-hati mengingat usia pelaku yang masih di bawah umur dan kondisi psikologisnya.
Motif di balik perbuatan keji tersebut masih menjadi fokus penyelidikan. Polisi juga masih mendalami jumlah dan jenis luka tusukan pada korban. Sampai saat ini, belum ada pengumuman resmi tentang hasil pemeriksaan atau alasan di balik tindakan pelaku.
Kesimpulan
Kasus ini menunjukkan kompleksitas hubungan keluarga dan dampak dari konflik yang tidak terlihat oleh orang luar. Bagaimana seorang anak SD bisa melakukan tindakan kejam seperti ini masih menjadi pertanyaan besar. Masyarakat menantikan penjelasan lengkap dari pihak berwajib serta upaya untuk memahami akar masalah yang terjadi di balik kejadian ini.






