– Sosok Jenderal TNI Maruli Simanjuntak yang Bikin Menkeu Purbaya Kaget
Nama Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD) Jenderal TNI Maruli Simanjuntak mendadak mendapat banyak sorotan saat rapat koordinasi bersama Satgas Pemulihan Pascabencana DPR RI di Banda Aceh, Aceh, Selasa (30/12/2025).
Hal yersebut terjadi saat Menteri Keuangan (Menkeu), Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap bahwa Jenderal Maruli memiliki banyak utang untuk membangun jembatan darurat di Sumatra.
Bahkan Menkeu Purbaya dibuat kaget olehnya.
“Yang kamu tahu kan selama ini (pengeluaran biaya untuk pemulihan bencana di Sumatra) itu satu pintu lewat BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana). Harusnya sih kita anggap lancar tadinya.’
“Tapi, saya baru tahu bahwa sebelah saya (Maruli) punya utang banyak rupanya,” ujar Purbaya disambut tawa Maruli.
“Bapak kalau ngutang (bangun) jembatan, jaminannya apa?” tanya Purbaya saat rapat koordinasi bersama Satgas Pemulihan Pascabencana DPR RI di Banda Aceh, Aceh, Selasa (30/12/2025).
“Ya, tentara, Pak,” jawab Maruli disambut tawa peserta rapat.
Profil Maruli Simanjuntak
Jenderal TNI Maruli Simanjuntak lahir pada 27 Februari 1970 di Bandung, Jawa Barat, yang artinya ia sudah berusia 55 tahun.
Maruli adalah lulusan Akademi Militer (Akmil) tahun 1992 yang berpengalaman di Infanteri Kopassus dan Detasemen Tempur Cakra.
Selama menjadi prajurit TNI, Maruli dipercaya mengemban sejumlah jabatan strategis.
Ia pernah menjadi Komandan Detasemen Tempur Cakra pada 2002.
Maruli juga pernah menjabat sebagai Komandan Grup A Paspampres selama 2014-2016.
Setahun kemudian, ia ditunjuk menjadi Wakil Komandan Paspampres setelah sempat dimutasi menjadi Komandan Korem 074/Warastratama.
Dari Wadanpaspampres, pada 2018, Maruli dipercaya mengisi jabatan Danpaspampres era Presiden ke-7 RI, Joko Widodo (Jokowi).
Setelahnya, dari Istana ia dimutasi menjadi Pangdam IX/Udayana menggantikan Mayjen Kurnia Dewantara yang memasuki masa pensiun.
Dari Pangdam IX/Udayana, Maruli dimutasi menjadi Panglima Komando Cadangan Strategis TNI AD (Pangkostrad).
Baru pada 29 November 2023, ia dilantik menjadi KSAD menggantikan Jenderal TNI Agus Subiyanto yang terpilih menjadi Panglima TNI.
Dengan dilantiknya Maruli menjadi KSAD, ia pun naik pangkat dari Letnan Jenderal (Letjen) menjadi Jenderal.
Sebagai informasi, Maruli adalah menantu Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan.
Ia merupakan suami dari putri Luhut, Paulina Pandjaitan.
Maruli dan Paulina diketahui memiliki putri aktivis yang dikenal vokal menyuarakan isu-isu penting di Indonesia, meski bertentangan dengan pemerintah.
Nama putri Maruli dan Paulina adalah Faye Simanjuntak.
Berikut ini riwayat karier Maruli:
Komandan Detasemen Tempur Cakra (2002);
Perwira Bantuan Madya Operasi Kopassus (2005-2008);
Komandan Batalyon (Danyon) 21 Grup 2/Sandi Yudha (2008-2009);
Komandan Sekolah Komando Pusdikpassus (2009-2010);
Wakil Komandan Grup 1/Para Komando (2010-2013);
Komandan Grup 2/Sandi Yudha (2013-2014);
Asisten Operasi Danjen Kopassus (2014);
Komandan Grup A Paspampres (2014-2016);
Komandan Korem 074/Warastratama (2016-2017);
Wakil Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Wadanpaspampres) (2017-2018);
Kepala Staf Komando Daerah Militer (Kasdam) IV/Diponegoro (2018);
Komandan Pasukan Pengamanan Presiden (Danpaspampres) (2018-2020);
Panglima Komando Daerah Militer (Pangdam) IX/Udayana (2020-2022);
Pangkostrad (2022-2023);
KSAD (2023-sekarang).
Selain Utang, juga Swadaya
Dalam rakor Satgas Pemulihan Pascabencana DPR RI di Banda Aceh, Selasa (30/12/2025), Jenderal TNI Maruli Simanjuntak membeberkan progres pengerjaan jembatan yang terputus di wilayah terdampak bencana banjir dan longsor Sumatra.
Ia mengatakan pembangunan jembatan darurat tersebut dilakukan menggunakan dana secara swadaya.
Maruli mengaku, hingga saat ini pihaknya belum mengerti sistem keuangan mengenai pembangunan jembatan darurat.
“Memang ini juga perlu disampaikan kepada pimpinan rapat, bahwa sampai dengan saat ini kami belum mengerti sistem keuangannya, Pak.”
“Kita swadaya semua ini,” urai Maruli.
Menurutnya, biaya pembuatan jembatan darurat terbatas.
Maruli mengatakan pihaknya masih mengandalkan dana swadaya untuk menopang operasional di lapangan.
Meski demikian, Maruli memperkirakan biaya pembuatan jembatan akan cukup hingga pertengahan Januari 2026.
“Mungkin sampai pertengahan bulan depan kita masih kuat. Setelah itu ya sudah korek-korek,” katanya.
Lebih lanjut, Maruli menjelaskan ada tiga jenis jembatan darurat yang dibangun.
Tiga jenis itu adalah jembatan Bailey, jembatan Armco, serta jembatan perintis atau jembatan gantung.
Keputusan dibangunnya tiga jenis jembatan itu dilakukan setelah survei lokasi serta kajian.
“Kita harus survei tempat itu, jenis jembatan apa yang tepat. Kami putuskan ada jembatan Bailey, Armco, dan jembatan gantung.”
“Kalau lebih rumit, saran kami itu dikerjakan oleh PU,” tutur Maruli.
Untuk mempercepat pemulihan, pihaknya mengumpulkan seluruh jembatan Bailey dari berbagai daerah di Indonesia, mulai dari Pulau Jawa, Lampung, hingga Kalimantan Timur.
Pengadaan jembatan Armco pun dilakukan secara maksimal dengan memborong produksi pabrik.
Bahkan, menurut Maruli, proses tersebut masih dilakukan dengan sistem utang.
“Kami kumpulkan semua jembatan Bailey se-Pulau Jawa, bahkan dari Kalimantan Timur.”
“Ada yang harus dikirim ke Jakarta dulu, lalu ke lokasi sasaran,” jelas Maruli.
“Untuk Armco sampai pabrik-pabriknya itu kita borong semua Pak, habis. Suruh bikin lagi, habis. Udah tiga tahap kita sudah kerjakan.”
“Itupun ya saya nanti bisik-bisik Bapak aja, Pak, itu masih utang Pak,” pungkasnya.
(Tribunnews.com/Pravitri Retno W/Chaerul Umam)

Tinggalkan Balasan