Setelah 2025 yang menyedihkan

Hampir persis setahun lalu, suporter sepak bola Indonesia dilanda harap-harap cemas.

PSSI disebut-sebut bakal memecat Shin Tae-yong pascakegagalan di Piala AFF.

Bacaan Lainnya

Penggantinya sudah ada. Sudah diwawancarai Erick Thohir, tinggal diumumkan.

Publik sepak bola Indonesia pun segera terbelah. Meski bukan belahan yang simetris; potongan yang geram jauh lebih besar dari yang senang; silang-sengkarut segera melesatkan riuh. Termasuk di televisi.

Satu stasiun televisi swasta, bahkan menggelar acara talkshow nyaris saban hari.

Sejumlah orang yang didapuk sebagai “pengamat” mendapatkan panggung yang lebar dan terbuka untuk mengoceh. 

Walau tidak semuanya punya kompetensi untuk bicara bola, tak pelak, bincang-bincang mereka cukup ampuh untuk menggiring opini publik.

Di lain sisi, kecemasan dan kegeraman publik sepak bola nasional juga beralasan. Walau belum cemerlang-cemerlang amat, di tangan Shin Tae-yong, STY, sepak bola Indonesia sudah naik kelas.

Ini fakta yang tidak dapat (baca: tidak boleh!) dimungkiri. Di era STY, yang direkrut di masa kepemimpinan Mochamad Iriawan atawa Iwan Bule di PSSI, Tim Nasional Garuda tak ciut lagi saat menantang negara-negara maju sepak bola.

Bukan lagi Vietnam atau Thailand. Tim Nasional Indonesia, tak terkecuali suporter-suporternya, bahkan percaya diri saat berhadap-hadapan dengan para raksasa macam Jepang dan Australia.

Keberadaan pemain-pemain diaspora [pemain berdarah Indonesia yang lahir dan besar dan membentuk akar sepak bolanya di luar negeri], tentu saja juga memberi pengaruh signifikan.

Namun perlu digarisbawahi juga bahwa STY, sedikit banyak menjadi faktor yang membuat mereka datang dan bersedia dinaturalisasi, dijadikan Warga Negara Indonesia kembali –setelah kakek dan neneknya, atau ayah dan ibunya, berpindah kewarganegaraan.

Naturalasasi bukan program baru. Sebaliknya, sudah dijalankan jauh sebelum Erick Thohir dan Iwan Bule memimpin PSSI. Di era Nurdin Halid, yang sebutlah menjadi pioner dari program ini, dinaturalisasi dua pemain yakni Cristian Gonzales dan Kim Jeffry Kurniawan.

Selanjutnya terdapat 10 pemain dinaturalisasi saat pucuk pimpinan PSSI dipegang Djohar Arifin, ditambah enam lainnya di masa Edy Rahmayadi. Jadi total, sebelum Iwan Bule sudah ada 18 pemain naturalisasi.

Namun memang, naturalisasi di bawah Iwan Bule dan Erick Thohir tidak dapat disamakan dengan naturalisasi sebelumnya.

Perbedaan terbesarnya adalah grade. Tidak ada lagi pemain grade C dan D. Pemain-pemain yang dinaturalisasi rata-rata memiliki grade B, B+, bahkan A.

Sebutlah Maarten Paes, Mees Hilgers, Emil Audero Mulyadi, Kevin Diks Bakarbessy, Calvin Verdonk, dan Jay Idzes.

Di tangan STY, tim ini sudah terbentuk, tapi belum sepenuhnya padu. Ibarat bikin kue, semua bahan premium sudah dicampur jadi adonan. Namun belum rata. Belum halus. Masih ada butiran tepung dan gula yang belum menyatu dengan telur dan margarin.

Analoginya, adonan sudah 70 persen. Tinggal 30 persen lagi menuju sempurna dan dapat dipindahkan ke dalam loyong lalu dipanggang dalam oven untuk kemudian disajikan.

Dengan kata lain, chef masih on track. Masih berada di jalur yang benar, hingga dalam situasi seperti ini, mengganti chef bukanlah pilihan yang bagus.

Alih-alih menyelesaikan adonan, chef baru justru potensial merusaknya.

Namun kita tahu, yang bikin cemas dan geram inilah yang terjadi. Rumor ternyata tidak meleset.

Pasca-kegagalan STY di Piala AFF, Erick Thohir benar melakukan penjajakan-penjajakan terhadap sejumlah figur pelatih yang diproyeksikannya untuk melatih Tim Nasional Indonesia. Erick pergi ke Eropa, khususnya ke Belanda, bertemu, berbincang, dan mewancarai mereka.

Wawancara puncak, konon, digelar Erick persis pada momentum hari Natal 25 Desember 2024, dan dari sekian kandidat, hanya satu orang yang datang, Patrick Kluivert.

Tiga pekan berselang, di Jakarta, Patrick Kluivert, diperkenalkan secara resmi sebagai pelatih baru pengganti STY.

Publik, tentu saja, terbelah lagi. Kali ini, potongan yang geram lebih besar dari yang sebelumnya.

Boleh dikata, terkait Kluivert, persentase bandingan antara yang geram dan yang senang adalah 90 persen dan 10 persen, kalau tidak lebih sedikit.

Persentase yang senang tergerus lantaran ekspektasi yang terjungkirbalikkan. Kelompok ini, tadinya, menginginkan STY digantikan pelatih yang lebih berkelas.

Bukan pelatih dengan reputasi serba buruk, di dalam maupun di luar lapangan.

Lantas kita juga tahu bagaimana akhirnya. Indonesia lolos dari putaran ketiga, tapi gagal melangkah ke Piala Dunia setelah tidak mendapatkan satu poin pun di putaran empat. Indonesia kalah dari Arab Saudi dan Irak.

Perkara lolos tak lolos ini pada dasarnya bukan isu yang utama. Sejak awal kampanye Piala Dunia 2026, Indonesia tidak sekerat pun menargetkan dapat terbang ke Amerika Serikat, Meksiko, dan Kanada.

Sampai saat laga kualifikasi putaran pertama kontra Brunei Darussalam digelar, piala dunia tetap masih sekadar mimpi.

Erick Thohir pun tak pernah menyinggung 2026. Sejak mengambilalih PSSI, ia mencanangkan program jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek.

Program jangka pendek, tiada lain tiada bukan, adalah melakukan naturalisasi untuk menggenjot secara cepat kualitas Tim Nasional Indonesia, sekaligus membangkitkan semangat publik untuk kembali menonton sepak bola.

Berseiringan ini, program jangka menengah, yakni membenahi kompetisi di semua lapisan, dijalankan bersama-sama program-program jangka panjang: ‘Project 2034: Garuda Membara’ dan ‘Garuda Mendunia 2045’. Erick mencanangkan Indonesia lolos Piala Dunia paling cepat tahun 2034.

Namun kemudian program jangka pendek melejitkan hasil di luar harapan awal. Tim Nasional Indonesia berubah apik, mempertontonkan sepak bola yang berkualitas dan lolos ke putaran kedua, lalu putaran tiga, dan dari hitung-hitungan poin di atas kertas, memungkinkan untuk lolos langsung ke piala dunia.

Lantas pertanyaannya, setelah hitung-hitungan meleset dan publik marah, apakah salah? Tidak juga.

Publik tidak salah untuk marah. Bahkan boleh dikata, pantas dan memang harus marah. Kenapa? Sebab PSSI kembali menunjukkan kegamangan, lalu kembali ke “setelan pabrik”.

Premisnya, jika memang ada program jangka menengah dan jangka panjang, kenapa hasil sementara program jangka pendek disikapi dengan kepanikan? Kenapa takut STY gagal membawa Indonesia ke Piala Dunia 2026 kalau toh targetnya 2034?

Banyak jawaban berseliweran. Termasuk yang dikaitpautkan dengan politik: popularitas dan elektabilitas menuju pemilihan umum 2029. Ada juga yang menduga-duga ke arah konflik internal, Erick Thohir hendak didongkel dari kursinya.

Terlepas dari apapun jawabannya, 2025 telah menjadi tahun yang payah dan berakhir sedih bagi sepak bola Indonesia dan penonton-penontonnya.

Dengan demikian, tentu saja, harapannya 2026 bakal lebih baik. Jangan sampai sebaliknya. Jangan sampai kita justru kembali ke era kegelapan, yang barangkali memang diinginkan oleh orang-orang di potongan yang kecil itu.

(t agus khaidir)

Baca berita TRIBUN MEDAN lainnya di Google News

Ikuti juga informasi lainnya di Facebook, Instagram dan Twitter dan WA Channel

Berita viral lainnya di Tribun Medan

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *