Ringkasan Berita:
- Teddy mengatakan seharusnya mereka yang mempunyai power dan kemampuan bicara tidak semakin memperumit keadaan
- Teddy menyampaikan bahwa sejak hari pertama bencana di Sumatra, pemerintah sudah terjun langsung ke lapangan
- Meski tidak ada penetapan status bencana nasional, penanganan bencana di 3 provinsi Sumatra sudah berskala nasional
– Sekretaris Kabinet (Seskab) Letkol Inf Teddy Indra Wijaya, minta agar pihak-pihak yang mempunyai pengaruh luas bisa dengan bijak bicara terkait bencana banjir dan longsor di 3 provinsi di Sumatra, yakni Aceh, Sumatra Utara (Sumut), dan Sumatra Barat (Sumbar).
Hal itu disampaikan Teddy ketika merespons pandangan pemerintah yang dianggap lambat dalam menangani bencana di Sumatra serta menetapkan status keadaan darurat nasional.
Beberapa masyarakat sebelumnya merasa pemerintah terlambat dalam menangani bencana Sumatra karena kejadian tersebut telah berlangsung lebih dari tiga minggu.
Selain itu, pemerintah dinilai lebih sibuk mengendalikan narasi yang bertentangan dengan realitas di lapangan daripada menyatakan kejadian tersebut sebagai bencana nasional.
Meskipun demikian, berdasarkan data sementara dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), jumlah korban jiwa akibat bencana di Sumatra telah mencapai 1.068 orang per hari Kamis (18/12/2025).
Sementara itu, masih terdapat 190 orang yang hilang dan sekitar 7.000 penduduk mengalami cedera.
Bencana banjir dan tanah longsor tersebut memengaruhi 53 kabupaten/kota, mengakibatkan 147.236 rumah rusak, terdiri dari 44.051 rumah rusak parah, 29.809 rumah rusak sedang, serta 73.376 rumah rusak ringan.
Karena semakin meningkatnya jumlah korban jiwa setiap hari, berbagai pihak meminta pemerintah pusat untuk menetapkan status bencana nasional.
Menanggapi berbagai pernyataan mengenai penanganan pemerintah dan status bencana nasional, Teddy menyatakan bahwa mereka yang memiliki kekuasaan dan kemampuan untuk bersuara seharusnya tidak semakin memperburuk situasi.
“Jika ada di antara saudara-saudara yang diberi oleh Tuhan, memiliki pengaruh baik itu kecil atau besar serta kemampuan untuk berbicara panjang lebar, gunakanlah secara bijaksana, bukan sebaliknya, menyulitkan,” katanya dalam konferensi pers, Jumat (19/12/2025), dilansir dari YouTube.BNPB.
Sampaikan pernyataan dan pertanyaan yang bijaksana. Jangan mengarahkan seolah pemerintah tidak bekerja, atau petugas di lapangan tidak melakukan tugasnya. Di sini semua memerlukan kerja sama, kekompakan, dan semangat positif,” tambahnya.
Teddy juga menegaskan bahwa banyak orang yang telah tiba di lokasi bencana dengan maksud sungguh-sungguh untuk memberikan bantuan.
Beritahu petugas, “Pak, di sana kurang, di sini juga kurang. Mari kita sama-sama, Pak, saya punya ini.” Seperti itu,” katanya.
“Jika niatnya untuk membantu, mari bersama-sama menghibur warga. Timbulkan harapan, buat mereka tertawa, timbulkan senyuman, dan bangkitkan keyakinan. Sekali lagi, marilah kita saling bantu, saling menjaga, saling mendukung, serta sebarkan energi positif,” tegas Teddy.
Pemerintah Langsung Turun Tangan Sejak Hari Pertama Bencana
Teddy juga menyampaikan bahwa sejak hari pertama bencana terjadi di Sumatra, pemerintah langsung turun ke lokasi kejadian.
“Pada tanggal 26 (November 2025), Bapak Kepala BNPB langsung menuju Sumatra Utara. Saat itu beliau berada di Lumajang. Mengapa? Karena kita masih menghadapi bencana, saudara-saudara kita di Lumajang, akibat letusan Semeru,” katanya.
“Nah, di lapangan ini seluruh petugas TNI, Polri, Basarnas, serta BNPB daerah, semuanya langsung bekerja pada detik pertama, hari pertama tanpa adanya kamera,” tegas Teddy.
Teddy juga menyampaikan, sejak hari pertama, Presiden Prabowo Subianto langsung menghubungi Gubernur Sumatra Utara, Bobby Nasution, Bupati Tapanuli Selatan Gus Irawan, Bupati Tapanuli Tengah, Masinton Pasaribu, serta pejabat daerah lainnya guna memantau situasi di wilayah tersebut.
“Kemudian pada hari yang sama, Bapak Presiden memerintahkan Bapak Menko PMK (Pembangunan Manusia dan Kebudayaan) untuk mengoordinasikan seluruh sumber daya guna memobilisasi segala kemampuan yang kita miliki langsung ke sana,” katanya.
Kemudian pada tanggal 27 November 2025, Teddy menyatakan bahwa seluruh helikopter yang berada di Pulau Sumatra segera bertolak ke Padang, Medan, dan Banda Aceh.
“Seluruh helikopter dan pesawat yang berada di Jawa dikirim ke Sumatra. Dari Jawa ke Sumatra, perjalanan helikopter tersebut memakan waktu 13 hingga 15 jam terbang. Pada tanggal 27 (November 2025), beberapa helikopter tiba di Banda Aceh, mengangkut jetset PLN, logistik, dan tidak ada media maupun kamera di lokasi tersebut,” katanya.
Saat itu, menurut Teddy, seluruh kekuatan TNI, Polri, dan masyarakat dikerahkan untuk melakukan evakuasi warga. Setelah itu, pada tanggal 28 November terjadi pelepasan pesawat,
“Kami baru saja mengundang rekan-rekan media. Jadi, semuanya sudah berjuang keras sejak hari pertama, tiba secepat mungkin di lokasi dan hingga saat ini jumlahnya mungkin lebih dari 80 helikopter, pesawat TNI, Polri, Basarnas, polisi, gabungan swasta, didukung oleh Susi Air, serta bantuan rekan-rekan lainnya hingga saat ini, setiap harinya,” ujar Teddy.
“Dan Presiden pada hari kelima atau keenam langsung mengunjungi tiga provinsi tersebut, diikuti oleh Wakil Presiden dan para menteri,” lanjutnya.
Teddy Menjawab Pertanyaan Mengenai Status Bencana Nasional
Selain itu, Teddy juga merespons mengenai pihak-pihak yang hingga kini masih terus mempertanyakan status bencana nasional Sumatra.
Teddy menyampaikan, meskipun belum ada pengumuman status bencana nasional, penanganan bencana di tiga provinsi Sumatra tersebut telah dilakukan dengan skala nasional.
“Masih ada pihak-pihak yang terus-menerus membicarakan status bencana nasional. Jadi begini, bencana ini terjadi di tiga provinsi, ketiganya mengalami dampak, tetapi mungkin dalam 1-2 minggu terakhir, fokus utamanya hanya tertuju ke Aceh,” katanya.
“Pada hari pertama tanggal 26, pemerintah pusat telah melakukan penanganan nasional di tiga provinsi tersebut, dengan langsung menggerakkan sumber daya nasional, mari kita fokus pada intinya. Sudah terdapat lebih dari 50 pasukan di lokasi tersebut, TNI dan Polri, lebih dari 50.000 pasukan yang berada di sana, termasuk TNI, Polri, Basarnas, serta banyak relawan,” katanya.
Teddy menyampaikan, banyak pihak yang menginginkan status bencana nasional ditetapkan karena khawatir terkait anggarannya,
Namun, menurutnya, mengenai anggaran tersebut telah dijawab langsung oleh Presiden Prabowo Subianto, yaitu dengan menggunakan dana pusat secara penuh.
“Sebanyak 60 triliun rupiah telah dicairkan secara bertahap untuk membangun kembali rumah sementara, rumah tinggal tetap, fasilitas umum, gedung DPRD, kecamatan serta seluruh bupati dan wali kota sebanyak 52 orang diberikan uang tunai pada hari itu juga,” katanya.
“Jika ada kebutuhan lain cukup sampaikan, pasti akan diberikan juga dan tentu saja bantuan dari berbagai pihak sudah masuk ke kabupaten tersebut,” tambah Teddy.
Selanjutnya mengenai sarana dan prasarana, Teddy menjelaskan bahwa di lokasi bencana telah dikerahkan berbagai kapal serta helikopter.
Dikatakan bahwa jika bukan bencana nasional, sarana dan prasarana fasilitas tidak tersedia dari pusat. Jawaban juga sudah diberikan di lapangan, lebih dari 100 kapal, pesawat, dan helikopter telah dikirim ke sana. Ada alat berat dari PU (Pekerjaan Umum), mungkin totalnya sekitar 1.000, yang diangkut dari mana pun di Indonesia ke sana,” katanya.
“Kemudian jika tidak ada bencana nasional, pemulihan infrastruktur hanya dilakukan di daerah, semuanya sudah bergerak ke sana, butuh waktu, jadi kita semua seperti itu. Banyak jembatan yang rusak, jalan juga banyak yang putus, secara perlahan diperbaiki. Jembatan sudah langsung terbukti dalam 1 minggu bisa diperbaiki 7 hingga 10. Jadi yang bekerja bukan hanya satu atau dua orang, seluruh warga di sana turut bekerja,” jelas Teddy.
Teddy juga menekankan, dalam kondisi seperti ini, semua pihak perlu saling mendukung dan bekerja sama agar semua masalah dapat diselesaikan dengan baik.
Apakah semua sudah menerima logistik? Apakah tindakan yang dilakukan sudah sempurna? Tentu belum. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama bekerja sama dan saling mendukung. Jika niat membantu, marilah dengan ikhlas dan tulus. Jika Anda pergi ke lokasi yang belum menerima logistik, sampaikan kepada petugas, sampaikan kepada TNI, Polri, Basarnas, BNPB, pasti segera ditangani.
“Apakah Anda bisa menyampaikan kepada bupati, seluruh bupati, kepala daerah, gubernur, bupati, wakil, walikota, wakil, dan para pegawainya, semua di sana dapat dihubungi. Aparatur di sana bekerja semuanya. Jika ada yang kurang, sampaikan saja, pasti secepat mungkin akan diusahakan agar sampai,” katanya.
(/Rifqah)