Hidup di Sekitar TPST Bantargebang, Warga Terbiasa Tapi Bahaya Kesehatan Mengintai

Kehidupan di Sekitar TPST Bantargebang

BEKASI – Riri (38) membuka pintu rumahnya dengan pemandangan yang nyaris tak berubah selama 15 tahun terakhir, yakni truk-truk sampah keluar masuk TPST Bantargebang, debu beterbangan, dan bau yang datang mengikuti arah angin. Di rumah sederhana itu, Riri membesarkan tiga anaknya, dua di antaranya berusia 13 dan 7 tahun, sedangkan yang bungsu belum genap sebulan. Ketiganya lahir dan tumbuh di lingkungan yang berdekatan dengan gunungan sampah terbesar di Indonesia.

“Semua anak saya lahir di sini,” kata Riri saat berbincang. Siang itu, bau sampah tercium samar. Tidak terlalu menyengat. Menurut Riri, kondisi tersebut “enak” dibanding biasanya. “Kalau sekarang enggak begitu. Biasanya nyengat banget. Tapi orang-orang sini ya biasa aja. Udah terbiasa,” ujarnya.

Bau paling menyengat muncul saat hujan atau angin bertiup ke permukiman. Namun bagi Riri dan warga lama, bau tidak sedap bukan gangguan utama. “Yang paling ganggu itu lalat,” katanya. Lalat beterbangan, hinggap di makanan, menjadi bagian dari keseharian. Riri mengaku ada rasa khawatir soal penyakit, tapi kekhawatiran itu perlahan terkikis. “Ya takut sih, tapi gimana. Udah biasa tinggal di sini jadi berani aja,” katanya.

Antara Rasa Kebl dan Risiko yang Tak Terlihat

Riri merasa keluarganya relatif jarang sakit. Anak-anaknya hanya sesekali demam atau kelelahan, bukan penyakit yang ia kaitkan langsung dengan sampah. “Yang kecil paling capek atau kebanyakan lari-lari, panas. Yang gede mah enggak,” ujarnya. Saat pandemi Covid-19, lingkungan tempat tinggalnya nyaris tak terdampak. “Dulu pas Covid-19 malah enggak ada. Jarang banget. Enggak kayak di luar-luar yang katanya pada meninggal,” tutur Riri.

Ia menyebut dirinya dan warga sekitar sudah “kebal” terhadap bau sampah. Sensasi bau terasa kembali saat pulang kampung ke Indramayu, tapi sebentar saja, kemudian terbiasa lagi. Meski begitu, Riri tetap menyimpan harapan sederhana yakni kesehatan. “Harapannya ya sehat terus. Jangan sakit,” ujarnya lirih.

Pendatang yang Menyesuaikan Diri

Kono (40), pedagang makanan yang baru sekitar setahun tinggal di sekitar TPST Bantargebang, punya pengalaman berbeda. Awalnya bau sampah sangat menyengat. “Awal-awal sih kerasa. Baunya tuh nyengat banget,” katanya. Namun adaptasi berlangsung cepat. Dalam hitungan minggu, indra penciumannya menyesuaikan diri. “Seminggu dua minggu juga udah nggak terlalu kecium,” ujarnya.

Kono jarang sakit, flu musiman saat hujan menjadi keluhan paling sering. “Yang parah gara-gara sampah gitu, enggak,” katanya. Sebagai pedagang makanan, Kono menjaga kebersihan sederhana, menutup makanan, menjaga lapak tetap rapi sebagai benteng dari kekhawatiran. “Kalau bau sampah mah bukan virus,” ujarnya.

Bekerja di Tengah Sampah demi Hidup

Surheni (36), warga asal Banten, memilah sampah plastik setiap hari, upahnya sekitar Rp 85.000. Meski jauh dari cukup, ia tetap bersyukur. “Namanya orang susah, ya dicukup-cukupin aja,” kata dia. Ia bekerja dari pagi hingga sore tanpa hari libur. Dua tahun sudah Surheni bergelut dengan sampah, panas, dan bau. “Lama-lama udah biasa,” katanya singkat.

Ia pernah sakit, tapi hanya pusing atau pegal, paling sehari-dua hari. Bagi Surheni, bekerja di TPST bukan soal nyaman, tapi soal bertahan hidup.

Risiko Kesehatan yang Mengintai

Timbunan sampah puluhan meter menghasilkan gas landfill seperti metana, hidrogen sulfida (H2S), dan amonia. “Gas-gas ini dapat menimbulkan gangguan pernapasan dan penyakit kronis, terutama bagi warga dan pekerja yang terpapar terus-menerus,” kata Mahawan. Selain udara, potensi pencemaran air tanah juga serius, terutama saat musim hujan saat lindi meningkat. Fenomena “terbiasa” tidak berarti aman.

Adaptasi indera dan psikologis sering menutupi dampak kesehatan akumulatif. “Yang berbahaya itu ketika risiko menjadi sesuatu yang dinormalisasi,” kata Mahawan. Warga mungkin tidak merasakan sakit hari ini, tapi paparan jangka panjang bisa berdampak bertahun-tahun kemudian.

Ancaman bagi Sopir Truk Sampah

Santo (39), sopir truk pengangkut sampah asal Jakarta Selatan, bekerja sejak 2019. Ia kerap mengantre berjam-jam, hingga belasan jam, untuk membuang muatan. “Masuk jam 9 pagi, pernah saya pulang jam 4 pagi,” katanya. Kurang tidur, kelelahan, dan paparan polutan menjadi bagian pekerjaannya.

Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam menegaskan pola kerja seperti itu berisiko tinggi. “Kurang tidur, dehidrasi, dan paparan polutan dapat menurunkan daya tahan tubuh, meningkatkan risiko infeksi, penyakit paru kronis, hingga stroke,” ujarnya. Paparan gas landfill dalam jangka panjang juga bisa memicu gangguan paru obstruktif kronis, terutama jika tanpa masker.

Bagi Riri, Kono, Surheni, dan Santo, TPST Bantargebang bukan sekadar tempat pembuangan sampah, tetapi ruang hidup, tempat bekerja, sekaligus sumber risiko yang sering tak mereka sadari sepenuhnya.

Pos terkait