Oleh: Ahmad Rofiq*)
Alhamdulillah wa syukru lillahSegala puji kepada Allah yang telah memberikan nikmat dan anugerah-Nya kepada kita.
Hari ini kita merayakan kedatangan bulan Allah, yaitu bulan Rajab yang dinantikan, karena di dalamnya terdapat peristiwa penting bernama Isra’ dan Mi’raj yang bersejarah.
Rasulullah saw diberi tugas suci untuk melaksanakan shalat lima waktu, yang merupakan pilar atau rukun Islam yang kedua, siapa saja yang menjalankannya berarti memperkuat agama, dan siapa saja yang meninggalkannya berarti merusak agama.
Maknanya, nilai-nilai agama tidak lagi berperan sebagai pedoman dalam tindakan dan perilaku sehari-hari.
Semoga Tuhan membuka hati dan pikiran kita, serta memberi kita keberkahan melalui perbuatan baik dan menjalankan shalat secara konsisten, baik dalam ibadah ritual maupun sosial sebagai hasil dari makna shalat yang kita lakukan.
Ibadah shalat menjadi ukuran dari kesungguhan beribadah, jika shalat dilaksanakan dengan benar, maka bentuk-bentuk ibadah lainnya akan secara alami juga terjalin dengan baik. Demikian pula makna shalat akan tampak jelas dalam kehidupan sehari-hari secara nyata.
Salam dan shalawat, marilah kita memuji kepada Nabi Muhammad saw, para sahabat, serta pengikutnya. Semoga berkah datang mengalir kepada kita, dan kita mendapatkan kebaikan dalam hari-hari yang akan kita jalani.
Marilah kita menjaga anugerah iman dan agama Islam, serta berusaha meningkatkan ketakwaan kita kepada Allah, karena hanya inilah bekal satu-satunya yang kita miliki saat menghadap Allah SWT.
Di awal khutbah, saya menyampaikan firman Allah dalam QS. Al-Isra’ (1) yang artinya: “Maha suci Dia yang mengangkat hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang Kami beri berkah di sekitarnya, agar Kami menunjukkan kebesaran tanda-tanda Kami kepadanya, dan sesungguhnya Dia (Allah) Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.
Rajab adalah bulan Tuhan, Sya’ban adalah bulanku, dan Ramadhan adalah bulan umatku. Demikianlah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW. Oleh karena itu, kita diwajibkan untuk melakukan perbuatan baik sebanyak mungkin, serta tidak boleh menyakiti orang lain, karena hal tersebut sama artinya dengan berlaku dzalim terhadap diri sendiri.
Artinya janganlah kalian menyakiti diri sendiri dengan melakukan tindakan yang dilarang, misalnya merusak kehormatan bulan tersebut dengan mengadakan perang dan atau tindakan terlarang lainnya.
Rasulullah saw bersabda: “Aku melihat pada malam mi’raj, sebuah sungai yang airnya lebih manis daripada madu, lebih dingin daripada salju, dan lebih harum daripada minyak misik. Maka aku bertanya kepada malaikat Jibril, ‘Wahai Jibril, untuk siapa semua ini?’ Jibril menjawab, ‘Itu (sungai tersebut) disediakan bagi orang yang mengirimkan shalawat kepadamu di bulan Rajab.’ Setelah itu Rasulullah saw bersabda, ‘Kembalilah kepada Tuhanmu, mohonlah ampunan atas segala dosa-dosamu, dan hindarilah perbuatan maksiat di bulan haram, yaitu bulan Rajab.’ (al-Khaubawy, tt:86)
Dalam riwayat Anas bin Malik, disebutkan bahwa dia bertemu dengan Mu’adz dan bertanya darimana ia datang. Ia menjawab, “Aku berasal dari Rasulullah saw, dan aku mendengar dari beliau saw: ‘Siapa saja yang mengucapkan ‘tidak ada Tuhan selain Allah’ dengan tulus ikhlas, maka akan masuk surga. Dan siapa yang berpuasa satu hari di bulan Rajab dengan berharap mendapatkan keridhaan Allah, maka akan masuk surga.’ Setelah itu, aku pergi menemui Rasulullah saw dan bertanya kepadanya, ‘Wahai Rasulullah saw, Mu’adz menceritakan hal demikian,’ lalu beliau bersabda, ‘Mu’adz benar’ (Zahrah al-Riyadl).
Rasulullah SAW juga mengatakan: “Sesungguhnya bulan Rajab adalah bulan Allah SWT, bulan Sya’ban adalah bulanku, dan bulan Ramadhan adalah bulan umatku. Siapa saja yang berpuasa satu hari saja di bulan Rajab, maka ia akan memperoleh kecintaan Allah yang sangat besar dan dijauhkan dari murka-Nya, oleh karena itu tingkatkanlah memohon ampunan melalui istighfar kepada Allah SWT.”
Di tengah kondisi di mana banyak saudara-saudara kita mengalami kebingungan dalam menjalani kehidupan, di mana banyak pula yang terjebak dalam gaya hidup hedonis, pragmatis, dan cenderung “menghalalkan” segala cara untuk meraih kekayaan. Apakah melalui tindakan korupsi, manipulasi, atau metode lain yang merugikan orang lain atau institusi tertentu.
Meskipun sebenarnya, hati kecil kita secara jelas memahami bahwa tindakan yang salah yang kita lakukan selalu ditolak oleh hati kecil atau nurani kita. Lebih menakutkan lagi, terdapat fenomena sebagian pejabat kita yang kehilangan kepekaan nurani mereka, di tengah kesulitan saudara-saudara kita yang terkena banjir bandang dan bencana besar di tiga provinsi Aceh, Sumut, dan Sumbar.Astaghfirullah al-‘Adhim.
Oleh karena itu, marilah kita berupaya seoptimal mungkin dalam mengisi bulan Rajab dengan berbagai aktivitas yang bermanfaat, kita bentuk suasana yang nyaman, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun di mana pun kita berada, karena dengan begitu, hati dan pikiran kita akan terbuka serta mengingat segala kesalahan yang pernah kita lakukan.
Kita saling memaafkan kesalahan yang telah kita lakukan. Karena, sebagai manusia, sulit untuk terhindar dari kesalahan, meskipun sudah berusaha keras agar tidak melakukan hal itu. Marilah kita sisihkan sebagian rezeki yang Allah berikan kepada kita, untuk membantu saudara-saudara kita, agar meskipun sedikit apa yang bisa kita lakukan, setidaknya kita masih mampu dengan penuh kerendahan hati, di hadapan Allah Yang Memberi rezeki.
“Ya Allah, berikanlah berkah kepada kami (keluarga kami) di bulan Rajab, berilah kami kesempatan untuk tiba pada bulan Sya’ban, serta berikan juga kesempatan bagi kami untuk sampai dan bertemu dengan bulan Ramadhan, serta masukkanlah kami melalui kebaikan dan kasih sayang-Mu, ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang baik dan beruntung.”
Semoga Allah SWT memberikan kita kekuatan, kesehatan, dan kesabaran, dalam menyambut datangnya Bulan Rajab, mengisi serta memperindah hidup kita dengan meningkatkan ibadah sunnah, bersyukur dapat menjalankan ibadah puasa, untuk mengisi makna kehidupan dan identitas diri kita. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” lalu mereka tetap teguh dalam keyakinan mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka sambil berkata: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih; dan berilah mereka kabar gembira dengan surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian.”Fushshilat: 30).***
Allah a’lam bi sh-shawab. *) Prof. Dr. H. Ahmad Rofiq, MA., Ketua Wilayah Dewan Masjid Indonesia (PW-DMI) Jawa Tengah, Wakil Ketua Harian Badan Kesejahteraan Masjid (BKM) Pusat, Ketua Bidang Pendidikan DP Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Ketua II Yayasan Pusat Kajian dan Pengembangan Islam (YPKPI) Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Guru Besar UIN Walisongo Semarang, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina Finansia Semarang, serta Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang.







