Isi Artikel
KABAR SLEMAN – Jogja itu selalu dikenal dengan suasananya yang tenang dan nyeni. Tapi sebenarnya ada satu cara lain untuk mengenal kota ini: merasakannya lewat kuliner. Dari jajanan tradisional sampai menu modern, Jogja punya cerita rasa yang bikin siapa pun ingin kembali.
Cobain deh menantang waktu: satu hari penuh berburu makanan, mulai subuh sampai lewat tengah malam. Hasilnya? lidah terpuaskan, hati terharu.
06.30 – 09.00 WIB | Ritual Pagi di Lupis Mbah Satinem
Perjalanan dimulai saat matahari baru terbit. Antrean mulai terbentuk, sebagian besar warga lokal yang sudah hafal betapa cepatnya lupis legendaris ini habis.
Alamat: Jl. Bumijo No. 52–40 Kota Yogyakarta
Lupis Mbah Satinem bukan sekadar jajanan pasar. Tangan renta sang penjual mengaduk nostalgia sejak tahun 1963. Selama lebih dari setengah abad, resep tradisional ini dijaga ketat. Prosesnya dimulai sebelum fajar, saat sebagian besar orang masih terlelap.
Puja, warga Jogja bilang, “Lupis ini tuh otentik banget karena masih mbah-mbah yang jualan. Ini makanan legend yang selalu dikenalin ke orang luar. Pokoknya wajib coba.”
Lupis disiram gula merah kental, ditabur kelapa parut, menyisakan rasa manis yang pas, gurih lembut, dan tekstur yang tidak terlalu padat. Setelah menyantapnya, barulah terasa kenapa orang rela antre panjang demi sepiring lupis.
Karena sudah antre sejak pagi, kamu bisa sekalian menikmati sarapan gudeg yang berada tepat di sebelah Lupis Mbah Satinem. Menu uniknya: gudeg + bubur. Rasa manis gurihnya berpadu sempurna. Di sela makan, kami mencoba onde-onde yang dijual dekat sana. Harganya Rp3.000 saja, tapi rasanya bikin nostalgia.
12.00 WIB | Legenda Ayam Goreng Tojoyo
Siang menjelang, kami menuju rumah makan yang sudah ada sejak 1951: Ayam Goreng & Jeroan Sapi Tojoyo 3.
Alamat: Jl. Urip Sumoharjo No.144 Kota Yogyakarta
Berawal dari gerobak sederhana, resep rahasia turun-temurun menghasilkan ayam renyah di luar namun tetap juicy di dalam. Harganya terjangkau, mulai Rp17.000. Satu porsi saja cukup membuat kamu paham kenapa tempat ini masih eksis lebih dari 70 tahun.
14.00 WIB | Tempo Gelato, Pendingin Panas Jogja
Panas Jogja tak terhindarkan. Kamu butuh yang segar dan ringan. Tempo Gelato bisa jadi tujuan.
Alamat: Jl. Wirogunan No.133 Kota Yogyakarta
Sejak berdiri tahun 2015, puluhan varian rasa langsung viral. Dari salted caramel sampai kemangi, semua dibuat dari bahan berkualitas dan tekstur creamy. Bukan sekadar gelato, tapi pengalaman rasa yang membuat antrean tak pernah sepi.
20.00 WIB | Pasar Kranggan dan Kopi Butter
Saat malam turun, kota ini berubah. Pasar Kranggan yang pagi harinya ramai oleh pedagang bahan pokok, berubah jadi surga kuliner di lantai dua.
Kami mencoba makan malam ringan di Kedai Terang Bintang. Menu unik memadukan makanan Tionghoa, Jepang, dan Melayu. Ada udon xilau Rp25.000, udon cheese burger Rp30.000, dan kopi butter Rp15.000.
23.00 – 01.00 WIB | Gudeg Mercon Bu Tinah
Aroma pedas mengundang dari Jl. Asem Code No.8 Kota Yogyakarta. Warung sederhana ini buka sejak 1992 dan tetap penuh antrean. Harga mulai Rp15.000 – Rp20.000.
Rasa pedasnya bukan main, bikin keringat mengalir, tapi tetap membuat pelanggan kembali.
“Worth to try. Antreannya panjang, tapi sesuai namanya: mercon!” ujar salah satu pengunjung.
01.30 WIB | Penutup Hangat di Angkringan Kopi Jos Pak Agus
Perjalanan rasa ditutup di angkringan dekat Stasiun Tugu. Udara malam, kopi jos panas dengan arang membara, jadi penutup sempurna.
Akhirnya perjalanan 24 jam ini membuktikan satu hal: Jogja tak hanya punya nostalgia dan budaya, tapi juga rasa yang bikin rindu. Setiap gigitan punya cerita, setiap tegukan punya kenangan. Jika kamu kembali ke Jogja, biarkan lidahmu memulai perjalanan yang sama.***







