Isi Artikel
Ringkasan Berita:
- Sebulan setelah banjir bandang dan longsor di Kecamatan Ketol, Aceh Tengah, warga masih menderita karena akses jalan dan jembatan utama rusak total.
- Ribuan warga dari Kampung Bergang, Karang Ampar, dan Pantan Reuduek terpaksa menyeberangi sungai menggunakan kabel listrik dan bambu sepanjang 50 meter dengan arus deras dan ketinggian 10 meter.
- Wakil Bupati Aceh Tengah, Muchsin Hasan, meninjau lokasi dan menegaskan kebutuhan utama warga adalah akses jalan.
Laporan Bustami Wartawan Tribun Gayo I Aceh Tengah
, TAKENGON – Sebulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor melanda, penderitaan warga di Kecamatan Ketol, Kabupaten Aceh Tengah, Provinsi Aceh, belum benar-benar usai.
Hingga hari ini, Minggu (28/12/2025), ribuan warga dari tiga kampung di Kecamatan Ketol, masih terpaksa harus bertaruh nyawa menyebrangi sungai dengan menggunakan sisa-sisa kabel listrik dan beberapa batang bambu sebagai penyangga.
Jembatan Putus, Akses Utama Lumpuh Total
Rusaknya jembatan dan jalan utama yang menjadi satu-satunya akses penghubung antar kampung membuat mobilitas warga lumpuh total.
Tanpa adanya jembatan darurat yang layak seperti jembatan gantung, maut sepanjang kurang lebih 50 meter ini menjadi pilihan terakhir bagi warga dari Kampung Bergang, Karang Ampar dan Kampung Pantan Reuduek atau Peuteng Kecamatan Ketol, Aceh Tengah.
Bertaruh nyawa, demi membeli kebutuhan pokok atau sekadar mengangkut hasil pertanian menjadi pemandangan memilukan setiap hari, hampir lebih dari sebulan terakhir.
Pantauan wartawan dilokasi, ibu-ibu hingga para remaja dengan wajah yang lesu mengikat barang di punggung lalu perlahan berjalan diatas kabel dan bambu sebagai penyangga.
Jembatan darurat tersebut bukan tanpa ada resiko, sedikit saja lengah nyawa bisa melayang, arusnya deras, lebarnya kurang lebih 50 meter dan tinggi jembatan kurang lebih 10 meter.
Meski dihatui rasa takut, tapi masyarakat disana tetap nekat melintasi dengan penuh harapan agar bisa bertahan hidup.
Warga sangat berharap pemerintah dapat segera membangun akses jembatan layak agar aktivitas ekonomi berjalan tanpa harus mempertaruhkan nyawa disetiap harinya.
Harapan Warga: Jembatan Layak Segera Dibangun
Seorang ibu paruh baya, Latifah Nyakcut, usai menyebrangi sungai mengaku rasa takut sudah pasti, namun terpaksa harus berjalan karena demi mencari kebutuhan pokok.
Ia tak menapik jika bantuan dari pemerintah memang sudah tiba di tempatnya, tapi jumlah yang diberikan jauh dari kata cukup demi menghidupkan keluarganya.
“Rasa takut pasti, tapi mau gimana nak kebutuhan didapur kan tetap harus berjalan, bantuan ada, tapi gak cukup, terpaksa kami menyebrang ke reronga (Bener Meriah) untuk berbelanja,” ujar warga asal Pantan Reuduek itu.
Tak banyak harapan yang dititipkan untuk pemerintah, Latifah sambil berlinang air mata hanya berharap jembatan layak agar segera dibangun.
Supaya masyarakat lebih mudah berbelanja dan dapat mengangkut hasil pertanian tanpa harus bertaruh nyawa.
“Satu aja harapan kami, jembatan yang layak secepatnya dibangun, banyak hasil kebun didalam tak bisa diangkut, kalau ada jembatan dengan hasil kebun, kami cukup memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari,” paparnya.
Dilokasi, selain jembatan darurat dari kabel listrik dan bambu, ada juga beberapa gantungan kabel atau sling yang juga bisa diseberangi warga.
Lokasi penyebrangan ini berada wilayah Kampung Simpang Rahmat, Kecamatan Gajah Putih, Kabupaten Bener Meriah, jalur ini merupakan jalur vital antar kampung dan penghubung antar Kabupaten Bener Meriah dan Aceh Tengah.
Wabup Aceh Tengah Tinjau Langsung Lokasi Bencana
Pada Rabu (24/12/2025) lalu, Wakil Bupati (Wabup) Aceh Tengah, Muchsin Hasan, telah berkunjung dan berjumpa dengan warganya di kampung tersebut yang terdampak banjir bandang dan tanah longsor.
Muchsin mengatakan menuju kesana memang harus ekstra berhati-hati serta harus menyebrangi Daerah Aliran Sungai (DAS) Peusangan menggunakan kabel sling.
Namun demikian, tetap dilakukan demi bisa berjumpa dengan para warga sekaligus mendengar keluhan dan melihat aktivitas disana.
“Setelah berdiskusi, jadi hal dasar yang dibutuhkan masyarakat adalah akses jalan, agar aktivitas ekonomi dan kebutuhan pokok dapat mereka upayakan sendiri,” kata Wabup.
Lantas tindak lanjut terkait akses jalan, kata Muchsin jembatan Bergang di DAS Peusangan itu telah direncanakan dalam rapat koordinasi bersama Bupati Aceh Tengah, Haili Yoga.
Kemudian Sekretaris Daerah (Sekda) Ir Mursyid MSi, Kalaksa BPBD Andalika ST, dan Plt Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Pijas Visara ST.
Sementara hasil rapat tersebut terdapat dua opsi, diantaranya membangun kembali jembatan menggunakan sisa besi-besi yang ada atau membuat jembatan ayun dari tali seling bantuan Kapolri yang berada di lokasi.
Terpenting, Muchsin Hasan berpesan kepada masyarakat tetap waspada terhadap resiko bencana, mengingat cuaca musim penghujan belum berhenti.
“Paling penting adalah terus kompak dan sinergi antara pemerintah, masyarakat, TNI dan Polri,” pungkasnya. (*)
