SDN 2 Sagulung Batam Berduka, Wali Kelas Kenang Momen Terakhir Fauzan dengan Rambut Baru

Peristiwa Duka di SDN 2 Sagulung Batam

Sekolah Dasar Negeri (SDN) 2 Sagulung Batam kini terasa berbeda. Salah satu bangku di ruang kelas II C, kini dibiarkan kosong. Bangku itu milik Soleh Fauzan (8 tahun), seorang murid yang dikenal ceria dan mudah bergaul. Kepergian Fauzan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, guru, dan teman-temannya.

Fauzan meninggal dunia setelah tenggelam di kolam bekas galian proyek PT Tembesi Indah Makmur di kawasan Tembesi Raya, Kelurahan Kibing, Kecamatan Batuaji, Kota Batam, Provinsi Kepulauan Riau (Kepri). Insiden tersebut terjadi pada Minggu, (14/12/2025) pagi, saat ia sedang berenang bersama teman-temannya. Tubuhnya sempat dilarikan ke rumah sakit, namun nyawanya tidak tertolong.

Kenangan yang Tak Terlupakan

Kepergian Fauzan meninggalkan kesan mendalam di benak guru dan teman-temannya. Wali kelas II C, Reni, masih mengingat momen terakhir Fauzan datang ke sekolah. Pada hari terakhir ujian akhir semester (UAS), Fauzan tampil dengan wajah ceria dan rambut baru yang dipotong. Ia membanggakan dirinya kepada guru, dengan senyum yang menghiasi wajahnya.

“Saya masih ingat betul, Sabtu itu ujian terakhir dia datang, pamerin ke saya, dan bilang, ‘Bu, saya sudah potong rambut’,” kenang Reni dengan suara bergetar.

Reni menyebut bahwa Fauzan terlihat berbeda dari biasanya. Ia tampak bersih dan cerah. Meski begitu, beberapa hari sebelum insiden, Reni merasa ada sesuatu yang berbeda. Fauzan terlihat melamun selama beberapa waktu.

“Mungkin ini cuma perasaan saya saja, tapi beberapa hari sebelum dia nggak ada, saya lihat anak ini melamun,” ujarnya.

Namun, Fauzan tetap menjadi murid yang aktif dan mudah bergaul. Ia dikenal sebagai sosok yang ramah, penolong, serta patuh terhadap arahan guru. Di mata Reni, Fauzan memiliki jiwa sosial yang tinggi. Ia sering membantu teman-temannya, terutama ketika mereka lupa membawa alat tulis.

Perubahan di Sekolah

Setelah kepergian Fauzan, suasana kelas terasa berubah drastis. Reni menyebut bahwa keceriaan anak-anak seperti ikut menghilang. Biasanya, saat jam istirahat atau class meeting, anak-anak langsung berhamburan keluar. Kini, suasana justru terasa sunyi.

“Biasanya ibu tinggal sebentar ambil buku ke kantor, mereka sudah keluar semua. Ini beda,” tutur Reni.

Yang paling terpukul, kata Reni, adalah Yuda, teman dekat Fauzan. Ia melihat perubahan jelas pada bocah tersebut. “Tadi saya tanya, kenapa nggak main di luar. Dia kelihatan murung. Bahkan cuma duduk saja di bangkunya,” katanya.

Saat ditanya lebih jauh, Yuda justru menangis. Ia mengaku rindu sahabatnya. “Katanya kangen sama Fauzan. Saat itulah nggak kuat saya dengarnya,” tambah Reni dengan suara bergetar.

Doa dan Harapan

Reni kini terus mengingatkan anak-anak untuk mendoakan almarhum. Ia berharap murid-muridnya perlahan bisa menerima kehilangan tersebut.

“Namanya kehilangan, pasti ada. Saya selalu ingatkan anak-anak untuk mendoakan temannya, almarhum Fauzan,” ujar Reni.

Di dalam kelas, doa dan bacaan Al Fatihah sempat dipanjatkan bersama. Bangku kosong di baris kedua menjadi saksi kehilangan itu. Fauzan meninggalkan kenangan yang tak akan pernah terlupakan.


Pos terkait